Coming Out Itu Tak Mudah: Ketika Anak LGBT Terbuka kepada Keluarga

Oleh: Patresia Kirnandita - 13 Maret 2019
Dibaca Normal 6 menit
Ada keluarga yang menerima, tetapi banyak yang sulit mencerna sehingga menyangkalnya.
tirto.id - Bagi sebagian orang, menyatakan diri sebagai seorang Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT)—ditambah interseks menjadi LGBTI—adalah semacam perjudian: hadiah kelegaan luar biasa jika lawan bicara tidak menghakimi dan malah menerima, atau cambuk berduri ketika yang ditelan adalah penolakan dan hujatan.

Kisah-kisah yang saya tulis menggambarkan bagaimana pengalaman sejumlah orang terkait pengungkapan seksualitas mereka beserta reaksi orang-orang terdekatnya.

Lea (25), adalah salah seorang biseksual yang beruntung bisa mengecap penerimaan dari sang ibu setelah mengakui dirinya bisa tertarik terhadap laki-laki atau perempuan. Setelah menyadari ketertarikannya kepada sesama perempuan sejak remaja, Lea pun menyatakan orientasi seksualnya kepada ibunya.

“Pas lulus SMA, aku bilang ke Mama kalau suatu hari, aku bisa nikah sama laki-laki atau perempuan,” katanya.

Bagi Lea, sekalipun hubungan dia dengan ibunya terbilang dekat, proses melela atau coming out yang dilaluinya tetap saja sulit. Masih ada rasa khawatir kalau-kalau ibunya tidak dapat menerima pernyataan seputar orientasi seksualnya.

“Ada yang mungkin bisa menerima LGBT sebagai teman, tapi kalau keluarga sendiri kan belum tentu. Aku enggak pernah tau reaksi dia [Mama] akan gimana,” imbuh Lea.

Pertimbangan untuk melela tidak hanya disokong oleh kedekatan relasi ibu-anak yang dimiliki Lea, tapi juga faktor-faktor lain. Ia bercerita, ibunya pernah memperkenalkan dia kepada salah satu teman terdekat sang ibu, seorang gay, yang menikah dengan orang Kanada.

“Ya sudah, enggak apa-apa. Asalkan ada yang cinta dan mau jaga kamu,” demikian respons ibu Lea saat putrinya itu mengaku biseksual.

Penerimaan ibunya membuat Lea semakin nyaman untuk bercerita soal relasi dia dengan beberapa orang yang pernah dekat dengannya. Sekali waktu, saat Lea putus hubungan dengan seorang perempuan, ibunya menanggapi dengan berterima kasih karena Lea sudah mau bercerita dan menyarankan anaknya itu pulang ke Surabaya (tempat tinggal sang ibu), jika Lea stres.

Kasus Lain: Relasi dengan Keluarga Memburuk

Pengalaman yang berseberangan dengan Lea kerap dijumpai dalam kisah orang-orang dengan orientasi seksual non-hetero lainnya, serta mereka yang menunjukkan identitas dan ekspresi gender di luar normatif semacam transgender. Ada kisah Yulianus Rettoblaut atau yang akrab disapa Mami Yuli, Ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia.

Pada Minggu (10/3/2019), ia berkesempatan berbagi kisah perjalanan hidupnya sebagai seorang waria di sebuah seminar LGBT di Gereja Kristus Salvator, Slipi, Jakarta Barat. Transpuan asal Kei, Maluku Tenggara yang dibesarkan di Papua hingga SMA ini sempat mengalami pergolakan batin saat awal ia mengidentifikasi diri sebagai transgender dan berekspresi feminin.

“Bapak-ibu saya guru dan mereka tergolong orang-orang Katolik yang fanatik. Saya disekolahkan sejak TK hingga SMA di sekolah Katolik, yang waktu itu pendidik-pendidiknya adalah biarawan dan biarawati asal Belanda, tahun 1970-an. Orang-orang suka heran, saya anak guru, agama Katolik, kok jadi waria?” papar Yuli kepada hadirin.

Ajaran agama ditambah hujan nasihat dari biarawati di sekolahnya sempat membuat Yuli merasa dirinya mengalami kelainan. Beberapa bulan sejak dinasihati, ia berusaha berperilaku sesuai norma gender. Namun, ia kembali berekspresi feminin. Yuli mengungkapkan hal itu dilakukannya karena ia merasa lebih nyaman demikian.

“Tapi saya tetap diam-diam saja waktu itu. Coming out bukan hal yang gampang,” kata Yuli.

Ia merasa, saat remaja, ibunya mungkin menangkap perbedaan perilaku dia dengan kebanyakan anak laki-laki lainnya. Namun, sebagaimana Yuli, sang ibu hanya menyimpannya dalam batin dengan pertimbangan begitu kuatnya norma gender ditegakkan di lingkungan keluarga dan sekitarnya.

Seiring berjalannya waktu, Yuli menunjukkan identitasnya sebagai transgender. Sikap-sikap diskriminatif berkali-kali dialaminya. Contohnya saat Yuli hendak mendaftar kuliah S1 di Jakarta, ia sempat beberapa kali ditolak. Kemudian, setelah orangtuanya meninggal, hubungan dengan keluarga terputus. Pernah suatu kali, kakak laki-laki Yuli yang merupakan seorang perwira polisi, mencarinya di Jakarta dan hendak mengonfrontasi Yuli.

Penolakan dari anggota keluarga tidak hanya dirasakan transpuan yang kini tengah mengejar gelar doktor di bidang hukum ini. Ia juga mengangkat cerita teman-teman sesama warianya yang ditolak keluarga.

“Teman-teman saya di pojok sana itu adalah korban penolakan orangtua. Mereka diusir dari rumah,” ujar Yuli, seraya menunjuk ke arah kiri panggung seminar, tempat sekelompok hadirin waria lainnya duduk. “Hampir 80 persen waria di ibukota merupakan pendatang karena mereka diusir dari tempat asalnya.”

Menunggu Waktu yang Tepat

Relasi yang kacau dengan keluarga tidak hanya dialami Yuli. Roni (23)—bukan nama sebenarnya—pun menceritakan kisah senada terkait identitas gendernya. Ia terlahir dengan karakteristik seks interseks. Saat bayi dan diketahui memiliki penis kecil, orangtua Roni meminta dokter untuk memotong penis tersebut dengan harapan Roni tumbuh sebagai perempuan sesuai dambaan mereka.


Saat duduk di bangku SMP dan mengalami pubertas, Roni merasa ada yang aneh dalam dirinya. Ia tak suka mengenakan baju-baju perempuan, khususnya mukena saat beribadah. Pada kala itu pula, ia pertama kali mengalami mimpi basah yang, ketika ia tanyakan ke ibunya, dianggap sebagai keputihan. Ketika Roni semestinya sudah mengalami menstruasi, ia tidak juga menunjukkan tanda puber perempuan itu.

Saat diperiksa dokter umum, Roni didiagnosis stres dan dianjurkan melakukan terapi hormon yang kemudian ia jalani dengan konflik batin.

“Di satu sisi, gue masih tinggal di rumah orangtua dan wajib menuruti mereka. Di sisi lain, gue merasa sebagai laki-laki. Hampir enggak ada ruang buat gue mengungkapkan pikiran dan perasaan soal seksualitas gue. Sering banget keluarga memotong setiap kali gue mencoba ngomong,” aku Roni.

Saat ia menjajal berbicara soal dirinya yang interseks, orangtuanya malah menganggap Roni harus dirukiah. Sejak itulah Roni irit mengobrol dengan orangtuanya.

Di lingkungan tempat tinggalnya, edukasi soal seksualitas bagi warga juga sangat minim. Karena itu, Roni memilih menyembunyikan seksualitasnya, khususnya di hadapan keluarga, hingga ia beranjak kuliah. Di luar kota, Roni menemukan ruang berekspresi dan berhasil melakukan konseling dengan psikolog yang bisa memahaminya.

Hanya satu orang yang tak mendorong Roni menjadi perempuan: kakeknya. Sang kakek pernah menemukan hal serupa cucunya pada anggota keluarga lainnya. Berkat posisi kakek Roni dalam keluarga, plus predikat yang disandangnya sebagai ustaz, anggota keluarga lain perlahan-lahan menerima Roni yang ingin menjadi laki-laki.

Mencari Damai: Lupakan Melela kepada keluarga

Lea, Yuli, dan Roni memilih mengungkapkan orientasi seksual dan identitas gender di muka publik pada akhirnya, tetapi tidak demikian dengan Hanif (25). Laki-laki yang mengatakan dirinya gay ini tetap memilih bungkam terhadap keluarga soal orientasi seksualnya.

“Alasan pertama, karena gue merasa urusan hati termasuk orientasi seksual gue hanya 1 persen porsinya dari hal-hal yang gue pikirin. Gue lebih mendahulukan soal karier atau pendidikan dari dulu. Kedua, gue menghindari melihat nyokap stres terus jadi sakit. Intinya gue pengin damai-damai sajalah dan gue pun santai tanpa coming out ke keluarga,” jabar Hanif.

Keengganan untuk melela kepada keluarga juga didasari oleh situasi relasi Hanif dengan orangtua dan kakak-kakaknya yang tidak begitu dekat. Sejak kecil, orangtuanya jarang ikut campur urusan pribadi Hanif. Ia juga tidak dekat dengan saudara-saudaranya, karena faktor jarak usia yang cukup jauh di antara mereka.

Yang Terdekat yang Menolak, Bahkan Jadi Pelaku Kekerasan

Sikap diskriminatif dari keluarga terhadap kelompok LGBT sebagaimana tersurat dari kisah Yuli dan Roni diafirmasi Survei Nasional SMRC 2016-2017 terkait kontroversi publik tentang LGBT di Indonesia. Hasilnya menunjukkan 53,3 persen responden yang mengetahui istilah LGBT menyatakan tidak mau menerima seseorang sebagai anggota keluarga bila orang tersebut ketahuan merupakan LGBT (survei Maret 2016).

Selain survei ini, laporan penelitian Arus Pelangi—organisasi nirlaba yang memperjuangkan hak kelompok LGBTI—tahun 2016 menemukan, setelah tempat tongkrongan, rumah menjadi lokasi peristiwa kekerasan atau diskriminasi terhadap kelompok LGBTI terbanyak kedua dengan jumlah kasus mencapai 65.

Untuk kekerasan yang dilakukan secara perorangan, orangtua menjadi pelaku terbanyak urutan ketiga dengan persentase 12 persen, disusul anggota keluarga lainnya sebesar 10 persen. Penelitian Arus Pelangi dilakukan di 8 provinsi di Indonesia: Aceh, Sumatra Utara, Lampung, Yogyakarta, Jakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan terhadap 185 responden.

Gambaran ketidaksukaan terhadap LGBT dari berbagai pihak terlihat dari survei Wahid Foundation pada Oktober 2017 lalu. LGBT menempati urutan kedua setelah komunis sebagai kelompok yang paling tidak disukai responden dengan persentase 17,8%. Survei ini dilakukan terhadap 1500 responden dari 34 provinsi.


Bagaimana Bila Ada Anggota Keluarga Melela?

Paparan heteronormativitas dalam masyarakat kita membuat sebagian orang terus menganggap LGBTI+ sebagai suatu penyakit yang bisa disembuhkan, kendati menurut ilmu psikologi—baik menurut pegangan pakar psikologi, DSM (American Psychiatric Association) dan PPDGJ III (Depkes RI, 1993)—kelompok ini sudah tidak dianggap mengalami gangguan atau menyimpang lagi.

Tidak hanya masyarakat dari kalangan umum saja yang punya variasi pendapat seputar kelompok LGBTI+, berbagai praktisi psikolog pun punya macam-macam pandangan.

Menurut Elizabeth Wahyu Margareth Indira, M.Pd., Psi, psikolog di Lembaga Psikologi Terapan Talenta, Semarang, langkah pertama yang bisa dilakukan orangtua ialah memeriksakan anak ke pakar psikologi. Ia juga menyampaikan, sebaiknya orangtua mengarahkan kembali si anak agar senada antara perilaku atau ekspresi gender dengan jenis kelaminnya.

“Yang tidak kalah penting, mengetahui penyebab mengapa si anak bisa demikian. Kalau ternyata dari faktor hormonal, memang perlu bantuan medis. Namun, kalau lebih banyak faktor lingkungan, perlu pendampingan psikologis seperti terapi perilaku atau konseling jika ternyata anak pernah mengalami peristiwa yang membuat ia memiliki identitas gender tidak sesuai jenis kelaminnya,” ungkap perempuan yang biasa disapa Ira ini, yang juga menekankan pentingnya ajaran agama ihwal konsep gender.

Infografik Mengaku LGBT
Infografik Mengaku LGBT


Psikolog klinis dewasa di Angsamerah Clinic, Jakarta, Inez Kristanti, M.Psi, berpendpat lain. Menurutnya, tidak ada yang perlu diperbaiki dari orientasi seksual seseorang yang nonhetero. Jikapun pihak keluarga ingin meminta bantuan ke psikolog, yang Inez akan tawarkan adalah berbagai saran atau informasi terkait pendampingan untuk anggota keluarga mereka tersebut.

“Orangtua tidak perlu menentang keinginan anak berekspresi atau memilih orientasi seksualnya. Yang bisa mereka lakukan adalah mendampingi dan memberi penjelasan. Edukasi tentang gender sudah bisa disosialisasikan ke anak sejak usia dini karena identitas gender mereka saat itu sudah mulai terbentuk setelah berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya,” terang psikolog yang juga menjadi pengajar paruh waktu di UNIKA Atma Jaya ini.


Penerimaan dan pendampingan menjadi kata kunci dalam menghadapi anggota keluarga dengan orientasi seksual dan identitas gender non-normatif. Hal itu memang bukan hal yang sederhana.

Menurut studi yang dimuat di jurnal ilmiah psikologi MANASA (2016) pun disebutkan, proses penerimaan ibu terhadap anak perempuan berorientasi homoseksual pun beragam. Ada yang melewati tahap penyangkalan dulu, kemudian marah, mulai membuka posisi tawar, tertekan, hingga akhirnya benar-benar menerima anak dan orientasi seksualnya.

Lebih jauh dalam studi tersebut dikatakan, sekalipun orangtua masih merasa homoseksual adalah sesuatu yang salah dan karenanya belum bisa menerima orientasi seksual si anak, kemungkinan orangtua untuk tetap mendukung si anak tanpa mengubah nilai-nilai yang diyakininya tetap terbuka. Hal ini dapat dipengaruhi oleh niat orangtua untuk tetap mengutamakan kedekatan relasi dengan anak mereka, walau ada hal yang sulit mereka kompromikan.

Peran orangtua yang langsung menekan atau mengerem anak terkait orientasi seksual mereka hanya akan berdampak negatif. Anak bisa merasa bersalah, berdosa, jijik, dan timbul perasaan tak berharga dalam dirinya, terlebih bila keluarga berkontribusi mengolok-olok mereka. Karena itu, orangtua harus menciptakan rasa nyaman dalam diri anak dengan memberi mereka kasih sayang dan menjadi sosok teman bagi anak sejak kecil.

“Kalau peran gender terlalu saklek diterapkan, anak akan sulit mengelola emosi negatif. Efeknya, jika anak mengalami kegagalan, ia bingung mengelola emosi, lalu berekor ke potensi perilaku-perilaku negatif,” kata Inez.

Ia juga menekankan bahwa hal-hal negatif yang berhubungan dengan tekanan terhadap perasaan seseorang berimbas sama bagi orang-orang dengan identitas gender dan orientasi seksual apa pun. “Tidak ada gangguan psikis yang secara langsung terkait dengan orientasi seksual. Sama dengan orang homoseksual, orang heteroseksual pun bisa depresi kalau terus ditekan dan sulit mengekspresikan diri,” jelas Inez.

Baca juga artikel terkait LGBT atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani
Kontributor: Patresia Kirnandita