Menuju konten utama

Mangrove Wujudkan Kebaikan Lingkungan & Ekonomi di Delta Mahakam

Melalui program M4CR, intervensi pemerintah untuk merehabilitasi hutan mangrove di Delta Mahakam juga memberikan manfaat ekonomi bagi banyak warga.

Mangrove Wujudkan Kebaikan Lingkungan & Ekonomi di Delta Mahakam
Kawasan Mangrove di Delta Mahakam. (FOTO/Istimewa)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Delta Mahakam, delta terbesar di Indonesia yang didominasi oleh ekosistem mangrove, tengah mengalami bencana degradasi luar biasa akibat alih fungsi lahan. Mulanya kawasan hutan, sebagian besar Delta Mahakam sekarang berubah menjadi area pertambakan alias empang.

“Tahun 70-an, jumlah mangrove di Kalimantan Timur mencapai 950 ribu hektar, tapi sekarang tersisa sekitar 17 ribu hektar saja,” kata Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, di Pendopo Odah Etam, Samarinda, dikutip pada Kamis (20/11/2025).

Keterangan Seno menegaskan, deforestasi di Delta Mahakam sudah lebih dari 80 persen dan angka tersebut sudah lebih dari cukup untuk membunyikan alarm bahaya.

Mangrove, kita tahu, adalah benteng pesisir. Selain sebagai sabuk hijau yang menjaga wilayah pesisir dari bencana, mangrove juga berfungsi menyerap emisi karbon dan efek gas rumah kaca. Daya serap mangrove bahkan empat kali lebih besar daripada hutan hujan tropis lainnya.

Penelitian yang dilakukan Arifianti dkk pada 2021 menyatakan, rata-rata simpanan karbon di hutan mangrove Indonesia mencapai 1.063 Mg ha-1, lebih tinggi daripada nilai rata-rata secara global, yakni 856 ± 32 Mg C ha-1. Studi lain menyebutkan, satu hektar ekosistem mangrove sanggup menyerap 39,75 juta ton CO2 per tahun.

Artinya, betapa signifikan peran hutan mangrove dalam mengurangi polusi, sehingga keberadaannya bisa menjadi jawaban strategis atas isu perubahan iklim yang tengah menjadi pembicaraan banyak kalangan di tataran global.

Intervensi M4CR di Delta Mahakam

Sejak 2021, pemerintah Indonesia melakukan intervensi rehabilitasi hutan mangrove di Kawasan Delta Mahakam. Jika dulu operatornya adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), sekarang dijalankan oleh Kementerian Kehutanan bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Koordinator Pangan, dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup melalui program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR).

M4CR, program dengan pendekatan lanskap dan pemberdayaan komunitas, mendapat dukungan pendanaan dari World Bank. Melalui M4CR, Kementerian Kehutanan memadukan pendekatan ekologis dan sosiologis untuk mengoptimalkan target rehabilitasi lahan yang juga bisa memberi dampak ekonomi bagi warga masyarakat.

"Kunci keberhasilan dari setiap program restorasi adalah ketika masyarakat sekitar merasakan manfaat langsung dan akhirnya menjadi penjaga utama ekosistem tersebut," ujar Guru Besar Kehutanan Universitas Mulawarman, Prof. Irawan Wijaya Kusuma di Samarinda, dikutip Kamis (20/11/2025).

Konteks pernyataan Irawan adalah kolaborasi antara Universitas Mulawarman bersama Pertamina, Pertamina Hulu Mahakam, dan Pertamina Foundation. Semua institusi tersebut, sebagaimana halnya M4CR, punya komitmen sama kuat terkait rehabilitasi dan restorasi mangrove di Delta Mahakam.

Dalam laporan kinerja M4CR tahun 2024, Manajer M4CR PPIU Kalimantan Timur, Asman Azis,menyebut capaian lahan yang sudah direhabilitasi di Kalimantan Timur adalah 4.445 hektar. Selain itu, M4CR Kalimantan Timur juga menjalankan sekolah lapang penanaman pada 33 kelompok masyarakat (Pokmas) dan menyalurkan 13 paket Matching Grant untuk menunjang pengembangan ekonomi komunitas.

Dengan capaian di atas, M4CR telah membuat luasan lahan rehabilitasi mangrove dari 174.000 hektar bertambah menjadi 178.445 hektar. Angka tersebut boleh jadi belum terlalu signifikan untuk memulihkan deforestasi di Delta Mahakam. Namun, inilah bukti bahwa pelan tapi pasti, upaya rehabilitasi M4CR telah memberi sumbangsih nyata bagi pengembalian ekosistem mangrove di lingkungan pesisir.

“Mulai 21 November hingga 4 Desember 2025 ini, kami akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap hasil penanaman tahun 2024 seluas 4.445 hektar itu. Kami sudah melakukan pembekalan terhadap 124 orang yang akan kami turunkan ke lapangan untuk mendapatkan data otentik berapa yang hidup, berapa yang mati, bagaimana kualitas pertumbuhannya, dan lain-lain. Ini akan menjadi data acuan untuk kegiatan penyulaman (P2) di tahun 2026 nanti, sehingga target kita menghijaukan kembali Delta Mahakam dengan luasan yang sudah dicapai itu betul-betul maksimal,” jelas Asman.

INfografik Visual Story M4CR 2

Infografik Mangrove Sumber Harapan Baru bagi Ekonomi & Ketahanan Pesisir. tirto.id/Mojo

Pada 2025, lanjut Asman, M4CR Kalimantan Timur menargetkan penanaman mangrove di area seluas 2.661 hektar. Luasan ini diproyeksikan dari sebaran lahan di Kabupaten Kutai Kartanegara (2.887 hektar) dan Kabupaten Berau (392 hektar). Total keduanya adalah 3.279 hektar.

Pada akhir Oktober lalu, prakondisi dan Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa) untuk sebagian lahan tersebut dilakukan. Hasilnya, berdasarkan usulan 16 Pokmas, luasan lahan penanaman yang telah diverifikasi dan kondisi sosial serta biofisik-nya dipastikan layak mencapai 1.511 hektar, setara dengan 56,78% dari luasan yang menjadi target M4CR tahun 2025.

Lahan yang sudah diverifikasi itu tersebar di dua kecamatan, yakni: Kecamatan Anggana (Desa Muara Pantuan dan Sepatin) dan Kecamatan Muara Badak (Desa Muara Badak Ulu dan Saliki). Untuk pola tanam, semua pihak menyepakati menggunakan pola silvofishery 800 batang/hektar. Namun, satu kelompok, yakni Kelompok Putri Pesisir, mengusulkan pola pengayaan 1.000 batang/hektar dengan luasan lahan penanaman 138 hektar.

Pola silvofishery adalah sistem budidaya perikanan terpadu yang menggabungkan usaha perikanan dengan penanaman dan pelestarian hutan mangrove. Ini biasanya diterapkan di tambak aktif. Sementara pengayaan adalah peningkatan jumlah penanaman di areal yang sudah ditanami mangrove, tapi ada ruang-ruang kosong yang perlu diisi dengan penanaman baru. Ini biasanya diterapkan di tambak yang sudah tidak aktif, guna memperluas tutupan lahan.

Proyek tahap satu ini diproyeksikan akan menyerap 684 tenaga kerja lokal yang memberikan sumbangsih ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Program Livelihood dan Keterlibatan Perempuan

Body Artikel 1 M4CR 2

Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) “Pesona Wanita Pesisir”. (FOTO/Istimewa)

Selain program penanaman (rehabilitasi lahan), M4CR juga menggarap sektor mata pencaharian (livelihood) melalui mekanisme Matching Grant.

Matching Grant adalah program bantuan ekonomi berbentuk peningkatan kapasitas (pelatihan/sekolah lapang) dan modal produksi/budidaya untuk peningkatan penghasilan bagi kelompok yang telah melakukan kegiatan penanaman mangrove pada tahun sebelumnya atau pada tahun berjalan.

Matching Grant dimaksudkan sebagai insentif atas kegiatan konservasi mangrove yang telah dilakukan warga sekaligus sebagai trigger untuk memperkuat aspek ekonomi. Dengan adanya program ini, aktivitas ekonomi tambak yang dilakukan warga dipastikan berjalan beriringan dengan upaya konservasi lingkungan dan memperkecil ruang eksploitasi lahan (deforestasi) lanjutan.

Singkatnya, dengan mengikuti kerja-kerja konservasi, warga mendapatkan nilai tambah ekonomi melalui support program livelihood M4CR.

Salah satu kelompok yang menerima bantuan dari M4CR adalah Kelompok Tani Hutan (KTH) Buji Sejahtera di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara. Kelompok ini menerima bantuan bibit udang alias benur sebanyak 74 paket atau setara dengan 1.850.000 ekor dari M4CR. Bantuan ini diberikan sebagai insentif atas kegiatan silvofishery yang mereka lakukan pada 2024.

“Kami mendapatkan insentif benih udang senilai 1 juta rupiah per hektar. Jadi, kalau dikalikan jumlah luasan lahan penanaman kelompok kami 74 hektar, kami dapat 74 juta rupiah. Uang itu kami belanjakan dalam bentuk benur dan dibagikan ke anggota kelompok,” jelas Hatijah, ketua KTH Buji Sejahtera.

Menurut Hatijah, setiap hektar lazimnya diisi 5.000 bibit, tergantung kondisi dan kualitas tambak. Setiap lima hektar lahan dapat menghasilkan panen 3-5 kuintal udang dengan harga jual tergantung grade.

“Biasanya, yang paling kecil 100 ribu per kilo dan yang besar bisa mencapai 225 ribu per kilo,” jelas Hatijah. Ia menyakinkan bahwa program rehabilitasi mangrove dan bantuan insentif yang menyertainya sangat baik dan bermanfaat.

Body Artikel 2 M4CR 2

Produk amplang ikan bandeng dari Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) “Pesona Wanita Pesisir”. (FOTO/Istimewa)

Selain KTH Buji Sejahtera, Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) “Pesona Wanita Pesisir” juga tercatat sebagai salah satu penerima Matching Grant M4CR. Kelompok ini berdomisili di Desa Saliki, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara. Sesuai dengan jenis kelompoknya, kelompok ini fokus pada produksi dan pemasaran produk-produk olahan berbasis perikanan hasil budidaya, yakni keripik udang dan amplang bandeng.

“Produk utama kami keripik udang. Selain itu, ada amplang ikan bandeng dan kue-kue kering. Kue-kue kering biasanya ramai di bulan puasa, menjelang hari raya,” tutur Hj. Suliyati, Ketua Poklahsar Pesona Wanita Pesisir. Ia mengaku kelompoknya mendapatkan bantuan dari M4CR sejumlah 150 juta rupiah, dibelanjakan untuk peningkatan rumah produksi dan pembelian peralatan produksi.

“Alhamdulillah kami sangat terbantu dengan bantuan itu,” sambung Suliyati, sosok yang juga memimpin KTH Abadi.

Kedua kelompok di atas merupakan kelompok produktif yang dipimpin oleh perempuan. KTH Buji Sejahtera memiliki 30 orang anggota, empat di antaranya adalah perempuan. Sementara Poklahsar Pesona Wanita Pesisir beranggotakan 10 orang, semuanya perempuan.

Ini menunjukkan bahwa peran perempuan di sektor publik dan kepemimpinannya diterima oleh masyarakat. Selain kedua kelompok tersebut, ada satu KTH lagi yang juga dipimpin oleh perempuan, yakni KTH Muara Sejahtera Makmur Desa Sepatin Kecamatan Anggana Kabupaten Kutai Kartanegara.

Pada 2025, ada 28 kelompok masyarakat yang menjadi kandidat penerima Matching Grant M4CR. Rinciannya, 4 kelompok di Kecamatan Muara Badak, 20 kelompok di Kecamatan Anggana, 3 kelompok di Kecamatan Muara Jawa, dan 1 kelompok di Kecamatan Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara.

Menurut Market Connection Assistant and Business Coach Supervisor M4CR PPIU Kalimantan Timur, Suhardi Pratopo, para kandidat tersebut akan dibimbing menyusun proposal bisnis demi mendapatkan Matching Grant M4CR.

“Jadi, proposal bisnis mereka akan dinilai oleh komite investasi dan ditetapkan mana yang layak untuk didanai lewat skema matching grant,” ungkapnya.

Setelah menerima Matching Grant, kelompok-kelompok tersebut akan terus didampingi bisnisnya hingga mandiri, termasuk menghubungkan mereka ke jaringan pasar sehingga sirkulasi bisnis yang dijalankan kelompok akan semakin baik dan menghasilkan income yang berkelanjutan.

Model Komprehensif yang Sangat Krusial dan Menguntungkan

Guru Besar Kehutanan Universitas Mulawarman Prof. Irawan Wijaya Kusuma menyebut bahwa kerja-kerja rehabilitasi dan restorasi mangrove di Delta Mahakam yang beririsan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan sebuah upaya komprehensif.

“Apa yang kita lihat di Delta Mahakam adalah sebuah model komprehensif yang mengintegrasikan pemulihan alam dengan peningkatan kualitas hidup warga,” kata Irawan.

Untuk mencapai ekonomi berkelanjutan tentu diperlukan daya dukung lingkungan. Sebab itu, program “sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau terlampaui” yang diinisiasi M4CR dan lembaga lain di Delta Mahakam menjadi sangat krusial.

Karenanya, komitmen dan konsistensi kelompok masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan mangrove menjadi kunci penting dalam kegiatan ekonomi pesisir berbasis tambak budidaya di kawasan perhutanan.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman, Prof. Dr. Esti Handayani Hardi, menyatakan bahwa Mangrove bukan hanya sebagai pelindung pesisir, tetapi juga mampu menyuburkan tanah tambak, memperbaiki kualitas air, serta meningkatkan hasil budidaya perikanan.

“Jadi, mangrove bukanlah hambatan bagi kelangsungan budidaya ikan di tambak, melainkan justru sebagai mitra petambak dalam menjaga keberlanjutan usaha," jelas Esti.

Pernyataan Prof. Esti sangat diperlukan mengingat adanya isu miring dan ketakutan beberapa kelompok masyarakat yang menilai keberadaan mangrove bakal meracuni tambak mereka. Padahal, hasil penelitian akademik dan praktik di lapangan menunjukkan fakta sebaliknya: mangrove akan meningkatkan kualitas dan hasil budidaya ikan di tambak, alih-alih menghancurkannya.

Pernyataan Esti dirasakan betul oleh Ketua KTH Ramah Lingkungan Desa Muara Badak Ulu, Subhan. Menurutnya, keberadaan mangrove memang sangat membantu produktivitas tambak.

“Dulu, saya ada tiga petak. Yang dua petak saya bersihkan mangrovenya. Yang satu saya biarkan. Tahun pertama dan kedua, yang dua petak saya bersihkan ini bagus, tapi di tahun ketiga dan seterusnya, produksinya turun. Sementara yang saya biarkan mangrovenya tadi semakin produktif. Di situ ada benur, banyak kepiting, banyak sumber makanan buat ikan,” ungkap Subhan.

Pengalaman itulah yang membuat Subhan dapat menjawab keluhan warga yang produktivitas tambaknya menurun. Subhan menyarankan warga yang memiliki tambak agar menanam mangrove.

Kampanye menggalakan penanaman kembali mangrove pada lahan-lahan yang dulunya dibuka untuk pertambakan sehingga mengalami deforestasi harus terus dilakukan oleh banyak pihak, tanpa mengurangi peluang ekonomi masyarakat yang menitikberatkan penghidupannya di sektor perikanan budidaya.

Bagaimanapun, upaya rehabilitatif ini akan semakin meningkatkan hasil ekonomi mereka, seiring kegiatan konservasi mangrove yang mereka lakukan turut menguatkan daya dukung lingkungan pada usaha budidaya mereka.

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis