Mampus Kau Dikoyak-Koyak Sepi di Ibukota

Oleh: M Faisal - 22 April 2018
Dibaca Normal 4 menit
Selain menyebabkan ritme rutinitas bergerak begitu cepat, kehidupan di kota besar seperti Jakarta juga memancing kesepian akut.
tirto.id - Bagi Sofia Coppola, tahun 2003 adalah momentum yang membuatnya campur aduk. Filmnya yang rilis pada waktu itu, Lost in Translation, banjir pujian dan menang piala Oscar untuk kategori Naskah Asli Terbaik. Namun, di lain sisi, relasi asmaranya yang dijalin bersama Spike Jonze selama empat tahun, kandas.

Lost in Translation berkisah mengenai Charlotte (Scarlett Johansson) yang pergi ke Tokyo untuk menemani suaminya bekerja. Ia berharap mendapatkan bulan madu yang berkesan, akan tetapi yang ada justru sebaliknya; suaminya sibuk cari duit sementara Charlotte hanya mondar-mandir tak jelas seperti orang kebingungan.

Di tengah-tengah kegundahan itu, ia bertemu Bob Harris (Bill Murray), aktor kawakan yang masa kariernya sudah berada di fase senjakala. Keduanya lantas membentuk kedekatan yang dilandasi kenyamanan.

Sepuluh tahun setelah Lost in Translation dirilis ke publik, Jonze membuat Her; film yang bercerita tentang percintaan manusia bernama Theodore (Joaquin Phoenix) dengan software kecerdasan buatan, Samantha. Sama seperti Lost in Translation, Her juga menuai respons yang positif serta mendapatkan penghargaan Naskah Asli Terbaik di ajang Oscar. Kendati terdengar absurd, apa yang disajikan Jonze melalui Her justru berhasil menyentuh penontonnya.

Jarak Tokyo dan Los Angeles yang menjadi latar dua film di atas kira-kira mencapai 5.474 km. Tapi, fakta tersebut tidak menutupi satu hal bahwa konflik yang dialami Charlotte dan Theodore dibangun atas narasi sama berwujud kesepian kala tinggal di kota besar.

Terasing di Tengah Gedung-Gedung Bertingkat

Apa yang dialami Charlotte dan Theodore banyak dialami pula oleh mereka yang tinggal di kota-kota besar di seluruh dunia. Kota, seperti kita ketahui, adalah tempat berkumpulnya segala kegiatan; dari perdagangan, pemerintahan, politik, sampai kebudayaan. Ia juga dituju banyak orang yang ingin menggapai mimpi. Namun, di balik segala gegap gempita, kota nyatanya menyimpan masalah kronis bernama kesepian bagi para penghuninya.

“Kamu bisa kesepian di mana saja,” tulis Olivia Lang dalam bukunya, The Lonely City (2016). “Tapi, ada perasaan tersendiri ketika kesepian itu datang saat kita tinggal di kota yang mana dikelilingi jutaan orang.”

Lima tahun silam, ComRes—lembaga konsultasi riset pasar dari Inggris—menemukan sebanyak 52% masyarakat London berada dalam kondisi kesepian. Hasil riset itu menuntun pada pemberian status untuk London sebagai “kota paling kesepian di Inggris.”

Kesepian yang dirasakan orang London ditanggapi serius oleh pemerintah. Saking seriusnya, pada pertengahan Januari lalu, Perdana Menteri Inggris, Theresa May, menunjuk Tracey Crouch, pejabat bidang olahraga dan masyarakat sipil di Kementerian Kebudayaan untuk menanggulangi fenomena itu. Dalam pernyataan resminya, May menjelaskan kesepian merupakan kenyataan yang menyedihkan di masa kehidupan yang sudah serba modern.


Hal serupa terjadi di Stockholm, ibukota Swedia. Data memperlihatkan, sekitar 58% orang di Stockholm hidup sendiri. Angka ini, seperti ditulis The Guardian, merupakan yang tertinggi di daratan Eropa.

Kondisi demikian tak berubah kala bergeser ke Amsterdam. Vice dalam laporannya berjudul “What It’s Like to Be Young and Extremely Lonely in a Big City” menjelaskan bahwa kebanyakan anak-anak muda dari daerah lain yang datang ke Amsterdam untuk sekolah mengalami kesepian. Menurut para mahasiswa ini, mereka kesepian karena “sulitnya membuat koneksi baru di kota asing.”

Di Perancis, yang tersaji setali tiga uang. Merujuk hasil survei Fondation de France, seperti dikutip The Local, makin banyak orang Perancis—termasuk kalangan muda—dilanda kesepian karena jaminan keselamatan kerja yang buruk, turunnya gaji, serta terputusnya hubungan sosial dengan keluarga, teman, maupun komunitas. Hasil survei tersebut turut memperlihatkan, dari sekitar 5.000 koresponden yang diwawancarai via telepon, 13% di antaranya tinggal di kota-kota besar.

“Orang-orang ini tidak memiliki pekerjaan atau teman. Ditambah lagi, kepercayaan diri mereka sangat sedikit. Kita perlu turun tangan membantu mereka kembali membangun hubungan,” ungkap Odile de Laurens dari Fondation de France.

Tak hanya di Eropa, kesepian juga menyerang orang-orang yang hidup di kota-kota besar benua Amerika dan Asia. Di New York, misalnya. Dalam reportasenya yang dimuat di New York Magazine, Jennifer Senior menyebutkan, kesepian orang-orang New York bisa dilihat dengan banyaknya rumah atau hunian yang hanya ditinggali satu orang.

Tingkat hunian yang hanya didiami satu orang di New York mencapai 50,6%, dengan tiga perempat di dalamnya merupakan individu berusia di bawah 65 tahun. Sederhananya, satu dari tiga rumah di New York dapat dipastikan diisi satu orang saja.


Sedangkan di Vancouver, Kanada, menurut laporan Vancouver Foundation, hampir sepertiga populasi di seluruh wilayah Vancouver yang berusia 18 sampai 24 tahun mengalami kesepian. Laporan tersebut turut memperlihatkan 37% individu dengan penghasilan $20 sampai $40 ribu mengaku “banyak menghabiskan waktu sendirian.”

Kesepian juga hadir di tengah kesibukan warga Tokyo, Jepang. Penyebabnya antara lain ialah tuntutan pekerjaan yang begitu tinggi. Walhasil, waktu mereka hanya berfokus pada rutinitas kerja, kerja, kerja. Tak ada kesempatan menjalin relasi sosial, apalagi asmara. Ihwal hal tersebut, NLI Research Institute memprediksi pada 2020, kesepian akan menjadi kewajaran bagi masyarakat Jepang.

Emma Harries dalam “Social Isolation and Its Relationship to the Urban Environment” (PDF), menyatakan bahwa tak dapat dipungkiri kota memang menghadirkan sejumlah peluang besar yang mungkin tak pernah terbayangkan. Kota-kota ini, catat Emma, mendorong inovasi yang penuh dengan budaya serta pengetahuan.

Namun, kota-kota besar juga mendukung isolasi sosial. Sejumlah penyebabnya adalah semakin padatnya penduduk yang tinggal di perkotaan, perencanaan tata kelola kota yang buruk, sampai sedikitnya ruang hijau dan jalur pejalan kaki. Ketiganya, catat Emma, membuat orang-orang di kota besar “berisiko mengalami isolasi sosial.”

Jangan Diremehkan

“Jujur, baru kali ini, di Jakarta, aku bener-bener ngerasa kesepian. Di tengah banyaknya orang yang tinggal di Jakarta, aku seperti tanpa temen. Beda sama waktu dulu ketika masih di Semarang,” aku Adi Ramadani. “Makin ke sini aku makin mikir kalau ini [kesepian] masalah yang serius.”

Saat mengungkapkan pengakuan tersebut, wajah Adi, desainer salah satu agensi iklan di Jakarta Pusat, nampak serius. Ia sedang tak bercanda. Menurut Adi, masalah kesepian yang dirasakan tatkala tinggal di Jakarta selama hampir tiga tahun—kendati ia punya pacar—bukanlah persoalan sepele yang akan hilang dengan sendirinya.

Yang disampaikan Adi ada betulnya. Kesepian di kota besar bukanlah hal remeh. Apalagi jika Anda terus-menerus menjadikannya bahan lelucon tiap malam Sabtu untuk menyindir teman yang nirpasangan. Masalah kesepian, perlu dicatat dengan jelas, juga berhubungan dengan kesehatan.

Dalam “Loneliness: A Disease” (2013) yang terbit di Indian Journal Psychiatry, Sarvada Chandra Tiwari mengatakan kesepian tidak lagi menjadi peristiwa. Kesepian, tulis Tiwari, ialah keadaan dengan “epidemiologi, fenomenologi, etiologi, kriteria diagnostik, sampai efek samping” yang harus dianggap sebagai penyakit serta sesegera mungkin ditemukan tempatnya dalam klasifikasi gangguan kejiwaan.


Kesepian, menurut penelitian Tiwari, dapat menyebabkan depresi, masalah tidur, nafsu makan terganggu, gangguan kepribadian, ketergantungan alkohol, penyakit fisik, menurunnya sistem kekebalan tubuh, kecemasan ekstrim, sampai gangguan kardiovaskular. Bahkan, kesepian mampu memicu perilaku bunuh diri seperti yang umum terjadi di Jepang.

Di Jepang sendiri, angka kematian yang disebabkan akibat kesepian terus melonjak. Seperti diwartakan Japan Times, pada 1987, jumlah mereka yang meninggal sendirian (tanpa diketahui orang lain)—dalam istilah Jepang disebut kodokushi—sebanyak 788 orang. Memasuki 2002, angka itu naik menjadi 2.362.

Infografik Di tengah keramaian aku masih merasa sepi


Meski begitu, kesepian bukan kondisi yang tak dapat diubah. Tiwari menegaskan, kesepian bisa diobati dengan aktif dalam berbagai kegiatan, membantu orang lain, tak mencari pelarian, menjaga komunikasi dengan keluarga, sampai mengembangkan hubungan yang berkualitas bersama orang-orang yang punya minat atau ketertarikan sama.

Senada dengan Tiwari, Adam Sinicki dalam “How to Avoid Feeling Lonely in the Big City” yang dipublikasikan Health Guidance menyebut langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengusir kesepian di kota besar di antaranya ialah tinggal di kawasan pinggiran kota, berbagi tempat hunian dengan orang lain jika masih hidup sendiri, bergabung dengan komunitas, berkenalan dengan orang baru, hingga mencoba kencan daring.

Hanya Satu Kata: Lawan

"Ungkapan terkenal bahwa orang akan merasa paling kesepian di tengah kerumunan berlaku bagi banyak penduduk kota besar seperti London, yang secara konsisten berada di atas indeks kesepian Inggris,” ungkap Polly Akhurst dari Talk to Me, salah satu proyek yang dirintis untuk melawan kesepian.

Talk to Me London berangkat dari kegelisahan Akhurst akan minimnya interaksi antar individu yang berandil besar dalam terciptanya perasaan kesepian ketika tinggal di London. Melalui Talk to Me, Akhurst ingin mendorong tumbuhnya percakapan antar individu. Kini, tulis The Guardian, inisiatif yang dicetuskan Talk to Me telah mendunia.

Upaya-upaya melawan kesepian tak cuma berasal dari proyek macam Talk to Me. Di bidang teknologi, muncul aplikasi bernama Huggle. Aplikasi ciptaan Valerie Stark ini berawal dari dari pengalaman Stark yang kesepian saat pindah dari Moskow ke London. Kepada The Independent ia mengungkapkan bahwa kesepiannya termanifestasi dalam makan malam sendirian di tempat yang trendi hingga kesulitan untuk ngobrol dengan pengunjung lainnya.

Dari situ, ia lantas memperoleh inspirasi untuk mengusir keterasingan dengan teknologi. Lalu jadilah Huggle, aplikasi yang menghubungkan orang-orang dengan ketertarikan yang sama—restoran favorit, hobi, minat, dan lain sebagainya.

“Teknologi dapat menjadi bagian dari solusi penyelesaian masalah kesepian asalkan diiringi kontak nyata, dalam hal ini tatap muka,” tegas Laura Alcock-Ferguson, Direktur Eksekutif Campaign to End Loneliness.

Kesepian memang menyedihkan. Terlebih ketika hari-hari dihabiskan dengan menyelesaikan tenggat pekerjaan, jauh dari keluarga, teman dekat, dan hal-hal lain yang biasa dilakukan sebelum menginjakkan kaki di rimba urban. Tapi, itu bukan jadi alasan untuk terus-terusan mengeluh. Sudah saatnya segera bangkit dan mengubah kesepian jadi relasi-relasi yang bermakna.

Baca juga artikel terkait KESEPIAN atau tulisan menarik lainnya M Faisal
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: M Faisal
Penulis: M Faisal
Editor: Windu Jusuf