Mako Brimob Kelapa Dua, Markas Ranger yang Aman bagi Sukarno

Oleh: Petrik Matanasi - 10 Mei 2018
Dibaca Normal 2 menit
Markas Resimen Pelopor—pemula elit Brimob—ini pernah menjadi tempat aman bagi Presiden Sukarno pasca-G30S.
tirto.id - Korps Marinir punya Cilandak, sedangkan Kopassus punya Cijantung sebagai rumah. Sementara itu, Kelapa Dua adalah tempat penuh sejarah bagi pasukan paramiliter kepolisian yang dikenal sebagai Korps Brigade Mobil (Brimob), meski korps ini tak lahir di kawasan yang letaknya tak jauh dari kampus Universitas Indonesia (UI) itu.

Kelapa Dua adalah saksi berkembangnya Brimob. Setelah nama Mobile Brigade (Mobrig) diganti Brigade Mobil (Brimob) dipakai sejak 14 November 1961, pasukan ini mengalami perkembangan. Kawasan ini akhir 1961 sudah menjadi asrama bagi Batalyon 1232 yang dianggap sebagai pelopor, yakni Brimob yang pernah mendapat latihan Ranger.

Salah satu pendiri Brimob, Moehamad Jasin, menyatakan dalam buku Memoar Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kepolisian Indonesia (2010:184-185), bahwa semula hanya 20 Brimob (yang kala itu masih bernama Mobrig) saja yang mendapat latihan di Filipina sejak 1953.

Menurut catatan majalah Commando Volume IX Edisi Nomor 5 (2013:26), personel yang dikirim itu datang bergelombang (1955;1959;1960). Mereka digembleng pasukan Special Force dan Marinir Amerika Serikat. Hasil latihan di Filipina itu sempat diuji coba di pegunungan Cirebon, Jawa Barat, terkait operasi penumpasan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

“Saya mengirim satu regu Mobil Brigade yang dipimpin Andi Abdurachman yang telah mendapat latihan Ranger di Filipina […] dalam gerakan ini, pasukan Mobil Brigade berhasil membunuh pemimpin gerombolan,” aku Moehamad Jasin dalam Memoar Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kepolisian Indonesia (2010:184-185).

Kemudian, untuk mengembangkan pasukan dengan kemampuan Ranger itu, dibukalah pelatihan di Lido, Bogor, dan Watukosek. Setelah 1961, tentu saja banyak anggota Brimob dengan kemampuan Ranger yang punya pengalaman tempur melawan DI/TII dan PRRI/Permesta. Para Ranger itu semula hanya berada di Kompi 5994, tapi jumlahnya berkembang cepat sehingga mencapai satu batalyon, sehingga dikelompokkan dalam Batalyon 1232.

Dua peleton dari Kompi 5994, menurut Memet Tanumidjaja dalam Sedjarah Perkembangan Angkatan Kepolisian (1971:111), terlibat dalam operasi 17 Agustus memberantas PRRI di Sumatra Tengah bagian selatan. Pasukan itu berkembang terus. Pada 1961, nama Ranger diubah menjadi Pelopor.


Kelapa Dua, yang menjadi asrama Brimob Ranger Batalyon 1232, pada 18 Februari 1962, menjadi saksi terbentuknya Resimen Team Pertempuran (RTP) I Brimob yang dipimpin Komisaris Polisi II Soetrasno. Menurut catatan Ahmad Junus Mokoginta dalam Sedjarah Singkat Perdjuangan Bersendjata Bangsa Indonesia (1964:163), pasukan itu terbentuk berdasar Surat Keputusan Menteri/Kepala Staf Angkatan Kepolisian tanggal 16 Desember 1961 nomor 4/Sk/Mk/1961.

Pasukan ini terbentuk setelah dicanangkannya Tri Komando Rakyat (Trikora) Pembebasan Papua. Menurut buku 20 Tahun Perkembangan Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (1967:210), RTP dikirim ke Maluku sebagai batu lompatan ke Papua yang dikuasai Belanda. Sekompi Brimob dari RTP di bawah komando Inspektur Polisi II Hudaja Sunarja kemudian berhasil mendarat di Papua.

Orang terkenal yang pernah menjadi Batalyon 1232 di Kelapa Dua adalah adalah Komisaris Polisi II Anton Soedjarwo. Laki-laki yang terkenal dengan kumisnya itu pernah menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) sejak 1982 hingga 1986. Ayah dari sutradara Rudy Sudjarwo ini, sewaktu memimpin batalyon, pernah memimpin operasi di Ambon, yakni Operasi Trikora.

“Awal 1964, Anton Sudjarwo meningkat tanggung jawabnya, ketika Batalyon Pelopor 1232 diperluas menjadi Resimen Pelopor penuh (Resimen Pelopor, disingkat sebagai Menpor). Markas resimen tetap di Kelapa Dua,” tulis Ken Conboy dalam Elite: The Special Forces of Indonesia, 1950-2008 (2008:137).

Kala Kepolisian bagian dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) itu, pangkat Anton pun naik menjadi kolonel. Buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia (1984:858) menyebut Anton mengisi jabatan dari 1964 hingga 1972. Sejak 1969, dia memimpin pasukan tersebut sembari menjadi Kepala Kepolisian wilayah Tanjung Priok.

Infografik Mako Brimob.


Menpor pada era Sukarno sangatlah diperhitungkan. Personelnya dipersenjatai dengan AR-15 (versi sipil dari M-16). Kala itu, bahkan tak semua personel satuan elit seperti Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD)--cikal-bakal Kopassus--memakai senjata tersebut.

Sewaktu ada isu RPKAD akan menyerang Istana, seperti ditulis Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang (2010:152), Komisaris Polisi Soemirat pernah bilang kepada Presiden Sukarno:

“Panglima Kepolisian Jenderal Sutjipto menyarankan untuk sementara waktu Bapak (Presiden) sebaiknya meninggalkan Jakarta. Panglima bersama Kolonel Anton Soedjarwo sudah bersama Resimen Rangers Brimob. Sudah siap di Asrama Kelapa Dua, membantu pengamanan jika diperlukan.”

Betapa amannya kawasan yang kini menjadi Markas Komando (Mako) Brimob) itu, sehingga Presiden saja saat negara genting pasca-G30S, terjamin keamanannya di markas itu. Menpor, dari banyak cerita yang berkembang ,dikenal punya nyali besar. Kepada RPKAD yang tersangar saja satuan ini tidaklah takut.

Beredar cerita, suatu kali ada sepasukan Menpor yang menyerbu Cijantung sehingga kawasan yang menjadi rumah bagi RPKAD itu dikosongkan. Begitu yang dikisahkan buku Resimen Pelopor Pasukan Elit Yang Terlupakan (2011) yang disusun Anton Agus Setiawan dan Andi M. Darlis. Julius Pour juga mencatat Anton Soedjarwo yang memimpin Resimen Pelopor adalah orang yang tidak mau pasukannya dan kepolisian mengikuti arahan Subandrio, menteri era Sukarno.

Setelah Resimen Pelopor dihilangkan, Kelapa Dua tetap menjadi tempat penting yang seharusnya nyaman dan aman bagi Brimob, karena tempat itu adalah Markas Komando (Mako) Brimob.

Baca juga artikel terkait SEJARAH MILITER atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight