Mendag: Ribuan Ton Ekspor Sarang Burung Walet Tak Terdata Resmi

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 15 Januari 2021
Mendag Lutfi mencatat hanya 110 dari 2.000 ton ekspor sarang burung walet yang terdata resmi.
tirto.id - Pemerintah bakal membenahi ekspor komoditas sarang burung walet. Saat ini hanya sebagian kecil ekspor sarang burung walet yang terdata dengan benar.

“Kita konon pengekspor 2.000 ton sarang burung walet. Tapi hanya 110 ton yang sudah terakreditasi dan dijual langsung ke RRT. Sisanya kita melewati beberapa negara singgahan Hongkong, Vietnam bahkan Malaysia. Ujungnya sampai ke RRT,” ucap Lutfi dalam konferensi pers virtual peluncuran platform IDNStore, Kamis (14/1/2021).

Lutfi menjelaskan timpangnya ekspor yang terakreditasi atau yang resmi telah menyebabkan potensi kehilangan pendapatan yang tak kecil. Ia mencontohkan 1 kg sarang burung walet yang diekspor dengan akreditasi bisa dihargai Rp25 juta. Sayangnya harga sebesar itu baru berlaku bagi ke-110 ton ekspor yang terakreditasi, total potensi 2.000 ton belum menggunakan harga itu.

“Harga kalau kami hitung 2.000 ton kali Rp25 juta per kg adalah Rp500 triliun. 3,5 miliar dolar AS,” ucap Lutfi.

Besarnya potensi ekspor itu sempat membuat Lutfi percaya diri kalau kementeriannya bakal dengan mudah mencapai target pertumbuhan yang ditentukan dalam RPJMN. Lutfi bilang target RPJMN bakal mudah tercapai bila Indonesia bisa memperoleh keseluruhan potensi ekspor sarang burung walet,

Meski demikian, Lutfi bilang hal itu perlu upaya luar biasa. Kemendag katanya sedang mengupayakan perbaikan sementara tetap membuat terobosan lain untuk menggenjot ekspor.

“Saya laporkan ke Pak Presiden saya yakin pertumbuhan RPJMN akan tercapai oleh Kemendag karena 1 produk saja yaitu sarang burung walet yang hari ini tidak tercatat dalam neraca perdagangan karena jumlahnya kecil tapi dahsyat nilainya,” ucap Lutfi.



Baca juga artikel terkait EKSPOR SARANG BURUNG WALET atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight