Mengapa Patung Yunani Klasik Berpenis Kecil?

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 6 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Maaf, standar maskulinitas ideal versi Yunani klasik ditentukan dari sikap dan isi otak, bukan ukuran kemaluan.
tirto.id - Tidak perlu malu untuk mengakui bahwa setiap kali berhadapan dengan patung laki-laki Yunani klasik Anda akan memfokuskan pandangan pada bagian selangkangan.

Lalu terbersit pertanyaan: “mengapa ukuran penisnya sedemikian kecil?”

Bukan. Bukan karena patung melambangkan pria pengidap mikro-penis. Tetapi karena masyarakat Yunani klasik menetapkan standar maskulinitas berdasarkan ukuran penisnya. Bukan pula mengikuti rumus “semakin besar, semakin maskulin”, tetapi sebaliknya.

“Orang Yunani menghubungkan penis kecil yang tidak ereksi dengan moderasi, yang merupakan salah satu kebajikan utama serta yang membentuk pandangan mereka tentang maskulinitas ideal,” kata Andrew Lear, pengajar di tiga kampus—Harvard, Columbia, NYU—kepada Olivia Goldhill dari Quartz.

Olivia mengutip ulasan sejarawan seni Ellen Oredsson dalam laman blognya. Lelaki Yunani ideal adalah mereka yang “rasional, intelektual, dan otoritatif”.

Dengan kata lain, elemen-elemen yang membentuk maskulinitas ialah tingkat kecerdasan, kewibawaan, dan kebijaksanaan lelaki yang bersangkutan.

Sosok yang demikian bisa ditemukan pada patung pahlawan, dewa-dewa, atau atlet. Alih-alih selangkangan, para tokoh berbadan tegap itu sebenarnya meminta orang-orang untuk memfokuskan penilaian pada pemikiran serta karakter mereka.


Kebalikannya adalah tokoh-tokoh dengan penis berukuran besar dan dalam kondisi tegang (beberapa ada yang melebihi ukuran normal). Mereka diperlakukan sebagai manifestasi lelaki tidak ideal. Andrew mencontohkan Satyr, tokoh mitologi Yunani yang berwujud setengah manusia setengah kambing.

Satyr menghuni hutan dan pegunungan. Ia dekat dengan Dionisos, dewa anggur yang gemar berpesta. Satyr juga digambarkan sebagai pemabuk yang menampakkan sifat penuh nafsu liar. Oleh sebab itu, dalam wujud patung, ia memiliki penis tegang yang berukuran besar.


Satyr mewakili lelaki yang tidak maskulin dalam pandangan Yunani klasik karena selama hidup hanya dikontrol oleh nafsu dan dorongan seksual. Andrew mencatat, selain Satyr, patung orang jompo juga mewakili lelaki tidak ideal sebab kadang digambarkan memiliki penis berukuran besar.

Ellen menegaskan standar ini tidak ada hubungannya dengan performa di ranjang.

“Para lelaki Yunani yang ideal itu tetap dimungkinkan sering berhubungan seks. Tapi ini tidak ada korelasinya dengan ukuran penis. Penis yang kecil memungkinkan mereka untuk tetap terlihat tenang dan logis.”

Aristofanes, penulis naskah drama Yunani yang hidup sekitar tahun 448-385 SM, pernah menyinggung filosofi penis dalam salah satu lakonnya yang berjudul Awan (Nephelai).

Penis besar ia setarakan dengan “kulit pucat”, “dada tak bidang”, dan “sikap cabul”—karakteristik yang tidak atletis dan tidak terhormat untuk anak muda Yunani. Standar lelaki ideal versinya adalah yang memiliki “dada yang berkilau, kulit cerah, bahu bidang, lidah kecil, pantat kuat dan zakar kecil.”


Paul Chrystal dalam bukunya In Bed with the Ancient Greeks (2016) menelusuri penggambaran penis turut muncul pada lukisan vas Yunani klasik.

Penafsiran atas simbolisasi kemaluan laki-laki telah membuat banyak pihak terobsesi, katanya, baik yang berprofesi selaku sejarawan, antropolog, bahkan pengunjung museum.

Sebagaimana Andrew dan Ellen kemukakan, Paul menyimpulkan penis kecil yang tidak disunat menjadi tanda kebangsawanan dan keunggulan kultural dalam standar Yunani klasik.

Sebaliknya, penis besar nan tegang menandakan pemiliknya sebagai sosok yang “vulgar, melanggar norma, dan terkesan barbar”.

“Penis kecil cocok dengan idealisme Yunani mengenai kerupawanan seorang laki-laki. Organ prostetik besar adalah bahan olok-olok. Di panggung komedi, pemeran karakter ‘si bodoh’ pasti berpenis besar, menandakan kebodohan yang lebih dekat ke binatang buas ketimbang manusia.”

Pada kebudayaan lain penis besar diartikan punya kemampuan reproduksi yang dahsyat pula. Ayah yang hebat ialah yang mampu menghasilkan banyak keturunan. Dengan kata lain, lebih mampu menjaga garis keturunan.

Di Yunani klasik, menurut Paul, konsepnya dibalik serta terdengar agak aneh. Penis kecil justru dipandang sebagai lambang kesuburan sebab menghasilkan jarak yang lebih pendek bagi sperma untuk melakukan perjalanan menuju pembuahan sel telur.


“Lihat Zeus: dia memiliki empat-puluh-lima anak yang seluruhnya dihasilkan dari penis yang ukurannya jelas tidak spektakuler.”

Paul menambahkan kulup turut dinilai amat penting. Ukurannya bisa sangat panjang, bahkan ada yang melebihi tiga perempat panjang penis. Penggambarannya kebanyakan terlihat bukan pada patung, tapi pada lukisan vas.

Salah satu yang paling terkenal adalah lukisan pada vas bunga merah Attic yang disebut-sebut sebagai karya pelukis Sosias.

Infografik Penis kecil patung yunani
Infografik Penis kecil patung yunani. tirto.id/Quita


Bagian luar vas memperlihatkan gambar di mana prajurit setengah dewa Akhilles membalut lengan sahabat baiknya, Patroklos. Penis berkulup panjang milik Patroklos terpampang amat jelas.

Kulup panjang dianggap setara dengan penis berukuran besar: mewakili jiwa yang kelewat erotis serta penuh kecabulan. Beberapa literatur menyinggung tema ini. Salah satunya satire karya Lucian dari Samosata (125-180 SM). Judulnya Lexiphanes.

“’Tentu saja,’ kubilang, ‘yang kamu maksud bukan Dion yang terkenal itu, kan, pemuda brengsek-berzakar-menggantung, pengunyah damar yang hobi masturbasi serta bertindak cabul setiap kali dia melihat seseorang dengan penis besar dan kulup panjang.”


Dunia bergerak, berevolusi menjauhi standar Yunani klasik. Kini ukuran penis yang kecil menjadi isu yang membuat kaum Adam tidak percaya diri. Maskulinitas diasosiasikan dengan penis besar sebab dianggap akan lebih memuaskan pasangan.

Merujuk kembali ke laporan Quartz, faktor pendorong perubahan cara pandang itu bisa bermacam-macam. Ada yang menengarai dampak popularitas pornografi. Ada yang mendakwanya sebagai manifestasi body shaming—serupa yang perempuan hadapi melalui perbandingan antar-fisik.

Andrew mengatakan, baik di masyarakat Yunani klasik maupun kekinian, ukuran penis sebenarnya tidak ada hubungannya dengan performa di ranjang. Ini bukan opini, tapi telah melalui berbagai uji ilmiah.

Salah satunya riset kolaborasi King’s College London dan London NHS yang dipublikasikan Maret 2015. Dikutip dari Independent, tim peneliti menyimpulkan bahwa ukuran penis tidak berkorelasi dengan kepuasan dalam hubungan seksual.

Meski demikian, Andrew juga menegaskan yang sebaliknya: pemilik penis kecil belum tentu orang dengan tingkat intelektualitas atau kebijaksanaan yang mumpuni.

“Laki-laki Yunani kerap saling bertemu dalam kondisi telanjang selama berada di gimnasium. Jadi mereka pasti menyadari, bahwa tidak setiap pria bijak memiliki penis kecil, dan tidak setiap pria cabul berpenis besar.”

Baca juga artikel terkait PENIS atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight