Memoles Jalan Tol pada Mudik Terakhir Pemerintahan Jokowi

Oleh: Suhendra - 8 Juni 2018
Dibaca Normal 5 menit
Mudik tahun ini jadi pembuktian terakhir pemerintahan Jokowi dalam melayani ritual tahunan masyarakat sebelum Pilpres 2019.
tirto.id - Awalnya tak ada yang aneh dari aksi Budi Karya Sumadi. Ia berlagak seorang petugas pom bensin yang melayani pelanggan. Ia menjulurkan nozel selang bahan bakar ke lubang tangki pengisian bensin sebuah mobil.

Baru sebentar peragaan dimulai, tak dinyana, bensin menyembur dari lubang tangki. Aksi amatiran menteri perhubungan ini memang tak bisa ditutupi-tutupi di depan para media.

“Eh... eh... eh,” ucapnya spontan dengan mimik kaget sampai membuat orang-orang ikutan latah.

Kemeja putih lengan panjang yang dipakai mantan bos Angkasa Pura II ini terciprat bensin. Aksi seremonial itu dilakukan Budi Karya di sela kunjungan kesiapan mudik di sebuah SPBU Tol Pejagan-Pemalang, Tegal, Jawa Tengah, Selasa (5/6).

Budi Karya bukan pejabat yang spesial dalam kunjungan itu. Ia datang bersama Menteri Pekerjaan Umum & Pekerjaan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dan Kakorlantas Polri Irjen Pol Royke Lumowa. Namun, helikopter yang membawa ketiga pejabat itu tentu saja spesial karena bisa memangkas waktu perjalanan darat dari Jakarta ke lokasi ruas tol.

Ruas Tol Pejagan-Pemalang sepanjang 57 kilometer itu cukup jadi perhatian. Ruas ini titik terjauh tanpa putus sebagai tol operasional dari Jakarta ke arah timur menuju Semarang. Musim mudik tahun ini, ruas tol dari Brebes Timur-Pemalang (37 km), bagian Tol Pejagan-Pemalang, sudah beroperasi sejak 7 Juni 2018, dan digratiskan selama musim mudik.


Ruas tol tersebut masih melekat dalam ingatan publik. Catatan kelam insiden macet horor yang dikenal "Brexit" pada musim mudik 2016, bagaimanapun, telah mencoreng citra pemerintah dan mengundang sumpah serapah. Keagungan infrastruktur tol yang tahun itu baru dibuat berakhir tragedi: macet total hingga lebih dari 20 jam, sekitar 12 pemudik meninggal.

Maka, sejak kejadian "Brexit"—akronim dari Brebes Timur Exit—pemerintah berbenah, dan mencoba menambal celah-celah masalah saat mudik.

Agar kejadian Brexit tak terulang, titik tol terjauh dari Jakarta pada musim mudik 2017 tak lagi di Brebes Timur, tapi di Desa Gringsing, Weleri, Kabupaten Batang—110 km lebih jauh ke timur dari titik Brexit. Ruas sepanjang itu dipaksa harus bisa fungsional untuk mudik, dengan membangun jalur sementara memakai lapisan beton dasar atau lean concrete. Memang masih lebih baik dibandingkan tahun 2015. Saat itu tol yang dikelola oleh Waskita Karya ini masih berstatus tol darurat dengan kondisi jalan berdebu.


Djoko Setijowarno, akademisi teknik sipil dari Unika Soegijapranata, punya catatan jalan yang kondisinya masih berlapis beton biasanya dibongkar setelah musim mudik berakhir. Ia mendapatkan laporan dari pihak kontraktor bahwa biaya 1 km jalur beralas beton bisa sekitar Rp1 miliar. Bila panjang ruas Brexit-Waleri di atas 100 km, barangkali ada seratusan miliar uang yang terbuang sia-sia.

Jadi per 1 km itu Rp1 miliar, dan dibongkar lagi, jelas buang-buang uang,” kata Djoko kepada Tirto.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Herry Trisaputra Zuna memang tak menampik. Tahun lalu, katanya, banyak ruas tol fungsional yang masih memakai beton harus dibongkar setelah mudik berakhir. Namun, itu tak banyak berlaku pada musim mudik tahun ini.

Biasanya jalur berlapis beton dibongkar ulang karena proses pemadatan tanah belum paripurna. Contohnya Tol Pemalang-Batang (39 km)—lanjutan ruas Pejagan-Pemalang—yang sudah bisa dilintasi pemudik dengan kondisi jalan yang sudah solid dan beraspal, meski sisanya masih akan dibongkar ulang usai mudik.

Di Pemalang-Batang, ada yang permukaan aspal, ada yang 3 km pemadatannya belum finish," kata Herry. "Untuk menghadapi Lebaran, timbunan ini dihentikan untuk dibuat LC (lean concrete), baru dibongkar, enggak banyak."


Tiga Titik Kritis di Jalan Tol Trans Jawa

Ikhtiar pemerintah melayani para pemudik jalur darat yang menggunakan tol harus ditebus dengan biaya tak sedikit. Imaji menyiapkan Tol Trans Jawa tanpa putus saat musim mudik kali ini pun masih jauh dari harapan.

Saat musim mudik nanti, tak semua ruas Trans Jawa tersambung. Setidaknya ada tiga titik kritis yang bakal dihadapi pemudik. Jembatan Kali Kuto, yang jadi bagian tol fungsional Batang-Semarang, tak hanya jadi lokasi titik kritis tol fungsional tapi berpotensi jadi arena kemacetan parah.

Targetnya, sebelum H-2, Jembatan Kali Kuto belum bisa dibuka, padahal arus mudik dimulai sekitar 8-17 Juni 2018 atau H-10 Lebaran. Kendaraan pemudik dapat keluar Simpang Susun Gringsing menuju jalur nasional. Namun, pemudik harus melewati lintasan jalan non tol sejauh kurang lebih 1 Km, kemudian masuk kembali ke ruas tol. Perpotongan arus ini yang jadi sumbu besar kemacetan di Pantura.

Lihat Tirto Visual Report:


Setelah titik kritis Kali Kuto, ruas tol fungsional Salatiga-Kartasura (ruas Tol Semarang-Solo) juga terdapat titik kritis. Jembatan Kali Kenteng di Desa Susukan, Kabupaten Semarang, belum terbangun; hanya tiang-tiang beton sudah berdiri. Di media sosial, jalan sementara di bawah Jembatan Kali Kenteng memperlihatkan ruas jalan yang curam dan sempit, menuntut kehati-hatian pengendara.

Setelah Solo, ada potensial titik kritis terutama di ruas Wilangan-Kertosono (bagian dari Tol Ngawi-Kertosono). Di ruas ini, pada 21 Mei 2018 sempat terjadi insiden tergulingnya launcher girder (balok beton) saat melakukan perakitan. Launcher girder dipakai untuk pemasangan balok beton pada pembangunan salah satu jembatan di ruas tol Wilangan-Kertosono.

"Kami berupaya mencari metode pemasangan lain seperti menggunakan crane agar dapat digunakan sejak H-10. Apabila belum bisa digunakan, kami telah menyiapkan Jembatan Bailey sebagai alternatif," kata Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto.


Kondisi Tol Trans Jawa yang sudah tersambung penuh tapi belum sempurna yang dipaksakan untuk mudik 2018 memang masih menyisakan potensi risiko keamanan konstruksi. “Informasi soal tol jangan berlebihan. Saya khawatirnya umur konstruksi belum siap, ini harus diperhitungkan, sekarang memang ada zat aditif untuk mempercepat, tapi jangan dipaksakan,” kata Djoko Setijowarno, akademisi teknik sipil dari Unika Soegijapranata.

Gencarnya pemberitaan ruas tol, terutama Trans Jawa pada musim mudik, memang tak terhindari. Pencarian via Google, entri “Tol Trans Jawa” mencapai 5.250.000 kali, jauh di atas kata pencarian “Tol Trans Sumatera” yang hanya 814.000 kali. Padahal keduanya sama-sama menjadi jalur mudik dan punya ruas tol fungsional.

Tahun lalu saja, b
erdasarkan Evaluasi Angkutan Lebaran Tahun 2017, secara umum terjadi peningkatan jumlah pemudik yang menggunakan mobil pribadi sampai 28,74 persen, sedangkan angkutan umum hanya 2,44 persen.

“Tol bukan segalanya, makanya jangan hanya tol, bisa menggunakan jalur yang lain,” kata Menhub Budi Karya.

Promosi Alternatif Mudik via Pantai Selatan Jawa

Sadar terhadap potensi bom waktu kemacetan dan risiko persoalan di sisi Tol Trans Jawa dan Pantai Utara Jawa (Pantura), pemerintah mencoba menawarkan alternatif jalur mudik Pantai Selatan (Pansela) Jawa—opsi yang setiap tahun ditawarkan. Bedanya, kali ini pemerintah cukup gencar promosi, dengan menampilkan kemolekan di Pansela.

Beberapa waktu lalu, sempat beredar di media sosial foto Menteri PUPR Basuki Hadimuljono merentangkan tangan saat berdiri di tengah-tengah jalan di ruas Pansela yang mulus dan sepi.

Jalur Pansela untuk mudik Lebaran 2018 sudah tersambung dari Banten sampai Pacitan. Sedangkan dari Pacitan ke Banyuwangi baru akan kita kerjakan tahun ini dengan memperlebar jalan," kata Hadimuljono.

Namun, menarik minat pemudik beralih ke Pansela tak cukup dengan modal promosi dan kondisi jalan dengan suguhan pemandangan pantai selatan yang yahud. Masalahnya ada kendala jarak menuju Pansela terutama bagi pemudik di sisi utara seperti Jakarta.

Bila dari titik Monas ke Pelabuhan Ratu Sukabumi misalnya, jaraknya sudah hampir 100 km garis lurus. Bandingkan bila pemudik memakai jalur Pantura via tol untuk jarak sejauh itu sudah sampai ruas Tol Cikopo, Subang.

Pansela bagus, problemnya jalan penghubung ke selatan, belum bagus,” kata akademisi Djoko Setijowarno.

Baca Periksa Data Tirto:

Infografik HL Indepth Mudik

Ironi Diskon Tarif Tol

Kendala lain justru ulah pemerintah sendiri: gencar melakukan program rutin diskon tarif tol selama musim mudik. Upaya memanjakan pemudik ini getol dilakukan pemerintah sejak 2015. Singkat kata, pemudik kendaraan pribadi seolah kembali diberikan karpet merah.

Namun, rentang waktu diskon tarif tol pada mudik tahun ini memang lebih singkat. Bandingkan pada 2015 yang mencapai 15 hari sebelum dan sesudah Lebaran. Diskon tarifnya pun lebih kecil, hanya rata-rata 10 persen, sementara tiga tahun lalu sampai 25-35 persen.


“Ada diskon tarif tol pada 13-14 Juni dan 18-19 Juni 2018. Uang elektronik perlu disiapkan. Untuk tarif tol Jakarta-Surabaya saat ini Rp344.000. Bank Indonesia telah menaikkan batas saldo uang elektronik menjadi Rp2 juta,” kata Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Herry Trisaputra Zuna.

Pembedaan lainnya untuk program diskon tarif tol mudik kali ini, Presiden Jokowi tak mengumumkannya, tidak seperti yang pernah ia lakukan pada musim mudik 2015. Saat itu Jokowi beralasan diskon tarif guna mengurangi kemacetan di jalan raya. Namun, yang terjadi secara tak langsung membuat orang berbondong-bondong melintasi tol dengan hadirnya infrastruktur tol baru, hingga terjadi antiklimaks insiden horor Brexit pada mudik 2016.

Kini, Jokowi tak menggelorakan lagi soal diskon tarif tol. Fokusnya bagaimana Jakarta-Surabaya terhubung dengan tol.


Dari total ruas tol
Jakarta-Surabaya sepanjang 759 km, sekitar 524 km sudah beroperasi; sisanya, 235 km atau 30 persen masih berupa jalur fungsional.

"Itu urusan operator, BUJT (Badan Usaha Jalan Tol). Tanya ke mereka. Kalau saya nanti [yang bicara] dianggap intervensi," kata Jokowi, Sabtu (12/5/2018), saat ditanya soal diskon tarif tol.


Musim mudik 2018 ini memang jadi pembuktian terakhir pemerintahan Jokowi periode 2014-2019, mengingat pada April 2019 sudah berlangsung Pilpres, yang berlangsung sebelum hajatan besar mudik kembali datang.

Seluruh ruas Tol Trans Jawa ditargetkan bisa beroperasi 100 persen hingga akhir 2018. Tol ini akan menjadi oleh-oleh fenomenal pemerintahannya, selain infrastruktur baru di luar tol yang terus dipoles seperti Bandara Kertajati hingga terminal baru Bandara Ahmad Yani dan lainnya.

Baca juga artikel terkait MUDIK LEBARAN 2018 atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Suhendra
Penulis: Suhendra
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan