Benarkah Menyusui Bayi dengan ASI Bisa Cegah Stunting pada Anak?

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 18 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Pemberian ASI eksklusif (seberapa sering dan seberapa lama) tidak begitu berpengaruh pada keadaan stunting anak batita. Akan tetapi, inisiasi pemberian ASI sejak dini dapat mengurangi resiko stunting.
tirto.id - Stunting merupakan perkara kesehatan yang diangkat dalam Debat Cawapres Kamis (17/3/2019) malam di Hotel Sultan, Jakarta. Kedua cawapres, Sandiaga Uno dan Ma’ruf Amin memiliki solusi masing-masing terhadap permasalahan stunting yang terjadi di Indonesia.

Sandiaga mengatakan, permasalahan stunting di Indonesia mencapai tahap darurta, yang mana sepertiga anak-anak Indonesia mengalami kekurangan gizi.

Menurut Jurnal Fakultas Kedokteran UNDIP Medika Indonesia (PDF), stunting adalah keadaan yang mana postur tubuh tidak bertumbuh dengan sempurna karena malnutrisi kronis. Stunting berawal sejak masa batita, namun kerapkali tidak disadari hingga masa pubertas.

Di usia balita, perbedaan antara anak yang mengalami stunting dan anak normal tidak begitu kelihatan, namun pada masa pertumbuhan menuju remaja, barulah stunting kelihatan pada anak. Semakin terlambat menyadari kondisi stunting pada anak, semakin sulit pula pemulihannya.

Kedua cawapres setuju bahwa stunting disebabkan oleh kurangnya asupan ASI pada bayi. Melansir Emerald Insight, pemberian ASI eksklusif (seberapa sering dan seberapa lama) tidak begitu berpengaruh pada keadaan stunting anak batita. Akan tetapi, inisiasi pemberian ASI sejak dini dapat mengurangi resiko stunting.

Anak yang tidak memperoleh asupan ASI sejak dini cenderung 1,3 kali lebih beresiko stunting daripada yang menerima asupan ASI sedini mungkin. Pemberian ASI juga menjadi bentuk perawatan ibu dan pemberian nutrisi sejak dini yang dapat mengurangi resiko stunting.

Pemberian ASI sejak satu jam pertama setelah kelahiran merupakan suatu inisiasi alami untuk memberi asupan gizi pada anak. Paling lambat pemberian ASI adalah 6 jam setelah kelahiran, untuk mencegah bayi mengalami kekurangan nutrisi usai kelahiran. Maka dari itu, pendidikan ASI pada ibu sebaiknya dilakukan sebelum kelahiran.

Faktor genetik ayah juga berpengaruh. Jika ayah memiliki postur tubuh pendek secara genetis, maka kemungkinan besar pertumbuhan pada anak juga ikut terhambat dan hal ini sulit dicegah atau diobati. Sebaliknya, jika ayah memiliki postur tubuh pendek karena faktor riwayat penyakit dan kekurangan gizi di masa anak-anak, maka hal tersebut tidak menjadi masalah.

Tidak Hanya Tinggi Tubuh, Kognitif Juga Terhambat

Jurnal yang dipublikasikan di NCBI menyatakan, stunting pada anak yang disebabkan kurangnya asupan gizi pada masa bayi juga menjadi pertanda terhambatnya kemampuan kognitif pada masa kanak-kanak. Penelitian tersebut juga mencari tahu bagaimana tingkat kognitif anak dengan stunting dibandingkan dengan anak non-stunting.

Kedua kelompok tersebut menjalani sampel tes multi varian. Hasil menunjukkan bahwa anak dengan stunting memiliki skor tingkat kognitif yang jauh lebih rendah daripada anak tanpa stunting usia 5-8 tahun.

Demikian halnya pada tes matematika, yang juga menunjukkan anak dengan stunting mencapai skor lebih rendah daripada anak tanpa stunting. Lebih lanjut, anak dengan anak dengan stunting lebih lambat dalam mencapai kemajuan belajar daripada anak non stunting.

Mencegah Stunting, Lebih dari Permasalahan ASI

Jennie Hilton, seorang pakar nutrisi mengungkapkan bahwa stunting tidak hanya perkara pemberian ASI selama 2 tahun. Namun juga kurangnya nutrisi komplemen pada bayi (dapat melalui susu formula, dan makanan pendamping ASI pada bayi usia 6 bulan ke atas), kebersihan dan sanitasi keluarga yang kurang terjaga, gizi buruk pada masa kehamilan, pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini, dan seringnya mengalami diare.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting pada anak adalah dengan fokus pada seribu hari pertama hidup anak. Komunikasi publik dan kampanye terhadap pencegahan stunting, mencukupi kebutuhan zat besi dan asam folat pada wanita yang dalam program kehamilan dan selama kehamilan, pemberian ASI sedini mungkin sekaligus pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.

Pemberian suplemen vitamin A (terutama pada usia 6-59 bulan), fasilitas air bersih dan sanitasi keluarga, serta pemenuhan gizi. Upaya-upaya tersebut perlu dilakukan bersama. Tidak hanya keluarga, peran pemerintah juga diperlukan.

Brazil mengurangi stunting dari 37% ke 30% dalam jangka waktu 30 tahun dan menaikkan rata-rata pemberian adi eksklusif dari 2,5 bulan menjadi 14 bulan. Hal tersebut karena visi dari pemerintah dan komitmen dari para pemimpin untuk meningkatkan akses kesehatan ibu dan layanan nutrisi anak.

Barzil juga mengupayakan program “International Code of Marketing of Breast-milk Subtitutes” dalam rangka menciptakan iklim kondusif dan dukungan pemberian ASI eksklusif dan kecukupan gizi ibu dan bayi.

Program publik berskala nasional, sub-nasional, dan daerah termasuk pemberantasan kelaparan, pencegahan kekurangan gizi dan nutrisi melalui posyandu menjadi prioritas negara dengan pemberian anggaran cukup dan dukungan institusional mampu mendukung implementasi kesehatan publik terutama ibu dan bayi.


Baca juga artikel terkait STUNTING atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - )

Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight