Michael Bambang Hartono
Atlet Bridge Nasional

Mimpi Seorang Kakek yang Menjadi Atlet Bridge

27 Agustus 2018
Dibaca Normal 4 menit
Bagi anak-anak kecil, mimpi sangatlah menyenangkan. Dimulai dengan khayalan "suatu hari nanti", ia bisa menutupnya dengan profesi apa saja yang menurutnya menyenangkan: menjadi dokter, pilot, insinyur, atau bahkan astronot.

Bagi orang dewasa, mimpi juga masih menyenangkan walau mulai terbatas. Jika mimpi orang dewasa terasa tidak realistis, siap-siap saja menerima komentar "omong kosong" dari pendengarnya.

Lalu, bagaimana mimpi orang tua, seperti saya misalnya, yang usianya hampir 79 tahun?

Kebanyakan orang mungkin tak akan peduli. Jika ada yang peduli, barangkali tanggapannya tak enak didengar. Kendati demikian, saya tak takut bermimpi.

Bagi saya, sebuah mimpi menjadi sangat menarik ketika orang yang memimpikannya berusaha menghidupinya dengan sekuat hati. Sudah tidak penting yang bermimpi itu anak kecil, orang dewasa, atau kakek-kakek seperti saya, selama ia berusaha menghidupkannya maka mimpi itu masih menarik.

Pandangan tentang mimpi seperti itulah yang menjadi titik tolak untuk menjawab pertanyaan yang banyak diajukan kepada saya saat bridge dipertandingkan di Asian Games 2018. Orang-orang bertanya: mengapa saya masih bermain bridge?

Semula saya hanya menjawab agar saya tidak cepat pikun. Sekarang, selain memberikan jawaban seperti itu, saya juga bisa mengajukan jawaban lain: membesarkan nama Indonesia di dunia bridge—itulah mimpi saya, seorang lelaki tua berusia 79 tahun.

Saya mulai bermain bridge saat berusia 6 tahun. Paman-paman saya yang mengenalkan bridge. Saya ternyata menyukainya. Selain menyenangkan, bridge adalah permainan yang sangat menantang.

Bridge adalah permainan kartu yang rumit. Variasi kartunya berjuta-juta. Ada sistem penawaran yang biasa disebut bidding. Setelah itu, jika ingin menang, saya harus mengumpulkan data, melakukan analisis, menerapkan strategi, mengambil keputusan tepat, dan berani mengambil risiko.

Dengan begitu, bridge benar-benar memeras otak. Tidak sekadar membutuhkan otak waras, bridge malah membutuhkan otak cerdas. Untuk menjadi pemain bridge yang sukses, IQ Anda harus di atas 120. Jika tidak, karena hitung-hitungan rumit, Anda akan rawan melakukan kesalahan.

Selain itu, bridge menuntut kecerdasan emosional yang bagus. Anda perlu menjaga emosi selama bermain. Selain berguna dalam pengambilan keputusan, kecerdasan emosi yang baik juga bisa membantu Anda mengatasi gangguan yang dilakukan pemain lawan.

Dalam posisi terdesak, bukan tak mungkin lawan akan melakukan kecurangan untuk mengganggu konsentrasi. Kecurangan dalam bridge bermacam-macam. Dengan pura-pura batuk, misalnya. Atau, dengan cara yang pernah saya alami: untuk mengganggu konsentrasi saya, seorang dokter asal Jerman pernah menendang-nendang kaki saya. Ya, itu dilakukan seorang dokter.

Sejak dilatih oleh seorang paman, saya semakin menyukai bridge. Pada 1951, saya bahkan memilih menjadi pemain bridge profesional. Usia saya saat itu masih 12 tahun. Alasannya, selain menyukainya, bridge bisa melatih seseorang untuk menjadi pemimpin.

Bridge Bukan Judi

Saya lahir dari keluarga pengusaha. Dan jika saya ingin sukses dalam melanjutkan bisnis keluarga, saya harus menjadi pemimpin yang dapat dicontoh anak buahnya.

Kiranya alasan itulah yang membuat Bill Gates, pemilik Microsoft, masih rajin bermain bridge sampai sekarang. Bahkan tak jarang ia menyewa para pemain bridge profesional untuk bertanding melawan dirinya. Selain itu, pada zaman penjajahan, para perwira Belanda juga mengajarkan para prajutritnya bermain bridge agar mereka bisa belajar menjadi seorang pemimpin.

Sayangnya, sewaktu saya mulai menjadi pemain profesional, bridge belum begitu dikenal di Indonesia. Permainan ini belum memasyarakat dan sering kali dianggap sebagai judi.

Sekitar akhir 1970-an, Pak Amran Zamzani, ketua GABSI (Gabungan Bridge Seluruh Indonesia) saat itu, tiba-tiba memberikan tantangan kepada saya. Ia ingin saya membantu GABSI mempopulerkan bridge di Aceh dan Sumatera Barat. Saat itu saya merasa tantangan itu janggal buat saya.

“Tidak salah, Pak? Saya, kan, China dan non-muslim,” tanya saya.

Pak Amran menjawab enteng, “Anda akan dengan mudah mengatasi masalah itu.”

Oke, karena bridge bukan permainan individu, pemain bridge tentu membutuhkan banyak lawan. Semakin banyak lawan, akan semakin menyenangkan.

Saya pun berangkat ke Aceh dan Sumatera Barat. Berawal dari perguruan tinggi, saya meyakinkan dosen-dosen dan orang tua bahwa bridge bukan judi. Malahan, bridge bisa sangat berguna untuk melatih kepemimpinan. Saat dosen dan orang tua setuju, saya mulai melakukannya dengan mengajak para mahasiswi. Teori saya: jika para mahasiswi bermain bridge, para mahasiswanya pun akan tertarik.

Perkiraan saya itu ternyata tak meleset. Dari situ, Aceh dan Sumatera Barat mau menerima bridge sampai sekarang.

Sejak saat itu, tidak hanya bermain, saya terus terlibat aktif memperkenalkan bridge di Indonesia. Hasilnya ternyata memuaskan. Secara perlahan, bridge mulai dianggap serius di Indonesia.

Berawal dari PON 2008 di Tarakan, bridge dipertandingkan pada PON 2012 di Pekanbaru dan PON 2016 di Bandung. Setelah itu, kejuaraan bridge dilangsungkan dalam pelbagai level. Dari kejuaraan nasional senior dan junior, kejuaraan antar-provinsi, hingga kejuaraan antar-pelajar.

Meski begitu, bridge sepertinya belum benar-benar populer di Indonesia. Sekitar 10 tahun lalu, dalam sebuah acara di RRI, saya pernah dimarahi oleh ibu-ibu yang menganggap saya sedang mengajarkan judi.

Baru-baru ini, bersama GABSI dan pemerintah, saya memperjuangkan bridge agar bisa dipertandingkan di Asian Games. Seperti di Indonesia, Oympic Council of Asia (OCA) juga sempat menganggap bridge sebagai judi.

Sheik Al Sabah, Presiden OCA, tidak setuju. Namun, saya terus meyakinkannya bahwa bridge tidak seperti itu. Saya lalu mengambil contoh bahwa Zia Mahmood, pemain bridge legendaris, berasal dari Pakistan.

Setelah melalui perjuangan panjang selama berbulan-bulan, usaha saya ternyata berhasil. Berkat usaha itu, pada Mei 2017, Federasi Bridge Dunia (WBF) memberikan gold medal sebagai bentuk penghormatan kepada saya.

Padahal tak perlu gelar kehormatan seperti itu. Sebagai pemain, gelar saya di level internasional sudah banyak. Saya pernah meraih medali perunggu dalam kejuaraan dunia bridge senior pada 2008 dan 2009.

Pada 2012, saya memenangkan kejuaraan senior Asia. Lima tahun setelahnya, saya menjadi runner-up pada kejuaraan yang sama. Saat ini, karena berprestasi, saya mempunyai gelar World Life Master WBF 2018.

Yang menarik, meski saya berhasil mengenalkan bridge di Indonesia, juga meyakinkan OCA agar bridge dipertandingkan di Asian Games, saya ternyata gagal meyakinkan keluarga saya untuk menekuni bridge.

Istri, anak-anak, dan cucu-cucu saya memang bisa bermain bridge, tetapi tidak ada yang ingin menggelutinya secara serius. Namun, setelah dipikir-pikir, mereka ternyata mengambil keputusan yang tepat. Jika semua keluarga saya bermain bridge secara serius, saya rasa keluarga saya akan berantakan.

Tertidur saat Pertandingan

Menyoal Asian Games 2018, Anda mungkin tahu bahwa saya menjadi atlet tertua yang berpartisipasi. Sebelum Anda berpikir yang tidak-tidak, saya ingin menjelaskan bahwa saya bisa bermain di Asian Games bukan karena “bonus” sebagai pengusaha terkenal dan masuk deretan orang terkaya di Indonesia. Bukan karena itu. Pengurus GABSI meminta saya bermain karena mereka yakin saya mampu bersaing.

Untuk bertanding di Asian Games 2018 mewakili Indonesia, saya harus mengikuti seleksi terlebih dahulu. Bersama 23 pasang atlet bridge lain, saya berhasil lolos seleksi. Setelah itu, saya juga harus melangsungkan persiapan yang menguras fisik dan pikiran.

Bayangkan, saya bermain bridge secara maraton, selama dua bulan penuh, dari Eropa hingga ke Amerika. Setiap gim membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Jika dalam satu hari ada 9 sampai 10 babak, saya tentu tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Jika yang berumur muda saja sudah pasti akan kelelahan, apalagi saya yang berumur 79 tahun.

Kebiasaan saya bermeditasi dan taichi memang membantu saya bertahan dalam rangkaian pertandingan melelahkan itu. Dan saat bermain di Amerika, tim saya ternyata berhasil menembus babak final.

Namun, lagi-lagi, usia memang tak pernah berbohong. Kapasitas otak saya dibatasi oleh usia. Seringkali saya kelelahan dan tidur terlelap saat pertandingan berlangsung.

Hal konyol itu bahkan pernah terjadi di laga final, saat penentuan juara sedang berlangsung. Jika dihitung, saya dibangunkan dua kali oleh lawan saya, dan tiga kali oleh pasangan saya dalam pertandingan tersebut. Kami pun kalah dari pasangan Amerika.

Pak Eka Wahyu, ketua umum GABSI saat ini, beberapa kali meledek saya mengenai kejadian itu. Saya hanya bisa tertawa. Bagaimana pun itu pertandingan yang paling mengesankan.

Saya mungkin satu-satunya atlet yang sempat tidur nyenyak dalam pertandingan segenting itu.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.