Menuju konten utama

Komentari Film Sexy Killers, Boy Thohir: Ini Kepentingannya Apa?

Boy Thohir meminta media dan publik menyikapi film Sexy Killers dengan kritis. Dia mempertanyakan kredibilitas film itu.

Komentari Film Sexy Killers, Boy Thohir: Ini Kepentingannya Apa?
Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk (Adaro) Garibaldi Thohir (tiga dari kiri) didampingi jajaran Direksi Adaro David Tendian, Mohammad Syah Indra Aman, Chia Ah Hoo dan Julius Aslan bersiap memberikan konferensi pers seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Jakarta, Senin (23/4/2018). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

tirto.id - Presiden Direktur PT Adaro Energy, Garibaldi Thohir (Boy Thorir) mempertanyakan kredibilitas film Sexy Killers yang diproduksi oleh Watchdoc Documentary.

Film dokumenter ini mengulas dampak buruk tambang batu bara dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) terhadap lingkungan. Sejumlah perusahaan di sektor tambang dan energi disorot oleh film ini, termasuk Adaro. Keterkaitan sejumlah pengusaha di sektor ini dengan politik, khususnya Pilpres 2019, juga diungkap dalam Film Sexy Killers.

Boy Thohir membantah bisnis tambang dan energi Adaro berdampak buruk ke lingkungan. Dia pun meminta media dan masyarakat menyikapi film itu dengan kritis.

"Maksudnya, [film Sexy Killers] kredibel enggak? Menurut saya, kalian [wartawan] mesti kritis juga. Kalian dengar saya ngomong gini, pasti [berpikir] 'bener engggak pak Boy ini?'. Mesti kritis. Kita [perlu] kritis juga sama film itu: siapa yang buat? Ini kepentingannya apa?" Kata Boy.

"Kalian juga mesti kritis, menurut saya. Sebagai insan media, [perlu tanya] yang buat film itu siapa, kalian tahu enggak? Kalian tahu siapa?" Tambah Boy.

Dia menyatakan hal itu kepada wartawan setelah acara peluncuran aplikasi “umma” di Rumah Maroko, Menteng, Jakarta Pusat pada Kamis (25/4/2019).

Meskipun bisnis batu bara perusahaannya disorot dalam film itu, Boy mengaku hal itu tak menjadi soal. Dia mengklaim operasi tambang perusahaannya menerapkan prinsip “good mining practices.”

Begitu pula dengan PLTU Batang yang disorot dalam film itu. Boy mengatakan PLTU batu bara, yang digarap dan dikelola Adaro, itu menerapkan teknologi ultra super critical sehingga emisi gas buangnya sama bersihnya seperti menggunakan bahan bakar gas.

"Dan yang mesti dilihat kontribusi kita pada negara dan perekonomian seberapa besar," ucap Boy.

Film Sexy Killers, yang dirilis pada 5 April 2019, belakangan menarik perhatian publik. Film ini juga sempat dikomentari dengan sinis oleh Menko bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, salah satu pelaku bisnis batu bara yang disorot dalam film itu.

"Tidak benar itu. Kurang kerjaan itu," kata Luhut, Senin (22/4/2019).

Dandhy Dwi Laksono, sutradara Sexy Killers sekaligus pendiri Watchdoc, mengaku tak ambil pusing dengan komentar Luhut tersebut. "Saya baru akan merespons kalau nanti Pak Luhut sudah mengomentari substansi filmnya,” kata Dandhy lewat pesan teks singkat kepada reporter Tirto, Selasa (23/4/2019).

Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Merah Johansyah juga menilai komentar Luhut itu bukan jawaban seorang menteri, melainkan pengusaha yang punya pertambangan batu bara.

"Kami anggap [respons Luhut] sebagai reaksi sebagai seorang pengusaha batu bara yang panik," ujar Merah.

Baca juga artikel terkait FILM SEXY KILLERS atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Addi M Idhom