Menuju konten utama

Komisi III Tegur Polri Usai Intel Ketahuan Menyusup Kampus UMY

Insiden intel Polri yang ketahuan masuk ke kampus UMY mendapat perhatian anggota Komisi III DPR RI Abdullah. Ia meminta kegiatan intelijen proporsional.

Komisi III Tegur Polri Usai Intel Ketahuan Menyusup Kampus UMY
Ilustrasi Kerusuhan. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, meminta Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengevaluasi anak buahnya, khususnya bidang intelijen. Hal ini terkait tertangkapnya seorang prajurit Bhayangkara di antara mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang baru saja kembali dari aksi demonstrasi di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Polisi yang menyamar tersebut merupakan anggota intelijen di Polda DIY. Ia datang ke UMY atas perintah atasannya.

"Saya meminta Polri, khususnya Polda DIY, menjalankan kegiatan intelijen secara proporsional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," kata Abdullah saat dihubungi Tirto, Sabtu (20/6/2026).

Menurutnya, polisi harus memiliki batas kewenangan dalam melakukan kerja spionase dan menghargai lingkungan akademik terutama saat para mahasiswa dan dosen menyampaikan aspirasinya. Sehingga tidak ada persepsi negatif dari masyarakat kepada Polri.

"Personel intelijen harus memahami batas-batas kewenangannya agar tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat. Kasus terungkapnya keberadaan intel di lingkungan kampus UMY harus menjadi bahan evaluasi bagi Polri," tegasnya.

Abdullah berjanji akan menyampaikan keresahan para mahasiswa dan dosen tersebut kepada Listyo secara langsung dalam rapat kerja terdekat bersama Polri. Politisi PKB tersebut menyebut monitoring dan evaluasi (Monev), termasuk kinerja intelijen harus dilakukan termasuk oleh Kapolri selaku pemimpin institusi.

"Monev ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM atau intelijen Polri agar semakin profesional dan proposional dalam menjalankan tugas dan fungsinya serta menjawab tantangan zaman," jelasnya.

Abdullah juga mengapresiasi seluruh civitas akademika UMY yang menurutnya mampu menyelesaikan persoalan ini secara bijaksana melalui dialog dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip demokrasi.

"Penyelesaian yang damai menunjukkan kedewasaan semua pihak dalam menyikapi perbedaan pandangan sekaligus menjaga situasi tetap kondusif," ungkapnya.

Sebelumnya, pada Rabu (17/6/2026) malam, seorang anggota intelijen kepolisian diamankan oleh ratusan mahasiswa setelah ketahuan menyusup dan memotret aktivitas mahasiswa. Anggota intel tersebut akhirnya diamankan mahasiswa setelah sempat terjatuh saat mencoba menghindari kejaran massa. Guna mencegah terjadinya tindakan main hakim sendiri, mahasiswa langsung membawa pria tersebut ke ruang rektorat.

Wakil Rektor UMY, Zuly Qodir, menjelaskan, dirinya langsung menuju lokasi setelah mendapat telepon dari pihak Kepolisian Daerah (Polda) DIY yang meminta bantuan untuk mengamankan anggotanya. Saat tiba, ia mendapati sekitar 300 mahasiswa telah berkumpul di depan gedung rektorat.

Meski situasi riuh, Zuly memastikan tidak ada tindakan fisik yang merugikan. Mahasiswa hanya menuntut transparansi dan permintaan maaf langsung dari sang intel.

"Saya ditelepon oleh intel Polda, ‘mohon diamankan anggota saya’. Lalu saya datang ke situ. Mahasiswa sudah banyak sekali, mungkin 300 orang. Tapi tidak ada masalah, damai, tenteram, aman saja. Cuma teriak-teriak, biasalah," kata Zuly.

Baca juga artikel terkait OPERASI INTELIJEN atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - Flash News
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Ilham Choirul Anwar