Menuju konten utama

Kunci Relevansi Brand di MMA Impact Indonesia 2025

Melalui MMA Impact Indonesia 2025, MMA Global memperkuat perannya sebagai penggerak ekosistem pemasaran dan periklanan Indonesia.

Kunci Relevansi Brand di MMA Impact Indonesia 2025
Suasana MMA IMPACT Indonesia 2025. (FOTO/dok. MMA)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Aliansi global di bidang pemasaran dan media, MMA Global Indonesia, menggelar MMA Impact Indonesia 2025 di The Ritz-Carlton Jakarta, Mega Kuningan, Kamis (6/11). Dengan mengusung tema besar “Powering Marketing for Growth | Act, Accelerate, and Advance", forum ini mempertemukan para pemimpin industri lintas sektor untuk membahas masa depan pemasaran di era kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital yang kian pesat.

“Kita sekarang ada di dunia data, inovasi, teknologi, kreativitas, ide, dan pertumbuhan. Kita harus melihat apa yang penting di sana," ujar Shanti Tolani, Country Head & Board of Director MMA Indonesia, dalam sambutannya.

Melalui MMA Impact Indonesia 2025, MMA Global memperkuat perannya sebagai penggerak ekosistem pemasaran dan periklanan Indonesia yang tangguh, berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan di era AI, serta mendorong kolaborasi dari para leader untuk mencari solusi bagi aneka tantangan yang dihadapi oleh industri.

"Jadi kalau leader, CEO, CMO, direktur, they come together, and they are honest, bener-bener terbuka, then the challenges can be easily solved," imbuh Shanti.

Salah satu sesi yang menjadi sorotan adalah “Leading in the Era of Disruption” yang menghadirkan Sri Widowati (Chief Executive Officer WPP Media) sebagai moderator Sutanto Hartono (CEO Emtek Media & Vidio), Axton Salim (Director Indofood), dan Yongky Susilo (Consumer & Retail Strategist). Para pembicara menyoroti pentingnya kelincahan dan inovasi strategis untuk menghadapi perubahan perilaku konsumen dan disrupsi digital, termasuk melakukan bisnis di luar kebiasaan perusahaan.

Diskusi dimulai dari pemaparan Sri yang menekankan bahwa disrupsi di industri media bergerak lebih cepat dibandingkan era-era sebelumnya. Hal ini didorong oleh teknologi yang turut berkembang amat cepat, serta perubahan perilaku konsumen. Menurutnya, saat ini Indonesia sedang ada dalam fase adaptasi teknologi yang stabil. Hal ini di satu sisi bisa menjadi fondasi pertumbuhan berikutnya, sekaligus membuat disrupsi baru seperti penggunaan AI ataupun social commerce.

“Di momen seperti ini, pemimpin bisnis harus mampu menyeimbangkan tiga hal penting: prinsip dasar komunikasi pemasaran, navigasi titik sentuh yang semakin terfragmentasi, dan optimalisasi investasi, untuk tetap relevan di tengah lanskap yang terus berubah,” tutur Sri.

Hal serupa turut diungkapkan oleh Sutanto. Menurutnya, disrupsi dan perubahan besar perilaku konsumen ini mendorong Emtek memperluas model bisnisnya. Meski media tetap menjadi inti, diversifikasi menjadi langkah penting untuk menghadapi dinamika pasar yang semakin kompleks.

Salah satu yang dilakukan oleh Emtek adalah menguatkan Vidio, yang dirancang sebagai pintu masuk model bisnis baru Emtek—menggabungkan pengalaman menonton dengan pengalaman berbelanja.

“Dengan memanfaatkan first-party data, Vidio memungkinkan penargetan produk secara personal dan membuka ruang kolaborasi, termasuk kerja sama dengan Shopee,” ujar Sutanto.

Sedangkan Yongki menjelaskan bahwa disrupsi dunia digital dapat bergerak ke arah yang baik maupun buruk. Namun, menurutnya, kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini justru lebih banyak menunjukkan dampak negatif.

Ia menilai bahwa dunia digital telah mengubah segalanya. Tak luput, ia juga menyoroti bahwa banyak pelaku baru di industri digital cenderung mencari jalan pintas. Salah satu hal yang paling mengkhawatirkan baginya adalah praktik banting harga atau predatory pricing yang terjadi di hampir semua platform belanja digital. Akibat dari praktik banting harga tersebut sangat sederhana namun serius.

“Loyalitas konsumen akan hilang. Banyak pihak mengira kualitas dapat dibangun melalui harga murah, padahal kenyataannya tidak demikian. Memberikan diskon terus-menerus justru melatih konsumen untuk tidak loyal,” tegasnya.

Di sisi lain, Axton juga menyoroti fenomena serupa, yakni bagaimana banyak brand masih terpaku pada pendekatan price-driven yang berisiko mengikis loyalitas pelanggan. Ia menjelaskan bahwa Indofood memilih pendekatan berbeda, yakni berfokus pada pengalaman otentik.

“Kami membangun rasa penasaran, pengalaman, momen, cerita. Banyak konten kampanye bahkan lahir dari pelanggan sendiri. Mulai dari video, foto, komentar, semua otentik,” ujarnya.

Pendekatan tersebut terbukti berhasil. Kampanye Indomie Yatai menghasilkan lebih dari 50 ribu pengunjung, engagement sosial mencapai 650 ribu, dan media value lebih dari Rp2 miliar. Dalam empat bulan, produk tersebut menjadi market leader di segmen premium dengan pertumbuhan lebih dari 150 persen.

Axton menekankan bahwa keberhasilan brand tidak hanya ditentukan oleh algoritma, data, atau penetrasi pasar, akan tetapi juga “ruang bagi konsumen untuk ikut bercerita”. Dengan itu, pemasaran tidak lagi sekadar persuasi, tetapi juga partisipasi dan kolaborasi.

“Pelanggan pasti akan selalu mencari sesuatu yang relevan, nyambung dengan mereka, dan otentik,” pungkasnya. []

Baca juga artikel terkait MMA atau tulisan lainnya dari Tirto Creative Lab

tirto.id - Marketing
Penulis: Tirto Creative Lab
Editor: Tirto Creative Lab