Menuju konten utama

Menkomdigi Dorong Partisipasi Perempuan dalam Sains-Teknologi

Partisipasi perempuan dalam sains-teknologi tak sekadar isu kesetaraan, melainkan kunci pertumbuhan ekonomi digital masa depan.

Menkomdigi Dorong Partisipasi Perempuan dalam Sains-Teknologi
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid bersiap mengikuti rapat kerja bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (15/9/2025). Komisi I DPR menyetujui pagu anggaran Kementerian Komunikasi dan Digital sebesar Rp8 triliun untuk tahun anggaran 2026. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/YU

tirto.id - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mendorong partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi. Sebab, partisipasi perempuan di kedua bidang itu tidak sekadar isu kesetaraan, melainkan kunci pertumbuhan ekonomi digital Indonesia di masa depan.

Mengingat, Indonesia diproyeksikan membutuhkan 12 juta talenta digital pada 2030, sementara saat ini masih terdapat kekurangan sekitar tiga juta talenta. Menurut Meutya, tantangan itu tak akan teratasi tanpa membuka akses yang lebih luas dan adil bagi anak perempuan untuk belajar, tumbuh, dan berkarier di bidang teknologi.

“Indonesia diproyeksikan membutuhkan 12 juta talenta digital pada 2030. Tantangannya bukan hanya soal jumlah, tetapi soal akses yang setara bagi anak perempuan untuk terlibat dan tumbuh di dalamnya," ujarnya dalam keterangan yang diterima, Minggu (8/2/2026).

Meutya menyoroti fenomena leaky pipeline atau berkurangnya jumlah perempuan yang berkarier di sektor teknologi. Data menunjukkan partisipasi perempuan dalam pelatihan digital mencapai 36 persen.

Namun, hanya sekitar 17 persen yang benar-benar melanjutkan karier profesional di bidang teknologi. Salah satu bidang yang kekurangan tenaga kerja perempuan, yakni artificial intelligence (AI).

“Di Indonesia, peran teknis mendalam seperti AI dan engineering baru melibatkan sekitar 15-18 persen perempuan. Kita harus memastikan akses digital berkembang menjadi keterampilan dan peluang kerja nyata," sebut Meutya.

Meutya menyatakan, faktor struktural sering kali menghambat perempuan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Stereotip gender, kurangnya rasa aman, hingga minimnya role model disebut menjadi penyebab utama.

Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen menjaga ruang digital agar tetap ramah bagi perempuan dan anak. Ia mengapresiasi program AWS Girls’ Tech Day sebagai bentuk kolaborasi pemerintah dengan industri.

Program ini memberikan pengalaman belajar AI, coding, dan robotika kepada 400 siswi dari jenjang SD hingga SMA.

“Jangan takut mencoba teknologi dan jangan takut salah. Masa depan digital Indonesia membutuhkan kreativitas, empati, dan keberanian kalian,” ucap Meutya.

Baca juga artikel terkait SAINS DAN TEKNOLOGI atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Byte
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Abdul Aziz