Mobil Plug-in Hybrid: Mahal, tapi Bisa Berguna Pasca-Bencana

Seorang model memperlihatkan mobil hibrida, Mitsubishi Outlander PHEV (plug-in Hybrid Electric Vehicle) saat diluncurkan di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) ke- 27 tahun 2019 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (18/7/2019). ANTARA FOTO/zarqoni maksum/wsj.
Oleh: Dio Dananjaya - 7 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Beragam kendaraan elektrifikasi muncul di pasaran, mana yang lebih cocok dengan kondisi di Indonesia?
Mobil listrik kerap diragukan ketangguhannya dalam keseharian. Jarak tempuh yang relatif terbatas hingga bodi yang mungil kerap jadi alasan utamanya. Namun, mobil-mobil jenis tersebut ternyata dapat memberikan kontribusi tersendiri di kala pemulihan situasi bencana dan dapat bersaing dengan mobil-mobil 'garang' seperti Hummer maupun Jeep.

Seperti dilansir New York Times, situasi pemulihan gempa di Sendai, sekitar 250 mil timur laut Tokyo, yang masih dalam keadaan darurat membuat Presiden Mitsubishi Motors Osamu Masuko menawarkan lusinan mobil listrik i-MiEV ke kota-kota yang terdampak bencana.

Terlepas dari citra yang cocok dipakai di perkotaan, seperti mengantar anak dan belanja ke mal, nyatanya mobil listrik berguna saat keadaan yang gawat. Bukan karena kemampuan khusus untuk mencakar jalan saat melewati tumpukan puing, tetapi karena mereka dapat menjadi sumber energi. Bantuan ini sangat penting karena mobil-mobil itu dapat memulihkan energi listrik, termasuk ke Prefektur Miyagi, Fukushima, dan Iwate.

"Hampir tidak ada BBM pada saat itu, jadi saya sangat berterima kasih ketika mendengar tawaran tersebut. Jika kami belum menerima mobil itu, akan sangat sulit untuk melakukan apa yang kami butuhkan," ujar Tetsuo Ishii, kepala Divisi Departemen Lingkungan Sendai. Sebagai catatan, Ishii mendapat empat mobil listrik Nissan Leaf.


Menurutnya, usai dipakai seharian, sebagian besar mobil kembali setiap malam ke balai kota untuk diisi ulang di sumber daya 200 volt. Outlet 100 volt standar juga dapat digunakan, tapi pengisian daya perlu waktu lebih dari 12 jam. Di samping itu, tersedia juga stasiun pengisian cepat yang dapat mengisi ulang baterai hingga 80 persen dari total kapasitas hanya dalam 30 menit.

Selain itu, dengan ukuran yang ringkas dan ringan, mobil listrik ternyata bisa sangat kompeten dengan berbagai kondisi serta punya kemampuan yang dapat diandalkan. Mobil-mobil listrik ini memang tak dapat membantu tugas-tugas seperti mengangkut bahan bangunan atau menderek kendaraan yang rusak. Namun, mereka mampu mengangkut pasokan bantuan ke pusat-pusat pengungsi, sekolah, dan rumah sakit hingga menjemput dokter, pekerja, dan sukarelawan yang ingin menuju ke lokasi bencana.

Masuko-san yang awalnya skeptis pada mobil bantuannya, amat terkesan sehabis melihat langsung di lapangan. "Saya merasa kendaraan listrik pada awalnya tidak dapat diandalkan, tetapi sekarang kendaraan-kendaraan tersebut diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, terangnya, masih dari New York Times.

Lebih Cocok Mana?

Penggunaan mobil listrik secara masif memang masih perlu kajian mendalam di Indonesia yang sering mengalami pemadaman listrik, khususnya perihal infrastruktur pengisian dayanya, jumlah stasiun pengisian, hingga kapasitas maksimal per hari. Sejumlah hal tersebut penting sebagai jaminan agar suplai listrik kepada mobil-mobil tersebut tak 'mengganggu' dan berpotensi menyebabkan pemadaman listrik besar-besaran.

Terlepas dari hal tersebut, peluang mobil listrik yang cukup beragam tersebut sepertinya dibaca Mitsubishi yang secara resmi telah menjual mobil plug-in hybrid electric vehicle atau PHEV melalui Outlander PHEV lewat ajang GIIAS 2019. Berbeda dengan pabrikan lain yang meluncurkan model hybrid yang memang tidak butuh pengisian baterai dengan daya listrik, mesin PHEV dapat diisi ulang dengan daya listrik, ataupun bensin seperti mobil pada umumnya.

Menariknya lagi, Outlander PHEV dapat berfungsi sebagai cadangan tenaga listrik 1.500 watt jika terjadi pemadaman. Dalam peluncurannya awal Juli lalu di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia Naoya Nakamura mengatakan kendaraan ini dapat dipakai sebagai sumber energi listrik di rumah, lokasi evakuasi, maupun kegiatan rekreasi outdoor selama 10 hari dengan tangki bahan bakar penuh.


Untuk diketahui, Outlander PHEV menggunakan paduan antara mesin bensin 2.400 cc, motor listrik, dan baterai. Dalam kondisi baterai terisi penuh, mobil ini sanggup melaju hingga 55 km. Sementara jika dipakai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, daya listriknya dapat dipakai hingga seharian penuh atau sekitar 24 jam.

"Sejak tahun lalu kami telah melakukan uji coba bersama Kementerian Perindustrian, hasilnya mereka sangat menyukai mobil ini. Apalagi Indonesia masih dalam tahap pengembangan infrastruktur, dan hal itu turut jadi alasan Mitsubishi memperkenalkan model ini," jelasnya.

Satu-satunya hal mengganjal dari Outlander PHEV ialah belum tersedianya fasilitas Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU), sebab saat ini konsumen hanya dapat mengandalkan daya listrik di rumah atau mengisinya dengan bensin di SPBU. Walau demikian, Mitsubishi mengatakan bakal mempersiapkan infrastruktur pengisian daya di beberapa diler.

"Kami juga akan membangun infrastruktur EV (electric vehicle) di Indonesia. Untuk tahap pertama, Jakarta dan Bali akan jadi prioritas serta sempat yang cocok untuk mempromosikan mobil ini," tambah Nakamura.



Di sisi lain, sebagai pemimpin pasar mobil di Indonesia, Toyota sebetulnya juga telah memiliki teknologi vehicle to home atau kemampuan sumber daya listrik untuk keperluan rumah tangga, khususnya pada mobil-mobil plug-in hybrid atau EV-nya di Jepang. Namun, untuk saat ini, Toyota menyebut model hybrid masih jadi kendaraan ramah lingkungan yang lebih cocok dengan kondisi Indonesia.

"Untuk tahun ini kami masih fokus di hybrid dulu, karena boleh dibilang hybrid itu bisa dijual, diservis, dan diperkenalkan ke konsumen lebih cepat dan lebih mudah," kata Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor Anton Jimmi Suwandy, masih di GIIAS 2019.

Toyota sendiri menyebutkan telah menjual sekitar 2.000 unit mobil hybrid sejak 2009. Salah satu faktor yang membuat Toyota lebih dulu fokus untuk memasarkan kendaraan hybrid ketimbang plug-in hybrid ataupun EV adalah soal harga jual.

Anton mengatakan, komponen baterai jadi spare part paling mahal yang harganya. Hal ini pula yang menyebabkan model hybrid dibanderol lebih mahal dari model reguler-nya. Toyota C-HR, misalnya, dihargai sekitar Rp493 jutaan, sementara versi hybrid-nya lebih mahal Rp30 jutaan.

Mitsubishi, sementara itu, membanderol Outlander PHEV seharga Rp1,289 miliar on the road wilayah DKI Jakarta. Model ini jadi salah satu hybrid termahal di Indonesia untuk saat ini. Pesaing terdekat dari segi harga adalah Toyota Alphard Hybrid yang dipatok di kisaran Rp1,42 miliar.

Menurut Nakamura, selain faktor komponen, faktor pajak biaya impor turut membuat harga mobil ini melambung tinggi. "Selain biaya impor, juga karena pajak barang mewah. Karena Outlander PHEV itu murni SUV dengan penggerak 4WD, jadi harganya sangat mahal," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait MOBIL HYBRID atau tulisan menarik lainnya Dio Dananjaya
(tirto.id - Otomotif)

Penulis: Dio Dananjaya
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight