Mengenal Sayur-mayur di Zaman Hindia Belanda

Oleh: Irfan Teguh - 1 Maret 2018
Dibaca Normal 2 menit
Tahun 1931, di Buitenzorg (Bogor) terbit buku berjudul Indische Groenten karya J. J. Ochse yang membahas 765 jenis sayuran.
tirto.id - Zaman Hindia Belanda, mengonsumsi sayuran yang dijadikan lalap dan bahan masakan bukan hanya kebiasaan masyarakat bumiputera. Orang-orang Eropa dan Indo pun mengonsumsinya dalam keseharian. Namun ada perbedaan antara sayur-mayur yang dikonsumsi masyarakat bumiputera dengan orang-orang Eropa dan Indo.

Menurut Arifin Surya Dwipa Irsyam, yang meraih master di bidang taksonomi tumbuhan di IPB, perbedaan itu ditentukan oleh faktor ekonomi.

Pada 1931, di Buitenzorg (Bogor) terbit buku berjudul Indische Groenten karya J. J. Ochse yang membahas 765 jenis sayuran yang terdiri dari monokotil, dikotil, pteridofita, dan jamur.

“Buku ini diperuntukkan bagi orang-orang Eropa, khususnya Belanda, yang akan datang ke Hindia Belanda. Jadi semacam buku panduan atau pengenalan sayuran di negeri yang akan mereka datangi,” kata Arifin kepada Tirto, Sabtu (24/2/2018).

Kurator herbarium di Universitas Padjajaran Bandung ini menambahkan bahwa meski judul buku tersebut menyebut Indische atau Hindia Belanda, tapi isinya mayoritas membahas sayuran yang ada di Pulau Jawa dan Madura.

Siemonsma & Piluek dalam Plant resources of South-East Asia No. 8, Vegetable (1994) menulis bahwa yang dimaksud sayuran adalah bagian tumbuhan yang dikonsumsi bersama makanan pokok.

Di Hindia Belanda cara mengonsumsi sayuran secara umum terbagi dua: dimakan langsung (lalap) dan diolah dulu sebagai bahan masakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, "lalap" diartikan sebagai “daun-daun muda, mentimun, petai mentah dan sebagainya yang dimakan bersama-sama dengan sambal dan nasi”.


Dalam catatan J. J. Ochse, sayuran yang dikonsumsi meliputi batang, daun, bunga, buah, biji, akar atau umbi. Hal ini menunjukkan betapa kayanya jenis tumbuhan yang bisa dikonsumsi di Hindia Belanda.

Di keseharian, jenis sayuran yang dinikmati oleh orang-orang Eropa dan Indo biasanya sayuran impor, seperti kulraap (Brassica napus), kol (Brassica oleracea), raapzaad (Brassica rapa), buncis (Phaseolus vulgaris), biet (Beta vulgaris), peterselie (Petroselinum vulgare), dan wortel (Daucus carota). Karena itu cara mendapatkannya pun biasanya membeli di pasar dan toko sayur.

Sementara orang-orang bumpitera mengonsumi jenis sayuran yang terdapat di hutan, sawah, danau, kolam, kebun, dan pekarangan rumah. Ragam sayuran yang mereka makan beberapa di antaranya kurang layak dikonsumsi manusia, seperti loa (Picus racemose) dan jampang carulang (Eleusine indica)

“Mungkin karena kondisi keuangannya buruk, sehingga pribumi melahap [beberapa] sayuran yang sebetulnya kurang manusia,” ujar Arifin.

Pernik Beberapa Sayuran Lokal

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan di Museum Gedung Sate, Bandung (24/2/2018), Arifin juga menjelaskan pernik beberapa sayuran lokal yang kini sudah jarang ditemui.

Menurutnya, semakin langkanya jenis sayuran lokal disebabkan dua hal: pertama, karena masyarakat sudah banyak yang beralih ke jenis sayuran lain yang mudah ditemui di pasar, dan kedua karena lahan untuk tumbuh sayuran lokal tersebut sudah semakin berkurang. Ragam sayuran itu dijelaskan cara konsumsinya, manfaat dan mudaratnya, serta tempat tumbuhnya.

“Antanan (Centella asiatica) biasanya dimakan daunnya secara langsung, baik mentah maupun dikukus terlebih dahulu. Daun tersebut berfungsi sebagai penguat daya ingat,” ujarnya ketika menjelaskan salah satu sayuran lokal.

Ia juga menjelaskan baluntas (Pluchea indica), bongborosan/kunci (Boesenbergia), daun jinten (Plectranthus amboinicus), calingcing (Oxalis corniculata), huni (Antidesma bunius), jampang carulang (Eleusine indica), jambu monyet (Anacardium occidentale), jotang (Acmella paniculata), kadongdong (Spondias dulcis), karet munding (Ficus elastica), kastuba/godong racun (Euphorbia pulcherrima), kawung (Arenga pinnata), loa (Picus racemose), puring (Codiaeum variegatum), salam (Syzygium polyanthum), dan tempuyung (Sonchus arvensis).

Baluntas (Pluchea indica) sebetulnya adalah tumbuhan yang hidup di dataran rendah, tepatnya di pesisir pantai. Namun setelah melalui proses adaptasi yang panjang, baluntas akhirnya bisa tumbuhnya juga di dataran tinggi.

“Pengalamanku dalam beberapa penelitian, rasa baluntas yang tumbuh di pesisir pantai sih lebih enak, karena lebih asin dan kriuk daripada yang tumbuh di dataran tinggi,” kata Arifin.

Infografik sayur mayur


Di antara sayuran lokal yang pernah dikonsumsi masyarakat bumiputera dan cenderung kurang manusiawi adalah loa, karet munding, dan jampang carulang. Dulu buah loa—yang sebetulnya makanan monyet, digunakan untuk sayur lodeh. Sementara karet munding (Ficus elastica) daunnya dimakan mentah, padahal mengandung banyak getah dan sempat menjadi bahan baku karet. Namun karena karet dari getah karet munding kurang bagus, akhirnya orang-orang beralih ke pohon karet (Hevea brasiliensis).

“Yang paling parah, sih, jampang carulang. Itu, kan, rumput yang biasa ditemui di lapangan sepakbola kampung, diinjek-injek, dan gak ada yang nyangka juga bisa dimakan, malah dikonsumsi oleh masyarakat,” tambah Arifin.

Semangat dari Bandung

Acara yang digelar di Museum Gedung Sate tersebut diselenggarakan oleh Indischemooi. Mereka menyebutnya sebagai A Biological and Environmental Tour in Bandung dan mempunyai slogan “Seeing The Unseen Beauty of Indonesia”.

Rizka Aldila, penanggungjawab Indischemooi, menjelaskan bahwa “melihat yang tidak terlihat” itu maksudnya adalah karena banyak hal di sekitar — yang karena terlalu sering dilihat maka tidak terasa lagi keindahannya.

“Atau karena kita tidak pernah melihatnya, jadi tidak mengetahui sisi keindahan itu,” ujarnya kepada Tirto, Senin (24/2/2018).


Sejauh ini, menurut Rizka, Indischemooi telah menyelenggarakan tiga kegiatan tur, yaitu (1) Bandung Botanical Garden, (2) Poisonous December: tumbuhan berbahaya di sekitar kita, (3) Tumbuhan Obat Keluarga di Kota Bandung. Menurutnya, Indischemooi ingin memunculkan kembali hal-hal yang selama ini tidak terlihat melalui kegiatan biotour, sebuah tour biologi yang fokus pada bidang lingkungan dan biologi.

Ihwal penggunaan nama yang memakai bahasa Belanda, Rizka menyampaikan bahwa itu bukan sikap nostalgia, tapi beberapa kajian dalam kegiatan berkaitan dengan masa lalu.

“Indische Mooi artinya ‘Indonesia yang cantik’. Kenapa pakai bahasa Belanda dan pakai istilah Indische, bukan Indonesia? Karena kajian dan kegiatannya banyak berhubungan juga dengan masa lalu atau sejarah,” terangnya.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Zen RS