Menuju konten utama

MinyaKita Langka dan Mahal, Warga Lebih Pilih Minyak Premium

Dibanding membeli MinyaKita yang harganya mahal karena langka, konsumen memilih beralih ke minyak goreng premium yang kualitasnya jauh lebih terjamin.

MinyaKita Langka dan Mahal, Warga Lebih Pilih Minyak Premium
Suasana Pasar Rumput, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (21/5/2026). tirto.id/Qonita Azzahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lapak sembako milik Mimin (43) yang berada tak jauh dari pintu masuk Pasar Rumput, Jakarta Selatan kini kehilangan satu warna yang biasanya paling dicari pembeli. Kemasan MinyaKita, minyak goreng subsidi yang dulu diandalkan masyarakat kecil, sudah berbulan-bulan tak tampak di rak dagangannya.

Bagi Mimin, hilangnya pasokan ini bukan lagi perkara telat datang, melainkan sebuah kelangkaan yang tak pasti ujungnya. Baik pihak pemasok swasta maupun distributor pemerintah seperti kompak menghentikan pengiriman tanpa alasan yang jelas bagi para pedagang kecil.

"Sejak beberapa bulan udah enggak ada pengiriman MinyaKita, baik dari pemasok maupun pemerintah," keluh Mimin saat ditemui di kiosnya, Pasar Rumput, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (21/5/2026).

Sebagai pedagang tingkat bawah, Mimin mengaku buta dengan kondisi di luar wilayahnya. Namun, satu hal yang pasti, gerilya agen minyak subsidi di pasarnya telah mati total.

"Enggak begitu tahu kondisi di pasar lain kayak apa, tapi di Pasar Rumput enggak pernah lagi ada agen yang datang nawarin MinyaKita buat masuk," lanjutnya.

Pedagang yang sudah melapak di Pasar Rumput sejak pasar tersebut belum direnovasi itu mengaku, kelangkaan MinyaKita secara pribadi tidak memengaruhi pendapatan hariannya.

Sebab, kendati tak ada MinyaKita, Minyak Goreng Rizki produksi PT PT Bina Karya Prima (BKP) dengan harga miring telah masuk ke lapak-lapak para penjaja sembako bahkan bumbu jadi di Pasar Rumput.

“Ini aja Minyak Rizki. Sama aja kayak MinyaKita, malah lebih murah,” ujar Mimin sambil menawarkan dagangannya kepada Tirto.

Ibu dua anak itu menduga, jika MinyaKita masuk ke Pasar Ruput, harga jualnya terlalu tinggi untuk ditawarkan kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Kata Mimin, terakhir kali MinyaKita tersedia di lapaknya, modal untuk seliter MinyaKita bisa mencapai Rp20.500, melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah senilai Rp15.700 per liter.

Situasi ini menjepit posisi pedagang yang serba salah saat berhadapan dengan konsumen.

"Kalaupun ada, dari harga yang dilepas agen setidaknya Rp20.500. Penjual hanya bisa memasarkan di Rp21.000 atau Rp22.000," pungkas Mimin dengan nada pasrah.

MinyaKita tampaknya sudah kehilangan marwah sebagai “Minyak Goreng Rakyat”, minyak goreng murah yang diperuntukkan bagi MBR sekaligus juga bertujuan untuk mengatasi permasalahan distribusi minyak goreng di Tanah Air. Tidak hanya itu, minyak yang semula diluncurkan pemerintah sebagai solusi murah bagi masyarakat, kini harganya sudah melambung tinggi.

Dari Pasar Rumput, Tirto menemukan salah satu kios di Pasar Arriyadh, yang terletak di Tegal Parang Utara, Mampang, Jakarta Selatan masih menjual MinyaKita. Namun, di rak khusus minyak goreng, hanya tersisa dua MinyaKita dengan kemasan 2 liter.

“Yang kemasan seliter udah nggak ada,” kata Susanti, pemilik Kios Sembako Khairil.

MinyaKita itu dijajakannya dengan harga Rp43.000. Ibu anak satu itu enggan menjelaskan berapa modal yang dia keluarkan untuk sebungkus MinyaKita berukuran dua liter tersebut, tapi margin keuntungan yang diambilnya tipis.

Harga MinyaKita memang sudah melambung pasca Lebaran kemarin. “Udah lama... Sejak Lebaran," ungkap sang pedagang saat ditanya mengenai awal mula kenaikan harga komoditas tersebut.

Meski pasokan dari agen-agen lokal masih mengalir di beberapa wilayah, distribusinya kini menjadi sangat timpang. MinyaKita lebih mudah ditemukan di area tertentu, seperti Jakarta Utara dan hanya sebagian wilayah saja di Jakarta Selatan, sementara di kawasan lain keberadaannya mulai langka.

Dengan selisih harga yang kini hanya terpaut tipis, masyarakat mulai berpikir realistis. Dibanding membeli minyak subsidi yang harganya terlanjur rusak, konsumen rumah tangga hingga penjaja gorengan memilih untuk beralih total ke minyak goreng premium yang kualitasnya jauh lebih terjamin.

"Mending minyak premium sekalian. Harganya cuma beda Rp2.000. Ya, yang kayak Vipco tuh beningnya lebih, kayak Tropicana... Tukang gorengan aja udah enggak pakai MinyaKita lagi. Harganya mahal loh, mending Sania atau Sanco itu paling Rp46.000, kualitasnya jelas."

Baca juga artikel terkait MINYAKITA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Bayu Septianto