12 Mei 1998

Misteri Penembakan Mahasiswa Trisakti 12 Mei 1998

Ilustrasi Tragedi Trisakti (12 Mei 1998). tirto.id/Sabit
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 12 Mei 2018
Dibaca Normal 4 menit
Duka menghempas.
Suara telah pungkas
di ujung laras.
Malam itu, 12 Mei 1998, tepat hari ini dua puluh tahun lalu, koresponden luar negeri The Times (London) Richard Lloyd Parry baru saja bangun tidur dan hendak menulis reportase. Seharian ia meliput demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti yang berjalan cukup tertib. Ia kaget membaca beberapa berita yang berseliweran di internet soal demonstrasi siang itu.

Saat pulang ke hotel menjelang petang, semua baik-baik saja. Mahasiswa dan polisi sama-sama balik kanan. Tetapi, berita yang ia baca menyebut dalam beberapa jam terakhir polisi melepas tembakan ke arah mahasiswa di kampus Trisakti. Koleganya dari Reuters yang ia hubungi membenarkan berita itu.

Tak ambil sela, Parry bergegas menuju Rumah Sakit Sumber Waras di mana para korban penembakan dirawat. Rumah sakit yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari kampus Trisakti itu dipenuhi mahasiswa. Suasana begitu muram. Beberapa mahasiswa berkerumun, membicarakan sesuatu dengan suara pelan. Beberapa mahasiswa tampak terluka akibat bentrok dengan polisi. Lainnya terlihat menangisi sesuatu.

“Reporter berkerumun di sekeliling seorang perempuan, saat dia membacakan daftar empat nama, seluruhnya pria, mahasiswa Trisakti yang tertembak mati dua jam yang lalu: Hendriawan, Hafidin Royan, Hery Hartanto, Elang Mulya Lesmana,” tulis Parry dalam bukunya, Zaman Edan: Indonesia di Ambang Kekacauan (2008: 196-197).

Di sebuah ruang khusus, ia menyaksikan jasad keempat mahasiswa itu. Ia sempat mengabadikan foto Hery dan Hendrawan sebelum diminta keluar ruangan. Di koridor rumah sakit Parry bertemu seorang diplomat luar negeri yang ia kenal dan kemudian mereka terlibat pembicaraan.

Si diplomat menunjukkan dua selongsong peluru kepada Parry. Satu peluru karet berujung tumpul yang biasa digunakan aparat membubarkan demonstrasi. Satu lagi peluru tampak berbeda, mulut selongsongnya agak bergerigi.

Dalam bukunya, Parry mencatat kata-kata si diplomat kepadanya, “Yang satu kosong—yang satu peluru tajam. Ini bukti. Mereka menembakkan peluru tajam” (hlm. 198).

Kronologi Peristiwa

Demonstrasi dan aksi keprihatinan mahasiswa telah merebak di Jakarta dan beberapa kota di Indonesia sejak Maret 1998. Tak jarang pula aksi-aksi mahasiswa itu berujung ricuh. Sepanjang April eskalasinya kian naik diikuti beberapa kasus penculikan aktivis.

Namun, sampai saat itu nama Universitas Trisakti adalah minor. Hampir tak ada berita di media-media besar ibu kota yang memperhatikan aksi mahasiswa Trisakti. Bisa jadi mahasiswa Trisakti ikut pula dalam demonstrasi gabungan, tapi sejauh ini mereka tak dikenal.


Ini agaknya soal stereotipe juga. Trisakti adalah universitas swasta yang lekat dengan citra mahal, kampusnya anak orang berpunya. Tak ada yang mengasosiasikannya sebagai kampus aktivis laiknya UI, UGM, atau ITB.

“Hampir tak ada yang memandang mereka sebagai hero dan martir. Universitas Trisakti adalah tempat bagi para model yang suka bergaya. Tapi, tak ada yang lebih gaya di Indonesia pada masa itu selain protes,” tulis Parry (hlm. 190).

Trisakti luput dari pemberitaan media, tetapi bukan berarti mahasiswanya tak bergerak. Soekisno Hadikoemoro dalam Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 (1999) mencatat, setidaknya dua kali mahasiswa Trisakti menggelar unjuk rasa, yaitu pada 23 Maret dan 18 April. Keduanya berupa mimbar bebas di dalam lingkungan kampus.

Dengan dukungan ikatan alumninya, mahasiswa Trisakti juga menggelar aksi sosial. Sebagai tindak lanjut dari mimbar bebas itu, Senat Mahasiswa Universitas Trisakti (SMUT) menggelar aksi sosial berupa pembagian sembako dan pemeriksaan kesehatan.

Mimbar bebas kedua yang diinisiasi SMUT adalah sebuah percobaan untuk sebuah aksi turun ke jalan. Usai mimbar bebas, SMUT mencoba mengorganisasi massanya untuk keluar kampus. Tak jauh, mereka hanya keluar dari kampus melalui gerbang di Jalan Kiyai Tapa lalu memutar dan masuk kembali ke kampus melalui gerbang di Jalan S. Parman (hlm. 69-71).

Itulah semua persiapan menuju demonstrasi besar mahasiswa Trisakti pada 12 Mei. Mereka bergerak dengan membawa dukungan dari pimpinan universitas dan para guru besar. Bahkan di hari itu, Rektor Universitas Trisakti Profesor Dr. Moedanton Moertedjo dan Ketua Umum Yayasan Trisakti Ir. Trisulo ikut menyampaikan orasi (hlm. 72).

Sejak pukul 11.00, sekitar 6.000 mahasiswa menyemut di pelataran parkir Kampus A Universitas Trisakti. Tuntutan pengunduran diri Soeharto dan reformasi politik jadi seruan utama para orator. Parry menyebut para demonstran juga membakar patung Soeharto. “Ini tindakan berani walau bukan belum pernah terjadi sebelumnya” (hlm. 193).

Lepas tengah hari, usai serangkaian orasi dari pimpinan universitas, dosen, dan mahasiswa, massa aksi mulai berbaris keluar dari kampus. Soekisno mengutip sumber dari SMUT menyebut bahwa mahasiswa Trisakti berencana akan long march ke kompleks DPR/MPR Senayan.

Tetapi, langkah demonstran terhenti di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Dua barikade polisi mengadang demonstran dengan tameng dan pentungan. Perwakilan SMUT dan pimpinan aparat lantas mengadakan negosiasi. Hasilnya: demonstran dilarang melangkah lebih jauh dari tempat mereka berhenti.

Demonstran akhirnya menggelar mimbar bebas di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Sementara itu, para mahasiswi membagikan bunga mawar ke barisan aparat yang berjaga. Bersamaan dengan aksi tersebut, datanglah aparat tambahan dari Kodam Jaya dan satuan Brimob (hlm. 96-98).

Kopassus juga muncul dalam truk-truk terbuka besar, membawa senapan otomatis. Brimob yang baru saja tiba segera bersiaga dengan tabung-tabung gas air mata. Tiga panser yang dilengkapi meriam air juga disiapkan.

“Meski di tengah kehadiran begitu banyak senjata dan tameng: perisai, helm tentara, tongkat, sangkur, sabuk peluru, peredam suara senapan, kendaraan berlapis baja—setiap orang pada kedua sisi barisan begitu rileks dan bergurau,” catat Parry (hlm. 191).


Suasana sempat menegang saat tambahan pasukan pengamanan maju mendesak. Mahasiswa membalasnya dengan cemoohan, teriakan yel-yel yang kian keras, dan acungan tinju. Tetapi, ketegangan itu buyar saat hujan deras mulai mengguyur sekitar pukul 13.30.

Parry menulis, “Dalam beberapa menit, pemandangan di luar Trisakti berganti dari konfrontasi tegang menjadi gelanggang main air.”

Sampai sore demonstran Trisakti tak bergerak. Selama itu pula perwakilan SMUT bernegosiasi dengan aparat keamanan dan tetap buntu. Pukul 17.00 kedua pihak sepakat untuk sama-sama mundur.

Semua berjalan baik-baik saja, hingga seorang bernama Mashud yang mengaku alumni Trisakti mencemooh massa mahasiswa yang balik kanan itu. Mengira Mashud adalah mata-mata, beberapa mahasiswa mengejarnya. Mashud lari ke arah barikade aparat dan terjadilah aksi saling dorong antara mahasiswa dan polisi.

Dari catatan Soekisno, itulah awal petaka yang menimpa demonstran Trisakti. Sebarisan aparat lalu merangsek ke depan menyerang mahasiswa. Tembakan dan gas air mata menghambur ke arah mahasiswa.

“Sebagian aparat yang berada di atas jembatan layang mengarahkan tembakan ke arah mahasiswa yang berlarian di dalam kampus. Sebagian lain yang ada di bawah jembatan layang menyerbu dan merapat ke pintu gerbang dan membuat formasi siap menembak dua baris (jongkok dan berdiri) lalu menembak ke arah mahasiswa yang ada di dalam kampus. Dengan tembakan terarah tersebut mengakibatkan jatuhnya korban baik luka maupun meninggal dunia,” demikian kejadian itu berlangsung sebagaimana dikutip Soekisno dari sumber SMUT (hlm. 100-101).




Penyelesaian yang Tak Jelas

Pada 28 Mei Kapolri Jenderal (Pol) Dibyo Widodo menyatakan kepada publik bahwa personil Polri dan Brimob yang bertugas mengamankan Trisakti tak dibekali peluru tajam. Padahal hasil otopsi menunjukkan bahwa keempat mahasiswa itu tewas tertembus peluru tajam. Rekaman peristiwa yang disiarkan beberapa stasiun televisi pun dengan jelas memperlihatkan bagaimana polisi melakukan tembakan ke arah mahasiswa.

Penyangkalan Polri itu kemudian memunculkan spekulasi tentang adanya satuan lain yang melakukan penembakan terhadap mahasiswa. Diduga pasukan itu tak mengenakan seragam identitas saat melakukan penembakan. Dugaan itu juga muncul dalam sidang Mahkamah Militer yang digelar untuk mengadili kasus itu.

James Luhulima dalam Hari-hari Terpanjang Menjelang Mundurnya Presiden Soeharto (2001) menulis, “Meskipun tidak disebutkan, pasukan mana, santer di masyarakat bahwa pasukan yang tidak dikenal itu adalah pasukan Kopassus. Sebab, pasukan ini pun menggunakan senjata Styer meskipun versinya berbeda dengan yang digunakan Brimob” (hlm. 116).


Delapan belas polisi diajukan sebagai terdakwa dalam kasus penembakan itu. Adnan Buyung Nasution yang menjadi pembela mereka menyatakan bahwa para terdakwa itu hanya korban, bukan pelaku sebenarnya. Hingga setahun setelahnya pengungkapan siapa dalang dan penembak sebenarnya tetap gelap (hlm. 116 dan 119).

Kapten Polisi Agustri Heryanto, salah seorang terdakwa, angkat bicara soal kasus itu pada 2003. Ia mengaku bahwa para terdakwa adalah kambing hitam dan alat politik atasannya belaka. “Itu sidang dagelan. Saya bukan penembak tapi diadili sebagai penembak,” katanya sebagaimana dikutip majalah Tempo edisi 19-25 Mei 2003.


Tempo juga menyebut pembentukan panitia khusus oleh DPR untuk menyelidiki kasus ini. Namun, panitia khusus itu malah memberi kesimpulan kontroversial: tak ada indikasi pelanggaran HAM dalam kasus penembakan itu, karenanya cukup diselesaikan lewat Mahkamah Militer. Upaya hukum juga pernah dilakukan Komnas HAM, namun berkasnya mandek di Kejaksaan Agung.

Hingga kini pengungkapan dalang dan penembak mahasiswa yang sebenarnya masih gelap. Ini menunjukkan lemahnya komitmen pemerintah dalam menuntaskan kasus-kasus kekerasan oleh aparat. Jika terus seperti ini, bukan tak mungkin kekerasan serupa terjadi di masa depan.

Baca juga artikel terkait TRAGEDI TRISAKTI atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight