Kodok Jokowi, Kuda Prabowo

Oleh: Arlian Buana - 1 November 2016
Dibaca Normal 3 menit
Pertemuan Jokowi dan Prabowo barangkali tidak akan menghasilkan apa-apa. Keributan di media sosial tidak akan pernah berhenti. Tapi ia cukup untuk menghentikan nada-nada sumbang di kalangan elite.
tirto.id - Orang-orang koar-koar, Jokowi angon kodok. Orang-orang kasak-kusuk, Jokowi berburu kecebong. Orang-orang ribut-ribut, Jokowi ketemu Prabowo. Orang-orang rusuh, Prabowo ketemu Jokowi. Orang-orang kisruh, Jokowi ketemu Prabowo lagi.

Bibit Waluyo mengatai Jokowi walikota bodoh, Jokowi sungkem dan mencium tangan Bibit. SBY menggerutu di Pati, Jokowi mendatangi proyek mangkrak di Hambalang.

Jokowi tahu cara bersenang-senang di tengah orang-orang tua yang kolokan. Jokowi selalu punya cara menyelesaikan masalah dengan cara sejokowi-jokowinya.

Ketika orang-orang yang merencanakan demonstrasi besar 4 November mulai membawa-bawa Jokowi ke tengah persoalan, Jokowi tahu ia tak punya waktu lagi bermain-main dengan kodok peliharaannya, ia harus berbuat sesuatu, menjumpai sianu, mengumpulkan sianu dan sianu dan siantu, mengutus sianu menemui sianu. Pekerjaan politik, semacam itulah. Seperti Don Corleone mengumpulkan para Don dari berbagai kota untuk bernegosiasi, sambil mencari tahu sendiri siapa sesungguhnya biang kerok dari semua kekacauan.

Demonstrasi yang dinamai Aksi Bela Islam itu berpangkal pada mulut Ahok yang dianggap melecehkan Al-Quran dan Islam. Ahok sendiri sudah meminta maaf jika ucapannya menyinggung perasaan umat Islam, meski ia tetap membubuhi permintaan maaf ini dengan serangkaian pembelaan. Namun, sementara orang yang mengatasnamakan "umat Islam" tak sepenuhnya puas dengan permintaan maaf Ahok, mereka ingin Ahok dihukum, atau mati. Seram.

Mereka sudah beraksi pada 14 Oktober tapi belum merasa cukup, dan berniat mengulanginya lagi dengan jumlah massa yang lebih besar—persis yang sering diucapkan korlap demonstrasi mahasiswa.

Rencana aksi itu bukan omong kosong. Banyak tokoh yang menyatakan akan bergabung. Jauh hari sebelum demonstrasi terjadi, mereka sudah melakukan pemanasan di berbagai media. Pernyataan sikap, pernyataan tuntutan. Ancam sini, ancam sana. Sindir ini, sindir itu. Pemerintah harus begitu, pemerintah harus begitu.

Pada saat situasi Jakarta sedang dipenuhi orang-orang yang sedang pemanasan itulah, Jokowi melakukan pemanasannya sendiri.

"Demonstrasi adalah hak demokratis warga, tapi bukan hak memaksakan kehendak dan bukan hak untuk merusak," kata Jokowi, Senin, 31 Oktober 2016. "Pemerintah menjamin hak menyampaikan pendapat, tapi juga akan mengutamakan ketertiban umum."

Infografik Temu Kangen Jokowi dan Prabowo


Lalu ia pergi ke Hambalang bersama Pratikno dan Luhut Pandjaitan, menemui Prabowo Subianto.

Tiba di kediaman Prabowo pada 12.37 WIB dan disambut marching band, Jokowi kelihatan berseri-seri. Setelah sedikit basa-basi, keduanya melakukan pertemuan tertutup.

Pukul 14.19, Jokowi keluar dari ruang pertemuan mengenakan topi dan sepatu bot khusus berkuda. Diarahkan Prabowo, Jokowi berjalan menuju kuda-kuda yang telah disiapkan tuan rumah. Jokowi naik ke kuda berwarna putih bernama Salero, dibantu 6 orang berbaju batik dan 2 orang ‎pelatih kuda berkaos polo putih. Setelah Jokowi aman di atas tunggangannya, Prabowo sigap menaiki kuda cokelat kesayangannya yang bernama Principe. Ia hanya dibantu 3 orang untuk naik lalu lincah memacu tanpa bantuan.

Saat Prabowo mondar-mandir dengan kudanya, Salero sesekali bergeser dan bersin mengeluarkan cairan putih kental dari hidung. Jokowi mengelus-elus pundak Salero dan sedikit menggoyang-goyangkan tali kekang yang dia pegang dengan kedua tangannya sambil cengengesan, seperti anak kecil yang sedang asyik menaiki kuda mainan.

Keduanya mendekat ke arah kerumunan wartawan. Prabowo mengendalikan pelan kudanya sendiri, Jokowi dibantu oleh pelatih kuda. Dua meter dari awak media, Jokowi‎ melempar canda, "Sudah, dari sini saja wawancaranya. Pertanyaannya apa, saya jawab langsung," katanya, mesam-mesem. Beberapa wartawan menggerutu, peralatan rekam audio mereka tak bisa menjangkau Jokowi. ‎"Apa? Mau tanya apa? Tadi itu hanya silaturahmi."

Tapi ada juga wartawan yang segera menanyakan agenda pertemuan siang itu. "Karena dulu saya sudah berjanji untuk datang ke Pak Prabowo."

"Apa membicarakan terkait demo tanggal 4, Pak?" tanya seorang wartawan. Prabowo tertawa.

"Enggak," jawab Jokowi.

"Di pertemuan tadi ada kesepakatan-kesepakatan apa, Pak?"

"Makan siang, dan saya diberi hadiah topi oleh Pak Prabowo, ya" katanya, dan tiba-tiba kuda yang ia tunggangi bergerak sendiri di luar kendalinya, mundur 5 langkah.

"Eh, Eh!". Prabowo memanggil pawang kuda yang sebelumnya menjauh untuk menghindari kamera.

Keduanya kemudian turun.

"Kita menghargai apa yang disampaikan Pak Prabowo tadi. Tadi lebih banyaknya makan nasi goreng," kata Jokowi setelah menginjak tanah, memberi isyarat giliran Prabowo bicara.

‎"Saya selalu berharap suasana baik, sejuk. Bapak Presiden sepintas mengatakan demo hak konstitusional. Beliau juga ingin yang baik, kondusif. Itu yang kami inginkan. Jangan sampai ada unsur yang mau memecah belah bangsa," kata Prabowo. "Kita negara majemuk. Banyak suku, agama, ras. Kalau ada masalah, kita selesaikan dengan sejuk dan damai."

Tentu tidak semua orang senang dengan pertemuan dua orang yang pernah berkompetisi sengit di Pilpres 2014 itu. Sebagian pihak memuji, sebagian lain menganggapnya tidak akan berdampak apa-apa. Juru Bicara Front Pembela Islam, ormas terdepan yang mengorganisasi aksi 4 November, menyebut Jokowi salah perhitungan.

"Saya kira presiden gagal paham, ya, menganggap pertemuan dengan Prabowo bisa meredam aktivitas umat Islam," kata Munarman, Selasa, 1 November. "Perlu saya tegaskan bahwa aksi ini tidak ada kaitannya dengan Prabowo, tidak ada kaitannya dengan Pilkada. Saya kira kini musti diletakkan dalam konteks yang lebih luas dari sekadar Pilkada dan politik atau pemilu."

Munarman tentu benar, jika itu sekadar "aktivitas umat Islam" yang menyuarakan aspirasinya lantang-lantang. Namun, kalau hubungannya sudah dengan elite politik yang cari perhatian, gonggong sini gonggong sana, kesibukan Jokowi beberapa hari terakhir ini bisa dipahami. Ia terbukti berhasil setidaknya di dua kesempatan. Pertama, keributan pascapilpres. Jokowi datang, Prabowo senang, elite perlahan-lahan diam. Kedua, saat kisruh calon Kapolri. Prabowo datang, Jokowi senang, situasi panas pelan-pelan mendingin.

Munarman benar, pertemuan Jokowi-Prabowo tidak akan bisa sepenuhnya mendamaikan akar rumput, tidak bisa menenangkan "umat Islam," tapi ia bisa menyumpal mulut sementara pemimpin "umat Islam" dan elite politik yang kelewat bawel. Pertemuan Jokowi dengan perwakilan Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sehari kemudian, dan petemuan Menko Polhukkam Wiranto dan Wapres Jusuf Kalla dengan Susilo Bambang Yudhoyono, tidak akan bisa menggembosi demo 4 November, tapi setidaknya itu mengatur ulang barisan elite yang terlibat.

Munarman benar, api kebencian dan kemarahan di media sosial tidak akan pernah padam tak peduli Jokowi bertemu siapa mengundang siapa. Tapi Jokowi tahu, ia perlu mengantisipasi api yang akan dinyalakan di dekat-dekat istananya.

Baca juga artikel terkait PERTEMUAN JOKOWI-PRABOWO atau tulisan menarik lainnya Arlian Buana
(tirto.id - Politik)

Reporter: Arlian Buana
Penulis: Arlian Buana
Editor: Arlian Buana
DarkLight