Menuju konten utama

LDP Kuasai Parlemen Jepang di Pemilu Sela dan Ini Dampaknya

Partai Demokrat Liberal (LDP) yang selama ini mendukung PM Sanae Takaichi memperoleh dominasi di kursi parlemen Jepang setelah unggul di pemilu sela.

LDP Kuasai Parlemen Jepang di Pemilu Sela dan Ini Dampaknya
Gedung Parlemen Jepang. foto/istockphoto

tirto.id - Partai Demokrat Liberal (LDP) berhasil menguasai parlemen Jepang dalam Pemilu Sela Majelis Rendah pada Minggu (8/2/2026). Dengan hasil ini, Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi memperoleh suara mutlak yang bisa mendukungnya dari unsur parlemen. Apa saja dampaknya ke depan?

LDP dilaporkan berhasil mencatatkan rekor kemenangan baru dalam pemilu. Seturut Asahi Shimbun, partai penguasa Jepang kini itu telah mengamankan dua pertiga suara Majelis Rendah.

Dari total 465 kursi parlemen, LDP disebut telah mengamankan setidaknya 310 kursi. Kemenangan ini jadi yang terbesar bagi semua partai politik dalam sejarah Jepang sejak Perang Dunia II.

Sebelumnya, pemilu pada Minggu tersebut digelar setelah PM Sanae Takaichi membubarkan Majelis Rendah Jepang pada akhir Januari 2026 lalu.

Takaichi yang popularitasnya meningkat di kalangan publik mencanangkan pembubaran guna mengamankan dukungan dari parlemen. Sementara itu, ia saat ini tengah memiliki kebijakan yang berisiko dan ambisius.

Sebelum dibubarkan, LDP hanya memiliki mayoritas tipis suara di parlemen. Hal ini berpotensi "mengganggu" ambisi Takaichi terkait sejumlah kebijakan ambisius, termasuk rencana perubahan konstitusi Jepang terkait militer.

Dampak LDP Kuasai Parlemen Jepang

Kemenangan mutlak LDP dalam pemilu Majelis Rendah kini membuat Takaichi memiliki kuasa lebih dalam menerapkan kebijakan yang ia buat. Hal ini ditandai dengan rontoknya perolehan kursi partai oposisi.

Rontoknya suara oposisi itu dinilai sejumlah analis akan membuat kekuasaan Takaichi akan melenggang tanpa hambatan berarti. Pendiri Parley Policy Initiative, Michael MacArthur Bosack, dalam artikelnya untuk The Japan Times mengungkapkan hal itu.

Berikut sejumlah dampak yang berpotensi terjadi pasca kemenangan telak LDP dalam pemilu parlemen Jepang:

1. Kekuasaan "Mutlak" Takaichi

Dengan dua pertiga kursi parlemen telah diamankan LDP, Sanae Takaichi kini bisa dianggap memiliki kekuasaan yang sangat besar sebagai PM Jepang. Pemerintahan Takaichi kini dapat meloloskan undang-undang, sekalipun rancangannya ditolak Majelis Tinggi.

Dalam sistem pemerintahan Jepang, undang-undang inisiatif pemerintah dapat ditolak oleh Majelis Tinggi. Namun, keputusan Majelis Tinggi itu dapat dianulir oleh Majelis Rendah yang kini dikuasai partai Takaichi.

Takaichi kini memiliki opsi tersebut untuk meloloskan sejumlah kebijakan ambisiusnya. Analis menilai langkah Takaichi menggunakan opsi ini akan jadi krusial.

Penggunaan opsi tersebut pernah dilakukan para pendahulu Takaichi, seperti eks PM Yasuo Fukuda dan Shinzo Abe. Namun, penggunaan opsi ini justru berakhir dengan ketidakstabilan politik dan pada akhirnya menekan keberlangsungan masa jabatan PM.

2. Runtuhnya Oposisi

Kemenangan besar LDP juga berdampak buruk bagi partai oposisi di Jepang. Pemilu pada Minggu menunjukkan kegagalan mereka untuk setidaknya mempertahankan jumlah kursi parlemen.

Sebelum pemilu sela diadakan pada Minggu, oposisi terbesar Takaichi dalam parlemen adalah Aliansi Reformasi Tengah (CRA), yang merupakan gabungan dari Partai Demokrat Konstitusional (CDP) dan Komeito.

Aliansi ini sebelumnya memiliki 167 dari 465 kursi di parlemen. Namun, hasil pemilu pada Minggu menunjukkan aliansi itu hanya mampu memperoleh 49 kursi.

Hasil tersebut diperkirakan bakal membuat CRA tak lagi memiliki pengaruh politik signifikan di parlemen. Koalisi ini sebelumnya merupakan partai politik yang aktif menyerukan politik "keberagaman" dan "inklusi".

3. Kemunculan Oposisi Baru

Rontoknya suara partai oposisi utama tak hanya dijadikan momentum bagi LDP sebagai partai penguasa, melainkan pula pada partai-partai oposisi baru. Salah satunya adalah Team Mirai.

Partai Team Mirai adalah partai baru yang didirikan pada 2025 lalu. Partai ini disebut mengusung reformasi pemerintahan modern sebagai arah reformasi utamanya, dan diisi oleh para kader muda dengan rerata usia tak sampai 40 tahun.

Team Mirai berhasil meningkatkan jumlah kursinya dari 1 pada pemilu sebelumnya, menjadi 9 pada pemilu sela pada Minggu. Meskipun masih dianggap sebagai partai perintis, namun hal ini memberi sinyal akan perubahan arah politik publik Jepang pada poros politik pragmatis — tak lagi berbasis retorika ideologis.

4. Antara Kanan Jauh dan Pragmatisme

Banyak analis menilai kemenangan telak LDP sebagai perubahan arah politik Jepang menuju konservatisme sayap kanan. Keruntuhan oposisi dan kemenangan bagi sosok Sanae Takaichi yang konservatif banyak disebut sebagai tanda kecenderungannya.

Potensi Jepang yang mengarah ke konservatisme sayap kanan itu ada, namun analis Michael MacArthur Bosack menilai kemenangan LDP tak serta merta menunjukkan pergeseran politik Jepang ke kanan jauh.

Menurut Bosack, pemilu pada Minggu tak menunjukkan pertarungan politik konservatif vs progresif, atau kanan versus kiri. Justru, hasil pemilu pada Minggu menunjukkan para pemilih di Jepang mulai meninggalkan ide pertarungan dikotomis tersebut.

Para pemilih di Jepang, jelas Bosack, telah menunjukkan bahwa mereka lebih mendukung pada sosok politik yang responsif terhadap kebutuhan publik, alih-alih mereka yang menggunakan gaya politik berbasis ideologi lama.

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar