Menuju konten utama

Kisah Junivia, Siswa Sekolah Rakyat yang Lolos OSN

Sempat menolak ikut OSN, Junivia siswa Sekolah Rakyat Minahasa kini lolos semifinal tingkat nasional bidang Biologi.

Kisah Junivia, Siswa Sekolah Rakyat yang Lolos OSN
Siswi kelas XI Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 44 Sulawesi Utara, Junivia Vanecia Tulung. (FOTO/dok.Kemensos)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Siswa kelas XI Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 44 Sulawesi Utara, Junivia Vanecia Tulung (17), berhasil lolos seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat provinsi dan melaju ke semifinal tingkat nasional bidang Biologi. Padahal, sebelum mengikuti kompetisi tersebut, Junivia sempat ragu karena merasa belum cukup mampu.

Junivia akhirnya memberanikan diri mengikuti OSN setelah melihat teman-temannya turut mencoba. Ia kemudian lolos seleksi tingkat provinsi bersama dua siswa SRMA 44 lainnya yang mengikuti bidang Ekonomi dan Geografi.

Dari tiga siswa tersebut, Junivia menjadi satu-satunya yang berhasil melanjutkan ke semifinal OSN 2026 tingkat nasional. Ia telah mengikuti seleksi semifinal pada 12 Agustus lalu dan kini menunggu pengumuman pada 18 Agustus mendatang.

“Awalnya sebenarnya enggak mau ikut. Tapi karena lihat teman-teman lain banyak yang ikut, jadi ada rasa ingin mencoba. Pas awal simulasi itu takut, takut salah, takut enggak masuk,” ungkap Juni merujuk keterangan resmi pada Jumat (14/8/2026).

Juni mengaku tidak menyangka dapat lolos dari seleksi tingkat provinsi. Hasil tersebut justru membuatnya semakin termotivasi untuk mengikuti tahapan berikutnya.

“Enggak ada ekspektasi kalau bisa lolos di tingkat provinsi. Pas tahu lolos, semangatku langsung lebih naik lagi. Aku pengin lebih berusaha supaya bisa maju lagi dan bisa membawa nama Sekolah Rakyat,” katanya.

Juni menjadi satu dari 100 peserta bidang Biologi yang lolos ke semifinal tingkat nasional. Secara keseluruhan, OSN tingkat provinsi jenjang SMA/MA/SMK/MAK dan sederajat tahun ini diikuti 13.542 siswa dari sembilan bidang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 900 siswa lolos ke semifinal. Setiap bidang diwakili 100 peserta.

Untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi, Juni mendapat bimbingan tambahan dari guru Biologi sekitar tiga hingga empat kali dalam sepekan di luar jam pelajaran. Ia juga belajar secara mandiri dan mencari berbagai materi Biologi untuk memperluas pengetahuannya.

“Pada saat seleksi tingkat provinsi, aku keluarkan semua kemampuan yang aku bisa. Puji Tuhan sangat bersyukur ternyata masih diberikan kesempatan untuk menjadi perwakilan dari Sekolah Rakyat dan bisa sampai saat ini,” ujarnya.

Berubah setelah Masuk Sekolah Rakyat

Prestasi di OSN menjadi salah satu pengalaman yang membuat Juni melihat perubahan dalam dirinya sejak masuk Sekolah Rakyat. Sebelum bersekolah di SRMA 44, ia sempat keberatan karena harus tinggal di asrama dan berjauhan dari keluarganya.

Juni berasal dari Desa Kauneran, Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa. Ayahnya bekerja sebagai pembudidaya ikan mujair dengan penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Sementara itu, ibunya mengurus rumah tangga.

Keluarga Juni juga tinggal menumpang di rumah sederhana. Kondisi tersebut membuat keberadaan Sekolah Rakyat menjadi salah satu kesempatan bagi Juni untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuannya.

Kekhawatiran Juni tentang kehidupan asrama perlahan berubah setelah ia menjalani aktivitas di sekolah. Ia mendapatkan lingkungan baru, bertemu teman-teman, dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.

“Semakin dijalani semakin merasa senang. Ternyata apa yang aku ekspektasikan waktu awal masuk dengan sekarang itu enggak sesuai. Di sini enak, semua difasilitasi dan bisa juga membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Perubahan tersebut juga dirasakan orang tua Juni. Mereka kini melihat prestasi yang diraih anaknya setelah menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat.

“Orang tua bangga karena awalnya aku enggak mau masuk Sekolah Rakyat. Tapi sekarang sudah ada prestasi yang aku dapat. Itu membuat orang tua bangga karena aku di Sekolah Rakyat sudah bisa ada perubahan,” tutur Juni.

Kemampuan Juni tidak hanya terlihat dalam bidang akademik. Ia juga mahir memainkan melodi kolintang.

Kemampuan tersebut pernah ditunjukkannya ketika Gubernur Akademi Militer Mayor Jenderal TNI Rano Maxim Adolf Tilaar mengunjungi Sekolah Rakyat dalam kegiatan Taruna Bhakti.

Kepala SRMA 44 Minahasa, Jefta Johannes Makikui, mengatakan pencapaian Juni menunjukkan bahwa kesempatan pendidikan dapat membuka potensi siswa yang sebelumnya belum terlihat.

“Prestasi ini adalah kebanggaan besar sekaligus bukti nyata bahwa siswa dari program bantuan pendidikan Sekolah Rakyat mampu menunjukkan kualitas, semangat pantang menyerah, dan daya saing yang luar biasa,” kata Jefta.

Menurut Jefta, keberhasilan Juni juga diharapkan dapat mendorong siswa Sekolah Rakyat lainnya untuk berani mengembangkan kemampuan dan mengikuti berbagai kompetisi.

“Semoga Junivia senantiasa diberikan hasil yang maksimal serta terus berprestasi. Semoga langkah gemilang ini tidak hanya menjadi jalan untuk menggapai cita-citanya di masa depan, tetapi juga menjadi cahaya inspirasi yang memotivasi seluruh siswa Sekolah Rakyat lainnya untuk terus berani bermimpi dan mengukir prestasi,” ujarnya.

Menjelang pengumuman hasil semifinal, Juni masih mengaku tegang. Dukungan dari kepala sekolah, guru, wali asuh, wali asrama, dan teman-temannya membuatnya semakin termotivasi untuk melewati tahapan berikutnya.

Jika sebelumnya rasa takut sempat membuatnya hampir tidak mengikuti OSN, kini Juni memilih untuk terus mencoba.

“Deg-degan karena banyak yang sudah taruh harapan ke Juni. Aku berharap bisa lolos, bisa membawa nama sekolah dan membahagiakan orang tua,” katanya.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis