Menuju konten utama

Knuckle Shot & Phantom Dribble Tidak Hanya Ada di Komik Shoot!

Teknik knuckle shot dan phantom dribble ternyata tak hanya ada di komik Shoot! saja, Messi dan Ronaldo bisa menggunakannya.

Knuckle Shot & Phantom Dribble Tidak Hanya Ada di Komik Shoot!
Shoot!. FOTO/IMDb
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Manga sepak bola sering diklaim menyuguhkan teknik yang tidak realistis seperti tiger shoot milik Kyojiro Hyuga atau teknik memanjat punggung yang dilakukan oleh Tachibana Bersaudara. Namun, ada pula teknik yang sebenarnya bisa terjadi di dunia nyata, misalnya knuckle shoot milik Kiyotaka Hiroshe dan phantom dribble Toshihiko Tanaka dalam manga Shoot! karya Tsukasa Ooshima.

Manga Shoot! diterbitkan di Majalah Shonen Mingguan Kodansha dalam rentang 23 tahun dari 1990 hingga 2003. Karya Tsukasa Ooshima ini terdiri dari 4 bagian, yaitu Shoot! (1990-1996), Shoot! in Memory (1996-1997), Shoot! Hot Challenge (1997-2000), dan Shoot! Legend of A New Age (2000-2003).

Manga ini mengisahkan perjalanan Toshihiko Tanaka dalam mengejar mimpi di dunia sepak bola, hingga akhirnya membela Timnas Jepang di Piala Dunia dan memperkuat Real Madrid. Toshi punya dua sahabat yang terbentuk sejak mereka ada di SMP Kakenishi, berlanjut ke SMA Kakegawa, hingga tembus Timnas Jepang, yaitu Kazuhiro Hiramatsu yang cerdas dan berkacamata, juga Kenji Shiraishi, kiper pemberani.

Toshi, Kazuhiro dan Kenji masuk ke SMA Kakegawa demi mengikuti jejak idola mereka, Kubo Yoshiharu, yang menolak banyak tawaran SMA lain hanya untuk membentuk tim sepak bolanya sendiri. Kubo meninggal karena kanker hati sebelum mimpinya, melihat SMA Kakegawa juara, tercapai. Namun, ia menjadi inspirasi Toshi dan kawan-kawan, juga Atsushi Kamiya, sang kapten Kakegawa, untuk menjadi pemenang kejuaraan SMA tingkat nasional.

Salah satu yang membuat Shoot! punya daya pikat adalah teknik sepak bola yang ditampilkan di manga tersebut. Kebanyakan memang sesuai dengan realitas. Misalnya, heel shot Kazuhiro Hiramatsu yang sama dengan rainbow flick. Begitu pula lemparan ke dalam Shin'ichi Nitta yang didahului gerakan akrobatik.

Dua di antara sekian teknik dalam Shoot! adalah knuckle shot milik Kiyotaka Hirose dari SMA Kakekita dan phantom dribble yang dilakukan Toshihiko Tanaka. Bagaimana penjelasannya?

Knuckle Shot Bukan Cuma di Komik, Ronaldo Juga Bisa

Kemunculan knuckle shot terjadi dalam Pertarungan SMA Kakegawa menghadapi SMA Kakekita di volume 6 hingga 8 komik Shoot!. Saat itu, Kenji dibuat kelabakan oleh Hirose yang mampu melepaskan tendangan itu. Bola tembakan Hirose awalnya tampak bisa dibaca Kenji. Namun, tiba-tiba bola mengayun dan lolos dari tangkapan sang kiper.

Menurut Kazuhiro, prinsip knuckle shot sama seperti knuckle ball dalam base ball. Kuncinya adalah menendang titik tengah bola dengan ujung kaki seolah didorong. Hal ini akan membuat bola melesat dalam keadaan tidak berputar. Namun, karena bola melaju, bola tersebut menerima hambatan udara.

Freekick Cristiano Ronaldo

Kapten tim nasional Portugal, Cristiano Ronaldo, yang bersiap mengambil tendangan bebas dalam laga melawan Jerman di ajang UEFA Nations League. (IMAGO/MIS via Reuters Connect)

Alhasil, tekanan inilah yang membuat bola mengayun atau berubah arah tiba-tiba. Hirose mampu menendang dengan teknik knuckle shot karena ia terbiasa berlatih bukan dengan bola sepak bola, tetapi bola base ball.

Meskipun teknik ini terkesan tidak masuk akal, knuckle shot juga bisa dilakukan oleh para bintang seak bola. Salah satunya adalah Cristiano Ronaldo. CR7 melakukan knuckle shot di beberapa momen krusial, termasuk saat membobol kiper Portsmouth sewaktu masih berseragam Manchester United pada 2008 silam.

Seperti yang dikatakan Kazuhiro, knuckle shot ini adalah bentuk lain dari teknik melempar dari olahraga baseball. Dalam praktiknya, seorang pitcher melakukan lemparan dengan bola yang melaju lurus. Akibatnya, bola yang meluncur tanpa putaran mengalami efek aliran udara acak.

Saat bola menerjang angin tanpa berputar, perbedaan tekanan udara di sekitar permukaan bola akan menciptakan pusaran-pusaran kecil yang tidak stabil. Hambatan udara inilah yang membuat jalur tembakan berubah arah secara mendadak di udara. Bola terkadang menukik, bergeser ke kiri, atau bahkan ke kanan secara tidak terprediksi.

Seperti penjelasan Kazuhiro Hiramatsu, ada 3 hal dasar yang menjadi kunci knuckle shot. Pertama, soal titik tumpu dan presisi kotak kaki dengan bola. Untuk tendangan seperti ini, bola mesti ditendang tepat di titik tengah (center of gravity) menggunakan bagian kura-kura kaki atau punggung kaki yang keras. Catatannya, kaki tidak boleh mengayun secara melengkung.

Selain itu, sentuhan mendadak dan dorongan lurus membuat putaran rotasi bola jadi minimal. Begitu bola meluncur deras tanpa rotasi, panel-panel pada bola sepak bola bereaksi dengan hambatan angin di atmosfer. Hambatan inilah yang mengecoh penglihatan. Bola yang semula terlihat lurus menuju tangkapan, tiba-tiba "bergoyang" atau menukik tajam.

Phantom Dribble Toshi Juga Bisa Dilakukan Messi

Bagaimana dengan phantom dribble? Toshihiko Tanaka menemukan teknik ini di Spanyol dalam Shoot! Hot Challenge, saat dia dihadapkan dengan seekor banteng yang mengamuk. Toshi harus berhadapan satu lawan satu dengan banteng yang menyerbu ke arahnya. Namun, pada akhirnya Toshi selamat dari serbuan itu ketika ia justru berlari ke arahnya.

Dalam momen hidup dan mati itu, Toshi menyadari bahwa banteng menargetkan pergerakan, bukan sosok manusia secara utuh. Ketika banteng menerjang ke depan, hewan tersebut mengunci pandangan dan titik gravitasi pada satu arah.

Dengan memicu akselerasi mendadak ke arah lawan lalu secara tiba-tiba mengubah tumpuan tubuh, di detik terakhir, Toshi seperti menghilang dari jarak pandang sang banteng. Teknik ini kemudian digunakan Toshi sepanjang perjalanan SMA Kakegawa, sampai akhirnya dipatahkan oleh Yutaka Ohara di final Kejuaraan antar SMA Tingkat Nasional.

Ohara berhasil menghentikan Toshi karena ia mampu melihat wujud asli phantom. Ia menyebut, semua makhluk hidup punya naluri alami untuk menghindari bahaya. Naluri alami itulah yang membuat mereka mengedipkan mata di detik terakhir. Saat itulah, phantom Toshi bekerja menerobos celah musuh. Namun, karena Ohara fokus dan tidak gentar dengan terjangan, ia bisa menangkap bola dan menghalangi dribble Toshi.

Dengan kata lain, teknik phantom dribble berfokus pada titik buta lawan dengan mengandalkan perpaduan antara gravitasi rendah, kecepatan olah bola, serta perubahan arah mendadak.

Lionel Messi Dribble

Lionel Messi (nomor punggung 10) dari Inter Miami CF menguasai bola dalam pertandingan fase pertama Leagues Cup antara Inter Miami CF dan Atletico San Luis di Nu Stadium pada 5 Agustus 2026 di Miami, Florida. (Photo by Megan Briggs / Getty Images via AFP)

Bagaimana praktiknya di dunia nyata? Saat seorang bek dihadapkan pada ancaman benturan dengan penyerang berkecepatan tinggi yang menuju tepat ke arahnya, otak secara otomatis memicu refleks untuk melindungi diri. Respons ini memicu pengalihan fokus impulsif yang membuat terciptanya visual blackout. Jadilah, ini kesempatan bagi penyerang lawan untuk mengecohnya.

Di samping itu, ketika penyerang lawan bergerak ke arahnya, secara insting seorang bek akan menurunkan titik gravitasi demi bersiap menahan benturan. Ketika berat badan bek terkunci penuh pada kedua kaki tumpuan, lantas penyerang memindahkan arah bola, bek tersebut tidak bisa merespons. Pasalnya, tubuh manusia butuh waktu untuk memindahkan massa otot sebelum bisa bergerak ke arah baru.

Contoh paling mendekati phantom dribble Toshi adalah Lionel Messi. La Pulga tidak butuh trik step-over rumit untuk melewati bek. Ia menggiring bola lurus ke arah dada lawan, menurunkan bahunya sedikit, lalu memotong ke arah berlawanan.

Bek yang panik dan terfokus pada pergerakan tubuh Messi sering kali "membeku" atau mengedipkan mata di detik terakhir. Hal ini mengesankan La Pulga seolah-olah menembus tubuh mereka begitu saja. Kasus Jerome Boateng yang roboh saat dilewati Messi di semifinal Liga Champions 2015 adalah gambaran yang paling sederhana.

Kekalahan Toshi dari Yutaka Ohara juga menunjukkan bagaimana teknik ini di dunia nyata. Sama seperti Ohara yang tidak gentar dan tetap menjaga fokus pandangannya tanpa mengedip, bek-bek kelas dunia seperti Virgil van Dijk atau Paolo Maldini juga sulit terkecoh oleh body feint. Mereka tidak bereaksi pada ancaman gerakan tubuh penyerang, melainkan tetap mengunci pandangan pada pergerakan bola.

Ada kalanya teknik dalam manga Shoot! memang terkesan di luar nalar, di samping karena faktor kebutuhan dramatisasi cerita. Namun, bukan berarti semuanya tidak dapat dilakukan oleh pemain sepak bola. Baik knuckle shot milik Kiyotaka Hirose maupun phantom dribble milik Toshihiko Tanaka, keduanya membuktikan bahwa trik-trik tersebut nyatanya teruji di panggung sepak bola dunia.

Baca juga artikel terkait SC BOLD atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - Olahraga
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Fitra Firdaus