Menuju konten utama

Kondisi Kritis Lereng Gunung Slamet Sebabkan Bencana di 4 Daerah

Perubahan alur sungai dan pendangkalan daerah aliran sungai menyebabkan daerah di lereng Gunung Slamet rentan mengalami bencana hidrometeorologi.

Kondisi Kritis Lereng Gunung Slamet Sebabkan Bencana di 4 Daerah
Kondisi terkini pancuran 13 Guci-Tegal, Minggu, (21/12/2025). (Foto: Itsma Imdadul/tegalterkini.id)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat rangkaian bencana hidrometeorologi melanda kawasan lereng Gunung Slamet, Provinsi Jawa Tengah, akibat curah hujan tinggi dengan durasi panjang yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Peristiwa tersebut mencakup banjir bandang, banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem yang menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur di sejumlah daerah.

Bencana dilaporkan terjadi di wilayah Kabupaten Purbalingga, Pemalang, Brebes, dan Tegal. Selain merusak permukiman dan fasilitas umum, kejadian ini juga menyebabkan gangguan akses wilayah serta memaksa sejumlah warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Di lereng timur Gunung Slamet, hujan dengan intensitas tinggi memicu banjir bandang dan angin kencang pada Jumat (23/1/2026) di Kecamatan Rembang dan Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Luapan sungai dari wilayah hulu membawa material sedimen berupa lumpur, batu, dan kayu yang menerjang permukiman warga.

“Luapan sungai di wilayah hulu disertai material sedimen berupa lumpur, batu dan kayu menerjang permukiman serta menutup akses jalan di Desa Serang dan Desa Kutabawa,” tulis BNPB dalam siaran pers resmi Minggu (25/1/2026).

Hasil kaji cepat sementara mencatat satu orang meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka-luka. Selain itu, satu unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat dan satu unit rumah rusak ringan akibat cuaca ekstrem. Banjir bandang juga menyebabkan terputusnya akses jalan menuju Dusun Gunung Malang dan Dusun Bambangan, serta putus totalnya Jembatan Kali Bambangan.

Sebanyak 31 kepala keluarga atau 110 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman di wilayah Desa Kutabawa. Hingga Sabtu (24/1) siang, hujan lebat masih mengguyur kawasan tersebut. Pemadaman listrik di sejumlah titik turut menghambat komunikasi dan upaya penanganan darurat.

Sementara itu, di lereng utara Gunung Slamet, wilayah Kabupaten Pemalang, banjir bandang terjadi sejak Jumat (23/1) sore hingga Sabtu (24/1) dini hari, sekitar pukul 17.30 WIB hingga 03.30 WIB. Curah hujan tinggi menyebabkan peningkatan debit sungai secara signifikan yang memicu banjir bandang di Desa Gunungsari, Desa Penakir, dan Desa Jurangmangu, Kecamatan Pulosari, serta Desa Sima, Kecamatan Moga.

“Dampak kejadian tersebut meliputi kerusakan empat unit rumah warga, satu unit fasilitas ibadah, serta kerusakan infrastruktur penghubung antarwilayah. Dua jembatan penghubung desa dilaporkan terputus, sementara Jembatan Sungai Reas mengalami kerusakan struktural,” tulis BNPB dalam rilisnya.

Bencana ini turut mengakibatkan satu orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat, dan sekitar 22 orang luka ringan. Sebanyak 119 warga terdampak terpaksa mengungsi dan saat ini ditampung di Kantor Kecamatan Pulosari.

Hingga laporan ini disusun, kondisi cuaca di wilayah terdampak masih didominasi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kabut dan angin kencang.

Selanjutnya, di kawasan lereng Gunung Slamet bagian barat atau wilayah Kabupaten Brebes, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang sejak Sabtu (24/1/2026) pukul 05.00 WIB memicu serangkaian bencana banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem. Kejadian tersebut melanda Kecamatan Sirampog, Kecamatan Bumiayu, dan Kecamatan Paguyangan.

Akibat peristiwa tersebut, sembilan unit rumah dilaporkan rusak berat dan hanyut, dua unit rumah mengalami kerusakan sedang, serta 11 unit rumah lainnya terdampak. Selain itu, sejumlah pohon tumbang menutup badan jalan dan menimpa jaringan listrik. Pergerakan tanah terjadi di Dukuh Pengasinan, sementara longsor dilaporkan pada tebing penahan Jalan Provinsi SirampogTuwel.

Banjir Kali Keruh turut merusak ruas jalan kabupaten Adisana–Cilibur sepanjang kurang lebih 30 meter dengan tinggi talud sekitar lima meter. Banjir bandang juga masuk ke permukiman warga di RT 01, 02, dan 04 RW 01. Hingga Sabtu siang, hujan masih berlangsung dan sebagian lokasi terdampak belum dapat dilakukan asesmen lanjutan akibat cuaca buruk serta padamnya aliran listrik.

Selanjutnya, di bagian barat laut lereng Gunung Slamet, banjir bandang kembali terjadi di kawasan Obyek Wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, pada Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 01.30 WIB. Hujan lebat yang disertai angin kencang memicu banjir bandang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Gung yang melintasi kawasan wisata tersebut.

BNPB mencatat kejadian ini merupakan banjir bandang kedua yang terjadi dalam waktu berdekatan di kawasan Obyek Wisata Guci. Dampak peristiwa tersebut menyebabkan perubahan morfologi alur sungai serta kerusakan sejumlah sarana dan prasarana wisata.

Kerusakan yang dilaporkan antara lain ambruknya Jembatan Jedor dan jembatan di kawasan Pancuran 13, rusaknya area wisata Pancuran 13 dan Pancuran 5, kerusakan jembatan gantung Pancuran 5, serta satu unit alat berat berupa excavator mini yang hanyut terbawa arus banjir.

“Tidak terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan rumah warga. Aktivitas wisata di beberapa titik terdampak dihentikan sementara guna mengurangi risiko terhadap keselamatan pengunjung,” tulis BNPB.

Faktor Pemicu Bencana di Lereng Gunung Slamet

Berdasarkan hasil kaji cepat BNPB yang mengacu pada analisis forensik bencana sementara, rangkaian kejadian bencana hidrometeorologi di kawasan lereng Gunung Slamet dipengaruhi oleh karakteristik wilayah yang memiliki topografi curam, jaringan sungai dengan hulu pendek, serta tingkat kerentanan tinggi terhadap peningkatan debit aliran permukaan (run off) saat terjadi hujan ekstrem.

Akumulasi curah hujan tinggi di wilayah hulu menyebabkan respons hidrologi yang cepat, sehingga memicu terjadinya banjir bandang dengan muatan sedimen tinggi dan meningkatkan potensi tanah longsor pada lereng serta tebing sungai. Selain itu, perubahan alur sungai dan pendangkalan di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) turut memperbesar risiko banjir di wilayah hilir.

Sebagai upaya mitigasi, BNPB mendorong penguatan pengelolaan daerah aliran sungai dan kawasan lereng Gunung Slamet secara terpadu. Langkah tersebut meliputi penataan dan normalisasi alur sungai, penguatan struktur pengaman tebing dan jembatan, serta pengendalian pemanfaatan ruang di zona rawan banjir bandang dan tanah longsor.

Dalam penanganan darurat, BNPB bersama BPBD kabupaten terdampak dan BPBD Provinsi Jawa Tengah terus melakukan koordinasi lintas sektor. Upaya yang dilakukan meliputi evakuasi warga terdampak ke lokasi aman, pengamanan area berbahaya, pembersihan material banjir dan longsor, pembukaan akses jalan yang terputus, pendataan korban dan kerusakan, serta pengelolaan lokasi pengungsian.

Selain itu, sebagai langkah mitigasi cuaca ekstrem dan percepatan penanganan bencana hidrometeorologi, BNPB melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk wilayah Jawa Tengah yang dioperasikan melalui Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Kegiatan ini mencakup penaburan bahan semai NaCl (natrium klorida) dan CaO (kalsium oksida) untuk mereduksi curah hujan berlebih di wilayah hulu dan meminimalkan risiko banjir bandang serta mempercepat proses penanganan darurat di wilayah terdampak

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Flash News
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Rina Nurjanah