Menuju konten utama

KontraS Desak Panglima TNI Tarik Prajurit di Pulau Rempang

KontraS meminta Panglima TNI Laksamana Yudo Margono menarik para aparat di wilayah Rempang, Kepulauan Riau.

KontraS Desak Panglima TNI Tarik Prajurit di Pulau Rempang
Anggota Brimob Polda Kepri yang tergabung dalam Tim Terpadu membersihkan pemblokiran jalan yang dilakukan oleh warga Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau, Jumat (8/9/2023). Aksi pemblokiran jalan tersebut terkait pengembangan Pulau Rempang menjadi kawasan ekonomi baru dan rencana pemerintah yang akan merelokasi mereka ke wilayah lain. ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/nz

tirto.id - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) meminta Panglima TNI Laksamana Yudo Margono menarik para prajurit di wilayah Rempang, Kepulauan Riau. Kepala Divisi Riset dan Dokumentasi KontraS, Rozy Brilian mengklaim dengan adanya para pasukan dapat menimbulkan ketakutan di masyarakat.

"Bukan hanya minta maaf dia harus memerintahkan aparat di sana untuk menarik diri dari Pulau Rempang karena itu sudah menciptakan iklim ketakutan di tengah masyarakat," kata Rozy kepada Tirto, Rabu (20/9/2023).

Rozy mengakui saat menyambangi Pulau Rempang pada 11 September sampai 13 September 2023, masih melihat aparat militer menduduki posko pengamanan yang ada. Rozy juga memandang pernyataan yang diutarakan Yudo soal ucapan 'piting' pendemo menjadi pelajaran untuk berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan.

Rozy mengatakan Yudo merupakan pemimpin tertinggi yang menaungi tiga mantra, yakni TNI Angkatan Udara, Angkatan Darat, dan Angkatan Laut, yang bisa saja mengerahkan pasukan atas perintahnya itu.

"Dia kemarin ada 1000, satu-satu piting warga bukan hanya melukai warga rempang saja, tetapi merupakan sinyal bahwa TNI sebelumnya bisa digunakan untuk pengamanan-pengamanan bisnis semacam ini. Itu sangat berbahaya," kata Rozy.

Sebelumnya, Yudo meminta maaf atas pernyataan piting yang disampaikannya beberapa waktu lalu. Dia sebut, pernyataan piting keluar sebagai respons pernyataan pangdam setempat.

“Pernyataan piting, adalah menjawab pertanyaan dari Pangdam, sudah saya sampaikan bahwa itu seumpama, tidak ada saya mengerahkan pasukan karena memang tidak ada permintaan pengerahan pusat pasukan sebanyak itu, tapi kalau pengertian lain di masyarakat, pada kesempatan ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya," kata Yudo.

Yudo juga menegaskan TNI tidak melakukan operasi di Batam. Ia menekankan pasukan yang ada hanya untuk membantu misi kewilayahan di tingkat kodim maupun korem.

“Jadi tidak ada pengerahan pasukan bahkan saat awal sebelum terjadinya itu, saya sudah kirim Danpuspom TNI ke sini, jangan sampai TNI terlibat, kita kerahkan Puspom TNI untuk mengawasi itu, saya berharap pasukan TNI jangan arogan,” kata Yudo.

Sebelumnya juga beredar video viral Yudo Margono memberikan instruksi kepada para komandan satuan dalam penanganan aksi massa di Rempang. Dalam video tersebut, Yudo selaku Panglima TNI memerintahkan untuk memiting masyarakat yang berdemonstrasi.

Aksi piting merupakan teknik mengunci leher dengan menggunakan tangan sehingga orang sulit bergerak. Gerakan ini kerap dikaitkan dengan gerakan bela diri dan pertandingan gulat.

Baca juga artikel terkait BENTROK DI REMPANG atau tulisan lainnya dari Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id - Hukum
Reporter: Fransiskus Adryanto Pratama
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Intan Umbari Prihatin