Periksa Data

Memeriksa Wilayah Tak Aman bagi Jokowi: DKI Jakarta, Banten, Jabar

Oleh: Irma Garnesia - 13 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Tim Jokowi bilang akan menguatkan kampanye di tiga wilayah yang belum digarap maksimal ini.
tirto.id - Ada "bocoran" dari tim kampanye Jokowi. Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Maman Imanulhaq, menyebut pasangan tersebut belum maksimal di tiga daerah: Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Oleh karena itu, menurutnya relawan harus bergerak secara sistematis, masif, dan militan di tiga daerah tersebut.

Sebagaimana publik mafhum, kandidat presiden pada 2019 masih sama dengan Pilpres 2014, yakni petahana Joko Widodo dan pesaing lamanya Prabowo Subianto. Yang berbeda adalah kandidat wakil presiden, masing-masing Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno, serta konfigurasi partai-partai penyokong. Penyokong Jokowi-Ma'ruf Amin adalah PKB, PKPI, PDI Perjuangan, Nasdem, Hanura, PPP, dan Golkar, sedangkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno disokong Gerindra, PKS, PAN, dan Partai Demokrat.


Komisi Pemilihan Umum (KPU) mendata 185.732.093 Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pilpres 2019. Pilihan Jokowi untuk menetapkan pada Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta sebagai prioritas, seperti klaim Maman Imanulhaq, memang strategis karena terdapat 47,3 juta rakyat atau sekitar 25,40 persen dari total pemilih Indonesia.

Infografik Periksa Data Menghitung Peluang Suara Jokowi-Maruf
Infografik Periksa Data Menghitung Peluang Suara Jokowi-Maruf. tirto.id/Quita


Di Jawa Barat ada 32,63 juta suara pemilih potensial, atau sekitar 17,57% dari total pemilih di Indonesia. Jawa Barat juga merupakan daerah dengan potensi suara paling besar di Indonesia. Dua provinsi lainnya, DKI Jakarta dan Banten, menyumbang 3,88% dan 4,01% suara dari total pemilih tetap di Indonesia.

Di ketiga provinsi ini, dua pasang kandidat akan berebut suara di 8 kabupaten dan kota di Banten, 6 kabupaten dan kota di DKI Jakarta, serta 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat.

Lantas, wilayah mana saja yang berpotensi menjadi pendulang suara bagi pasangan Jokowi-Ma’ruf?

Berdasarkan Data Pemilih Tetap (DPT) Pilkada 2017 dan 2018 oleh KPU, Tirto mengestimasi jumlah pemilih potensial di tiga daerah tersebut. Perlu diperhatikan bahwa Data Pemilih Tetap (DPT) yang digunakan merupakan DPT Pilkada 2017 DKI Jakarta (PDF), DPT Pilkada 2017 Banten (PDF), dan DPT Pilkada 2018 Jawa Barat (PDF).

Infografik Periksa Data Menghitung Peluang Suara Jokowi-Maruf
Infografik Periksa Data Menghitung Peluang Suara Jokowi-Maruf. tirto.id/Quita


Dari 41 kabupaten dan kota di ketiga provinsi tersebut, 19 wilayah di antaranya memiliki jumlah penduduk kategori usia pemilih paling besar.

Di Banten yang memiliki 7,45 juta pemilih tetap, Jokowi-Ma’ruf harus mengamankan setidaknya 3,80 juta pemilih potensial agar mendulang 51 persen suara. Pasangan ini harus memenangkan suara di Kab. Tangerang, Kota Tangerang, dan Kab. Serang sebagai wilayah dengan potensi suara terbanyak, agar mendulang lebih dari 3,8 juta suara.

Di DKI Jakarta dengan 7,21 juta pemilih tetap, pasangan nomor urut 01 ini harus memenangkan 3,67 juta suara agar unggul 51 persen. Jakarta Timur dan Jakarta Barat merupakan daerah dengan estimasi pemilih paling banyak. Jokowi-Ma’ruf bisa mengamankan sekitar 3,7 juta suara jika mampu menang di kedua daerah tersebut.

Selanjutnya, di Jawa Barat yang jumlah pemilihnya paling banyak, yakni 32,63 juta, Jokowi-Ma’ruf harus memenangkan setidaknya 16,64 juta suara agar unggul 51 persen. Pasangan ini harus menang di setidaknya 9 wilayah demi mengamankan 17,62 juta suara.

Hitung-hitungan ini tentu tidak berlaku mutlak, sebab kecil kemungkinan ada kandidat yang memenangkan satu wilayah secara utuh. Namun, paslon harus unggul di wilayah dengan jumlah pemilih potensial yang besar agar menang.

Banten: 2014 Hampir Disapu Bersih Prabowo

Meski tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf sudah menyatakan pasangan yang mereka usung belum maksimal di ketiga provinsi tersebut, kita perlu memetakan wilayah mana yang berpotensi sebagai pendulang suara di 2019.

Di Banten, pada pemilu 2014, kubu Prabowo menang di tujuh dari delapan kabupaten/kota. Jokowi hanya menang di Kota Tangerang Selatan dengan selisih keunggulannya 3,4% dari Prabowo.

Selain Kota Tangerang Selatan yang sudah dipegang pada Pilpres 2014, wilayah lain di Banten yang berpotensi direbut Jokowi adalah Kab. Lebak dan Kota Tangerang, karena proporsi suara Jokowi masih cukup besar di kedua daerah tersebut (46,27% dan 45,94%). Ma'ruf Amin yang berasal dari Banten juga diharapkan bisa mengatrol perolehan suara pasangan ini.

Infografik Periksa Data Menghitung Peluang Suara Jokowi-Maruf
Infografik Periksa Data Menghitung Peluang Suara Jokowi-Maruf. tirto.id/Quita


Tugas Jokowi di Ibukota: Jaktim dan Jaksel

Di Ibukota, Jokowi menguasai empat wilayah pada Pilpres 2014, yakni Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu. Tugas selanjutnya adalah mengambil hati pemilih potensial di Jakarta Timur (2,02 juta orang) dan Jakarta Selatan (1,60 juta orang).

Infografik Periksa Data Menghitung Peluang Suara Jokowi-Maruf
Infografik Periksa Data Menghitung Peluang Suara Jokowi-Maruf. tirto.id/Quita


Jawa Barat: PR Besar untuk Tim Jokowi

Daerah selanjutnya adalah Jawa Barat. Jokowi-Ma’ruf punya tugas berat di provinsi ini karena pada 2014, Jokowi hanya menguasai lima wilayah saja. Daerah-daerah dengan pemilih potensial besar seperti Kab. Bogor, Kab. Bandung, dan Kab. Bekasi masih dikuasai Prabowo.

Infografik Periksa Data Menghitung Peluang Suara Jokowi-Maruf
Infografik Periksa Data Menghitung Peluang Suara Jokowi-Maruf. tirto.id/Quita


Seperti yang telah dibahas, agar unggul 51% di Jawa Barat, Jokowi perlu habis-habisan di Jawa Barat. Tidak hanya mengamankan suara di daerah yang telah dikuasai pada Pilpres 2014, tim ini juga harus memasang strategi baru untuk mengambil hati daerah yang dikuasai saingan politik.


Hal lain yang patut diperhatikan adalah basis suara partai. Pada Pilpres 2014, PDI Perjuangan sebagai partai pendukung utama Jokowi mendulang suara paling banyak di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Namun, dalam kurun waktu tiga tahun hingga 2018, persaingan politik sangat ketat.

Pada Pilkada Jakarta 2017 misalnya, calon gubernur yang didukung PDI Perjuangan, Basuki Tjahaja Purnama, kalah pada Pilkada Jakarta. Hal sama juga terjadi pada Pilkada Banten 2017, ketika Rano Karno juga gagal memenangkan kursi gubernur Banten.

Sementara itu, di Jawa Barat PDI Perjuangan boleh jadi tidak mendukung Ridwan Kamil saat Pilkada Jawa Barat 2018. Namun, Ridwan Kamil sendiri telah memastikan dukungannya terhadap Jokowi.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Politik)


Penulis: Irma Garnesia
Editor: Maulida Sri Handayani