Menyebar Informasi Pribadi, Menuai Pro dan Kontra

Reporter: Ahmad Zaenudin - 13 Mei 2017 10:20 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Doxing atau mempublikasikan data informasi pribadi merupakan salah satu taktik balas dendam yang sudah muncul sejak tahun 1990-an.
tirto.id - Penyebaran informasi pribadi Veronica Koman oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo langsung memicu reaksi keras dari beragam kalangan. Mulai dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) hingga Elsam mengkritik langkah Tjahjo membuka data pribadi Veronica, yang sebelumnya terlihat mengkritik pemerintahan Jokowi, terkait vonis 2 tahun untuk Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Apa yang dilakukan Tjahjo dengan membuka data pribadi Veronica, dikenal dengan istilah Doxing. Doxing, sebagaimana diwartakan The Economist, merupakan singkatan dari “meletakkan/menjatuhkan dokumen”. Secara lebih sederhana, Doxing berarti mempublikasikan informasi pribadi seseorang. Istilah Doxing, telah ada cukup lama. Istilah tersebut merupakan refleksi dari pekerjaan para peretas komputer yang senang mengumpulkan informasi pribadi target peretasannya. Informasi yang dikumpulkan peretas, terdiri dari berbagai hal seperti nama, alamat, dan bahkan, nomor jaminan sosial. Informasi demikian, seringkali dirilis ke publik dengan tujuan menyerang individu yang datanya disebarkan.

Sebagaimana diwartakan Wired, Doxing merupakan taktik balas dendam yang telah muncul di dekade 1990an dalam dunia internet. Kala itu, jika seseorang kesal terhadap individu, ia akan merilis data orang yang tidak disenanginya melalui layanan percakapan online atau chatting yang cukup populer pada dekade saat itu, yakni IRC. Wired mencontohkan, “Zero Cool membuat saya kesal, jadi saya meletakkan dox-nya di IRC”. Sebagaimana diketahui, dalam dunia percakapan online, para pelakunya biasanya menggunakan nama alias. Di percakapan yang dicontohkan Wired, “Zero Cool” merupakan nama alias ia di dunia percakapan online. Kala informasi “Zero Cool” disebarkan, terbongkarlah siapa “Zero Cool” sebenarnya.

Doxing, lebih sering terjadi dalam forum-forum atau komunitas online yang para penggunanya kebanyakan menggunakan nama alias untuk saling berinteraksi. Reddit, merupakan salah satu forum internasional yang kebanyakan penggunanya, menggunakan nama alias. Ini berbeda misalnya dengan Facebook yang secara umum, para pengguna media sosial tersebut telah mempergunakan identitas asli mereka seperti foto dan nama. Tapi jelas, secara umum, mempublikasikan informasi pribadi orang lain dalam bentuk apa pun dan dalam situasi apa pun dan dengan memanfaatkan platform apa pun, termasuk ke dalam definisi Doxing.

Di Indonesia, tepatnya di forum online terbesar, Kaskus, Doxing juga sering terjadi. Terutama bila seorang Kaskuser, sebutan bagi pengguna Kaskus, dirasa merugikan penghuni forum lainnya. Kaskuser lain, bisa saja membuka identitas asli Kaskuser yang dianggap merugikan tersebut. Salah satu kasus Doxing yang cukup terkenal yang terjadi di Kaskus adalah apa yang dialami Blackpanda. Blackpanda, merupakan nama alias seorang kaskuser yang membuka jasa rekening bersama untuk memudahkan dan memberi rasa aman bagi Kaskuser lain yang ingin bertransaksi di forum jual beli. Melalui rekening bersama, saat Kaskuser hendak membeli barang, uang tidak ia tranfer ke si penjual, tetapi ke rekening bersama. Saat barang diterima, pemilik jasa rekening bersama akan meneruskannya pada penjual. Kala itu, secara resmi, Kaskus tidak memiliki mekanisme transaksi resmi mereka. Kaskus kala itu hanya menyediakan lapak atau tempat untuk seseorang berjualan secara online. Sayangnya, Blackpanda menggelapkan dana transaksi rekening bersama tersebut.

Akibat tindakan menggelapkan dana rekening bersama yang dilakukan Blackpanda, banyak Kaskuser lain yang mengunggah seluk beluk Blackpanda di dunia nyata. Informasi pribadi, foto-foto, dan berbagai informasi lainnya, disebarkan oleh Kaskuser. Untuk menghindari Doxing antar-kaskuser, di salah satu sub-forum Kaskus, bahkan ada aturan khusus yang berbunyi, “Dilarang saling mengancam dan membawa urusan real life ke dalam DC (Debate Club, salah satu sub-forum Kaskus) dan juga sebaliknya.”

Infografik Doxing


Dalam sejarahnya, Doxing sudah sering terjadi. Kelompok peretas Anonymous, sebagaimana diwartakan The Washington Post, pada November 2015 mempublikasikan 1.000 akun Twitter orang-orang yang diduga merupakan anggota kelompok Ku Klux Klan. Ku Klux Klan merupakan kelompok rasis yang tumbuh di Amerika Serikat. Aksi anonim tersebut merupakan bagian dari langkah mereka menyerang kelompok tersebut.

Selain oleh peretas, aksi Doxing juga banyak dilakukan oleh kalangan jurnalis. Adrian Chen, pada tahun 2012, dalam tulisannya di situs Gawker, mempublikasikan identitas asli moderator forum Reddit. Selain itu, ada pula Leah McGrath Goodman, seorang wartawan Newsweek yang mengungkapkan identitas asli pembuat Bitcoin. Dalam laporan Newsweek tersebut, disebutkan bahwa pembuat Bitcon adalah seseorang bernama Satoshi Nakamoto.

Aksi Doxing, terutama yang dilakukan berbagai kalangan dan terutama kalangan jurnalis, menuai pro dan kontra. Ada yang mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan kerja jurnalistik yang bagus karena mengungkapkan informasi pribadi merupakan kerja yang cukup sulit dilakukan. Ada pula pihak yang mengkritik tindakan-tindakan jurnalis yang mempublikasikan informasi pribadi seseorang. Laporan Newsweek yang dilakukan Goodman, termasuk pada laporan yang pada akhirnya menuai kritik. Goodman seharusnya tidak perlu mempublikasikan identitas siapa pembuat Bitcoin.

Dhyta Caturani, konsultan keamanan, mengungkapkan bahwa pandangan positif atau negatif tindakan Doxing tergantung pada pihak yang melihat tindakan tersebut. Dalam kasus kriminal misalnya, seseorang yang diindikasikan sebagai penjahat, tidak serta merta identitasnya bisa dipublikasikan. "Misalnya terjadi suatu peristiwa kriminal atau tindakan kriminal yang dilakukan oleh seseorang. Ketika identitas dia terungkap dalam rangka menangani kasusnya, tidak apa-apa. Tapi bukan dibuka untuk publik. Harusnya (informasi) itu diserahkan kepada penegak hukum atau pihak yang berwajib untuk menindaklanjuti itu, menindaklanjuti kasus kriminalnya, misalnya mengungkapkan alamat pelaku kejahatan," jelasnya.

Di Indonesia, Doxing dilarang dan tindakannya diatur dalam Undang-Undang. Pasal 26 UU ITE menyebutkan bahwa informasi pribadi seseorang, tidak boleh digunakan (dan disebarluaskan) tanpa seizin pemilik informasi pribadi tersebut.

Menyebarluaskan atau mempublikasikan informasi pribadi, jelas merupakan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Ada banyak pihak-pihak yang berhubungan dengan si korban Doxing, akan juga terlibat dari aksi menyebarkan informasi tersebut.

Baca juga artikel terkait VONIS AHOK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti

DarkLight