Ketika Lingkungan Menjadi Dasar untuk Tak Punya Anak

Oleh: Widia Primastika - 25 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Populasi penduduk bumi membuat mereka khawatir dan memutuskan untuk tak menambahnya.
tirto.id - Saat masih anak-anak, Anda barangkali pernah melempar pernyataan tentang keinginan untuk memiliki keturunan dan memberikan cucu kepada orangtua. Bagi sebagian orang, seiring bertambahnya usia dan informasi, pernyataan itu berubah menjadi pertanyaan. Di antara mereka yang mempertanyakan, akhirnya ada yang memilih untuk tak memiliki keturunan atau childfree.

Meski ada beragam sebab, alasan perubahan iklim menjadi faktor utama Shinta Maharani (33) dan suaminya kala memutuskan untuk tak memiliki anak. Namun bagi Shinta, childfree yang ia lakukan adalah tidak memiliki anak biologis, sehingga tak menutup kemungkinan mereka untuk mengangkat anak di waktu mendatang.

“Perubahan iklim itu kan jadi satu masalah ya sekarang. Berpuluh-puluh tahun lagi, ketika aku memiliki anak, aku menambah beban masalah persoalan bumi karena harus menyediakan makanan untuk anakku kelak,” ujar Shinta kepada Tirto.


Menurut Shinta, perubahan iklim bukanlah masalah sepele, karena bisa menimbulkan frustasi bagi penduduk bumi. Shinta khawatir, ia tak bisa memenuhi kebutuhan anaknya kelak.

“Bagaimana jaminan pangan, bagaimana jaminan keamanan dia tinggal di bumi dengan populasi yang meningkat itu. Aku punya tanggung jawab lebih kepada anakku kalau aku kemudian memutuskan untuk punya anak,” tuturnya.

Tentu saja argumen tentang lingkungan itu tak bisa dengan mudah diterima semua orang. Maka, ketika menjelaskan kepada keluarga, Shinta menjelaskan tentang pekerjaannya sebagai jurnalis yang harus siap bekerja setiap saat. Menurutnya, alasan itu yang paling mudah diterima oleh keluarga.

Tekanan tentu saja tak hanya muncul dari keluarga, tapi juga lingkungan sosial. Apalagi tak sedikit orang yang menganggap pernikahan adalah lembaga "pencetak" anak. “Buatku, ini menindas,” tegas Shinta.

Shinta bersama suaminya pun pernah membongkar pegangan ini. Bagi mereka, berkeluarga dan memiliki anak adalah hal dengan tanggung jawab besar, sebab ada nilai-nilai penting yang harus dirumuskan bersama.

Selain itu, Shinta juga mempertimbangkan tentang frustrasi sosial yang mungkin diterima oleh anak di tengah menguatnya konservatisme, penghakiman, dan persekusi. Ia khawatir luput menjaga sang buah hati.

“Jadi semakin kita mencoba memahami persoalan dunia ini, kita akan semakin mencari jalan, pilihan rasional, untuk tidak menambah masalah buat calon generasi kita dan bumi,” ungkap Shinta.


Ledakan penduduk dunia memang menjadi perhatian banyak pihak. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pernah memperkirakan pada 2030, penduduk bumi akan mencapai 8,6 miliar dan meningkat menjadi 9,8 miliar pada 2050. Jumlah ini diprediksi akan bertambah menjadi 11,2 miliar pada tahun 2100.

Menurut PBB, peningkatan populasi akan terus berlanjut setiap tahunnya, bahkan dengan asumsi bahwa tingkat kesuburan akan terus menurun. Tentu saja pertumbuhan penduduk itu menimbulkan beberapa akibat, seperti ekonomi, kesehatan, dan perlindungan sosial.

Dalam buku Child Free and Loving It! (2005) yang ditulis oleh Nicki Defago, banyak yang begitu khawatir dengan konsekuensi pertumbuhan populasi. Oleh karena itu, mereka memperhatikan strategi pengendalian penduduk yang ditawarkan politikus, seperti mempromosikan keluarga kecil atau memberi insentif kepada perempuan yang tidak memiliki anak.

Pemerintah Cina, misalnya, menerapkan kebijakan Satu Anak untuk mengatasi pertumbuhan penduduk. Mereka pun bisa mencegah ratusan juta kelahiran sejak 1980. Cina yang mulanya rawan banjir dan kelaparan, kini mampu memenuhi kebutuhan pangan dan pendidikan penduduknya.

Dalam buku tersebut, Defago juga mengutip pernyataan David Attenborough, seorang naturalis, penyiar, dan penulis buku: “Alih-alih mengendalikan lingkungan untuk kepentingan populasi, mungkin kita harus mengontrol populasi untuk memastikan keberlangsungan lingkungan."

Menurut Defago, ada dua aspek negatif dari pertumbuhan populasi terkait lingkungan, yakni tingkat keramaian yang bertambah (over crowding) dan ledakan populasi (over population). Menurut Defago, keduanya adalah hal yang berbeda, tetapi berjalan berdampingan.

Over crowding adalah suatu daerah tidak cukup besar untuk mengatasi banyaknya penduduk, sehingga sulit untuk memiliki rumah yang layak, mencari nafkah, dan merasa nyaman di ruang pribadi. Sementara itu, ledakan populasi adalah ketika sumber daya yang digunakan semakin menipis dan produksi limbah tak seimbang dengan jumlah yang mampu dikelola.

Bahagia dengan Adopsi Anak

Pada sebuah artikel yang dipublikasikan The Guardian, seorang aktivis lingkungan Leilani Münter mengatakan gagasan tentang pengendalian populasi memang tak mudah diterima orang, meski mereka memahami tentang perubahan iklim dan persoalan emisi.


Münter berpendapat bahwa di tengah segala perbincangan tentang sumber energi terbarukan dan tren vegetarian, tidak ada yang mampu menebus kelebihan populasi.

Dalam artikel itu, Münter tak menampik bahwa banyak pikiran konservatif yang menganggap “jika tak memiliki anak, maka tak bahagia”. Namun, menurutnya, pernyataan itu tidak benar.

“Permintaan saya adalah agar anda mempertimbangkan untuk mengadopsi salah satu dari 153 juta anak yatim piatu yang sudah ada di planet ini dan membutuhkan rumah,” ujar Münter.

Pernyataan dari Münter tersebut juga diutarakan oleh Shinta. Salah satu film yang menginspirasi Shinta adalah Lion, yang dirilis pada 2016. Film yang disutradarai Garth Davis ini menceritakan tentang seorang bocah dari India berusia lima tahun yang tersesat di jalanan Kalkuta, yang terletak ribuan kilometer dari rumahnya.

Setelah bertahan hidup sebagai anak jalanan dan sisa makanan, Sharoo Brierley, tokoh utama dalam film ini kemudian dibawa oleh panti asuhan dan diadopsi oleh pasangan Australia, Sue dan John Brierley.

Infografik Childfree
undefined


Dari film tersebut, Shinta memetik pelajaran bahwa tak harus memiliki anak biologis jika ingin mengasihi seorang anak.

“Kita bisa mengangkat anak-anak yang hilang (tak memiliki orang tua), anak-anak korban peperangan, anak-anak korban kekerasan dari orangtuanya, anak-anak korban negara, misalnya dia terpaksa menjadi imigran karena kekerasan perang, dan lainnya,” tutur Shinta.

Meski begitu, Shinta menyampaikan bahwa dirinya bukan kelompok childfree yang anti-kelahiran. Ia juga khawatir dengan fenomena adanya orang yang memutuskan tidak punya anak dan membenci orang yang punya anak. Baginya, childfree adalah aksi pribadi yang ia lakukan untuk lingkungan hidup.


“Itu kan sangat personal. Aku enggak bisa secara komunal untuk mengajak orang begini. [Ini] adalah langkah personalku untuk mengatasi masalah yang semakin banyak,” kata Shinta, sembari menegaskan bahwa ia menghargai setiap pilihan yang diambil orang lain.

Baca juga artikel terkait ANAK atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight