Menuju konten utama
Natal 2023 dan Tahun Baru 2024

Ketika Kelas Menengah Indonesia Memilih Berlibur ke Luar Negeri

Taufan Rahmadi menilai berlibur mencari pengalaman baru menjadi alasan utama mereka melancong ke negeri seberang.

Ketika Kelas Menengah Indonesia Memilih Berlibur ke Luar Negeri
Ilustrasi Holiday. foto/istockphoto

tirto.id - Panggilan suara itu diangkat dari tempat yang jauh. Sekitar 1.183 kilo meter atau 735 mil, atau setara 639 mil laut dari Jakarta. Di ujung telepon, ada suara seorang pria menyeruput minuman, menggelitik telinga. Machmud (26) –bukan nama sebenarnya– tengah berbicara, dari kedai teh tarik sederhana di Kuala Lumpur, Malaysia.

“Cocok memang di tengah terik begini minum teh tarik. Tapi beberapa hari lalu hujan,” kata pria asal Bandung, Jawa Barat ini bercerita kepada reporter Tirto lewat telepon, Rabu (27/12/2023).

Machmud sedang menikmati waktu libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024 di Negeri Jiran. Sudah memasuki hari keempat dari rencana pleserinnya berlibur di negeri orang. Pemuda yang bekerja di media nasional ini akan segera pulang ke Indonesia untuk menyambung realita.

“Malam nanti flight ke Jakarta, ini hari terakhir, santai-santai dulu. Tiga hari kemarin sudah banyak rencana yang dilakuin sih,” tutur Machmud.

Machmud sengaja menggunakan waktu liburnya bekerja untuk menjajal suasana Nataru di Malaysia. Dia rela mengambil cuti tambahan agar rencana yang mengepul di kepalanya itu bisa dilaksanakan sesuai kehendaknya.

Ketika dihubungi reporter Tirto, Machmud tengah menikmati mihun goreng Pattaya. Dia mohon izin bercerita sambil mengunyah hidangan makan siangnya. Menurut Machmud, harga makanan dan jajanan di Malaysia masih terjangkau untuk kocek kantongnya.

“Lumayan murah juga asal enggak muluk-muluk cari makannya. Ya kalau saya sih yang penting makan aja, menunya mirip-mirip di Jakarta juga lah,” sebut dia.

Selain Kuala Lumpur, sebetulnya ada dua kota lain yang sudah dikunjungi Machmud. Selama tiga hari di Malaysia, dia juga berkunjung ke Johor Bahru dan Malaka. Dia berkunjung ke sejumlah obyek wisata dan tempat kuliner populer di dua kota itu.

“Saya sudah ke Twin Tower, terus lanjut ke Genting Highland, sama ke Malaka. Pastinya ke tempat-tempat kuliner dan oleh-oleh, tapi juga ada kunjungan ke gereja bersejarah gitu,” ujar dia.

Machmud berlibur bersama rombongan teman dekatnya. Dia mengaku tidak terlalu terbebani dengan ongkos liburan yang dilakoni kali ini. Menurut dia, untuk berlibur ke Malaysia, harga yang ditempuh tidak terlalu memakan tabungan.

“Masih terjangkau, dan enggak ada rencana untuk nabung banget sih. Empat harian di sini cuma bawa ongkos dan jajan gitu Rp4 juta aja sih, cukup itu, ramean juga soalnya,” beber Machmud.

Pria yang pernah berkunjung ke Uni Emirat Arab dan Arab Saudi itu mengaku memang sudah lama ingin liburan Nataru di luar negeri. Dia penasaran dengan suasana Nataru yang disajikan di negeri seberang. Machmud mengaku tidak merasa kecewa dengan kunjungan singkatnya di Malaysia.

“Asik sih suasananya, untuk sekali-kali worth it aja menurut saya. Bahkan di sini, saya bisa sekalian ke Singapura pakai bis. Dicoba aja, kita juga bisa bandingkan tata kota yang rapih, kebersihannya, dan kebiasaan liburan orang sini,” tukas dia.

Perjalanan ke Luar Negeri Meningkat

Usai dunia macam terpenjara saat pandemi COVID-19 melanda, hasrat orang bepergian makin terdongkrak. Hampir tiga tahun perjalanan antarnegara menjadi kurang maksimal imbas pandemi. Bangkitnya tren perjalanan lintas negara usai pandemi, karib disebut dengan istilah revenge travel.

Peningkatan ini sempat dicatat oleh Traveloka pada semester pertama 2023. Platform perjalanan ini mencatat kenaikan pada pencarian penerbangan luar negeri sebesar tiga kali lipat dibandingkan periode serupa di tahun sebelumnya. Jepang, menjadi negara dengan tujuan destinasi perjalanan paling banyak dipesan.

Beberapa waktu lalu, survei Global Travel Intentions Study 2023 mencatat sekitar 92 persen wisatawan Indonesia memilih negara di Asia Pasifik sebagai labuan wisata. Adapun negara tujuan yang menjadi favorit wisatawan meliputi Singapura, Jepang, Malaysia, dan Australia. Survei itu juga menunjukan bahwa 84 persen wisatawan lebih memilih melancong secara mandiri atau setengah mandiri, dibanding mengikuti paket tur wisata.

Potret serupa juga ditampilkan oleh GrabAds, platform periklanan dari Grab yang merupakan aplikasi super asal Asia Tenggara. Dalam laporan SEA Travel Insights 2023 menunjukkan, 56 persen pengguna asal Indonesia tercatat ingin berpergian ke luar negeri. Bahkan, 81 persen di antaranya berencana melakukan setidaknya dua kali perjalanan dalam setahun mendatang.

Laporan tersebut juga menampilkan tiga destinasi negara yang paling memikat hati masyarakat Indonesia. Arab Saudi, Jepang, dan Korea Selatan tercatat yang paling banyak diminati masyarakat kita. Untuk tujuan di wilayah Asia Tenggara, Malaysia, Thailand, dan Singapura adalah tiga negara yang paling diminati.

Pakar Strategi Pariwisata Indonesia, Taufan Rahmadi, memperkirakan akan terjadi peningkatan orang Indonesia yang liburan di periode Nataru tahun ini. Taufan menilai mayoritas mereka berasal dari kalangan masyarakat kelas menengah ke atas. Berlibur mencari pengalaman baru menjadi alasan utama mereka melancong ke negeri seberang.

“Negara-negara yang selama ini dikenal dengan pariwisatanya seperti Jepang, Thailand, Malaysia, Korea Selatan, Singapura, menawarkan paket-paket wisata yang menarik. Beragam fasilitas memanjakan wisatawan Indonesia yang berkunjung ke negara itu,” kata Taufan kepada reporter Tirto, Rabu (27/12/2023).

Di sisi lain, libur Nataru biasanya membuat tiket pesawat perjalanan ke luar negeri justru lebih murah. Ditambah, kata Taufan, sebagian orang Indonesia berlibur ke luar negeri dengan motivasi dapat menaikkan gengsi diri.

“Sudah menjadi rahasia umum kalau tiket pesawat di dalam negeri yang menghubungkan destinasi wisata di Indonesia sangat mahal dibandingkan harga tiket pesawat menuju destinasi lain di luar negeri,” jelas Taufan.

Mencari Pembeda

Muhammad Novan (25), mengajak bertemu di sebuah kedai kopi dekat stasiun Cikini, Jakarta Pusat. Karyawan swasta yang tinggal di Jakarta Selatan itu sengaja membuat janji tatap muka untuk berbagi rencana liburannya ke Singapura pekan depan. Ditemani roti bakar selai kacang, es kopi susu, dan kepulan asap rokok, Novan lancar bercerita.

Ketika ditanya mengapa memilih Singapura sebagai tujuan wisata selama libur Nataru? Dia menyatakan negeri singa itu memang masuk dalam daftar harapan tempat yang sudah lama ingin dia kunjungi. Kebetulan, kata dia, ada kerabat yang tinggal di Singapura sehingga lumayan memotong ongkos penginapan.

“Terus sekalian nyari lingkungan yang beda untuk liburan, biasanya kan ke dalam negeri terus ya, ini mau nyoba jalan-jalan ke luar negeri mumpung ada duitnya,” kata dia sambil tertawa saat ditemui reporter Tirto, Selasa (26/12/2023) malam.

Novan berencana menghabiskan waktu lima hari di Singapura. Perjalanannya akan dilangsungkan sehari setelah pergantian tahun 2023. Dia mengaku sudah menabung cukup lama agar dapat liburan ke negeri seberang.

Budget untuk pesawat berangkat itu kalau enggak salah Rp1,1 juta tambah tiket pulang Rp1,3 juta. Bawa uangnya kira-kira si Rp8-10 juta ya, tergantung abis di sana berapa,” jelas Novan.

Di Singapura, Novan berencana mengunjungi sejumlah tempat-tempat umum yang sering menjadi tujuan wisata. Hal ini karena biasanya destinasi tersebut gratis sehingga mampu menekan pengeluaran.

“Mengingat biaya akomodasi, kan, udah mahal, jadi nyari tempat wisata yang gratis aja. Kayak Marina Bay, terus Orchard Road, Little India, Merlion Park sama Masjid Sultan,” ucap Novan.

Di sisi lain, Singapura dipilih karena Novan tertarik dengan suasana urban dan tata kota. Novan ingin mencari suasana beda dari liburan dalam negeri yang biasanya lebih banyak menawarkan wisata alam seperti gunung, bukit, dan pantai.

“Yang penting jangan dipaksakan pas enggak punya duit terus jalan-jalan. Nabung dulu pelan-pelan, kalau misal enggak cukup, ya jangan dipaksain. Ditunda dulu liburannya sampai duitnya kekumpul,” kata Novan sambil terkekeh.

Dihubungi terpisah, Ekonom Center of Reform on Economic (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menyatakan faktor mencari suasana baru dan menghindari kejenuhan wisata dalam negeri memang menjadi salah satu alasan orang memilih berlibur ke luar negeri. Umumnya, kata Yusuf, beberapa tempat wisata serta penyedia transportasi menyediakan berbagai potongan harga untuk memeriahkan libur Natal dan tahun baru.

“Saya kira kunjungan ke luar negeri disebabkan oleh kemampuan yang relatif melebihi dari para wisatawan lain, artinya ketika mereka punya pendapatan yang lebih dan kemampuan basic mereka sudah terpenuhi,” ujar Yusuf kepada reporter Tirto, Rabu (27/12/2023).

Di sisi lain, Yusuf menilai sebetulnya kondisi perekonomian domestik sedang tidak begitu baik. Hal ini juga memberikan kesempatan, terutama kelompok menengah, untuk dapat menikmati kunjungan wisata ke luar negeri di akhir tahun.

“Kelompok menengah yang akhirnya juga punya pendapatan lebih untuk melakukan kunjungan wisata ke luar negeri akan memilih kunjungan wisata ke negara-negara tetangga yang lebih dekat,” kata dia.

Sementara itu, kelompok menengah ini juga dinilai relatif kecil akan melakukan kunjungan wisata ke luar negeri. Menurut Yusuf, kelompok pendapatan atas masih mendominasi kalangan yang memilih berlibur Nataru di luar negeri tahun ini.

“Saya kira walaupun terjadi peningkatan, peningkatan kunjungan wisata ke luar negeri tahun ini terutama akan meningkat moderat atau meningkat secara tipis dibandingkan tahun lalu,” terang Yusuf.

Baca juga artikel terkait NATARU 2024 atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Abdul Aziz