tirto.id - Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa distribusi beras mulai ditingkatkan, khususnya melalui ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret, untuk mengatasi kelangkaan dan gejolak harga.
Upaya ini merupakan bagian dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dijalankan pemerintah.
Budi juga mengeklaim bahwa pengawasan ketat dan peningkatan pasokan mulai menunjukkan hasil.
“Sudah mulai banyak (pasokan) dan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sudah didistribusikan. Tren harganya sudah mulai menurun,” ujar Budi di Kompleks Kementerian Perdagangan, Rabu (20/8/2025).
Meski realisasi program SPHP belum sepenuhnya optimal, Kementerian Perdagangan bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus mempercepat distribusi dan melakukan pengawasan lapangan.
Dia mengungkapkan bahwa hasil pemantauan melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) telah mencatat penurunan harga di sejumlah titik.
Namun, kondisi di lapangan sempat tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah. Beberapa pekan terakhir, harga beras justru mengalami kenaikan meski pasar telah diguyur beras SPHP.
Hal ini menjadi sorotan dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri pada Selasa (19/8/2025).
Rendahnya penyaluran beras SPHP oleh Perum Bulog menjadi salah satu penyebabnya. Laporan menunjukkan realisasi penyaluran baru mencapai 38.811 ton atau hanya 2,94 persen dari target pemerintah sebesar 1,3 juta ton.
Data BPS mencatat, pada pekan kedua Agustus 2025, harga beras medium nasional di zona 1 mencapai Rp14.012 per kilogram, naik 1,15 persen dibanding Juli.
Sementara itu, beras premium dijual rata-rata Rp15.435 per kilogram, naik 0,82 persen. Jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga juga bertambah dari 191 menjadi 193 kabupaten/kota dalam sepekan terakhir.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































