Kenapa Ulama Tajikistan Rela Bangun Patung Lenin yang Dirobohkan?

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 13 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Patung Lenin berdiri di era Uni Soviet, dirobohkan, ada yang dibangun lagi atas inisiatif ulama. Kenapa?
tirto.id - Keruntuhan Uni Soviet pada 1991 melahirkan negara-negara baru di kawasan Asia Tengah, termasuk Tajikistan. Gerombolan warga anti-Moskow di negara tersebut, juga di Kirgistan, Kazakhstan, Turkmenistan, dan Uzbekistan, kemudian melakukan ritual khas: merobohkan patung.

Perobohan patung-patung mantan pemimpin Uni Soviet sekaligus penggerak Revolusi Bolshevik di Tajikiskan tidak berlangsung dalam sehari-semalam. Ada tarik-ulur yang membuat prosesnya mengaret panjang. Contohnya adalah perobohan patung Lenin di Shahritus yang baru terlaksana pada 2016.

Shahritus adalah sebuah kota dekat Sungai Kafirnigan di barat daya Tajikistan. BBC News mengutip catatan Radio Liberty Radio Ozodi bahwa patung tersebut berdiri pada 1980 dan menjadi patung tertinggi di seantero Tajikistan bagian selatan.

Perobohan patung Lenin di Shahritus “terlambat” 11 tahun sejak kemerdekaan Tajikistan. Elite lokal mempertahankannya sebab patung dianggap punya nilai historis. Kompleks taman di sekitar patung tetap dirawat, termasuk menjaga agar air mancurnya tetap mengalir.

Dua tahun lalu sikap mereka berubah seiring munculnya gerakan politik dan budaya yang ingin mengganti patung-patung itu dengan patung para pahlawan nasional Tajik era pra-Rusia. Warga ingin membersihkan artefak sejarah di ruang publik dari segala yang berkaitan dengan Uni Soviet.


Patung-patung Lenin di Dushanbe, misalnya, sudah terlebih dahulu tumbang pada 1991. Maklum, Dushanbe adalah ibukota sekaligus kota terbesar Tajikistan. Demonstrasi barisan pro-kemerdekaan berpusat di sana.

Satu patung di Freedom Square diganti dengan patung Ismail Somoni, emir Kerajaan Samanid dari Transoxiana (892–907 M) dan Khorasan (900–907 M) yang dijadikan sosok terhormat bagi warga Tajikistan. Patung Lenin di Central Park juga diganti dengan patung pahlawan nasional lain.

Patung Lenin di Khujand, mengutip arsip Asia-Plus, dirobohkan pada 30 Mei 2011. Khujand adalah kota terbesar kedua di Tajikistan. Di era Soviet, kota tersebut juga dikenal sebagai Leninabad. Provinsinya juga dijuluki dengan nama tersebut, sebelum akhirnya kembali dinamai Provinsi Sughd pada 2001.

Patung yang ditegakkan pada 1974 itu dipercaya sebagai yang tertinggi di kawasan Asia Tengah (12,5 meter). Perobohannya dimulai pada pukul 5 sore hingga selesai pada pukul 9 malam. Patung kemudian dipindahkan ke Victory Park.

Patung Lenin yang dirobohkan massa di Shahritus dibiarkan teronggok di sebuah pekarangan warga di desa Obshoron. Air mancurnya mandek. Taman di kompleks dibiarkan kotor dan tak terawat.

Masih mengutip Radio Liberty Radio Ozodi yang dilansir BBC News, awal September 2018 muncul tindakan yang menghebohkan publik Tajikistan. Patung Lenin di Shahritus dibangun kembali atas inisiatif para ulama serta imam masjid.

Patung dipoles ulang, dilapisi dengan cat berwarna emas, dan tangannya yang hilang telah kembali ke posisi semula. Kompleks taman dibersihkan. Air mancurnya diperbaiki sehingga bisa mengalir kembali.

Salah satu imam yang diwawancarai Ozodi tidak mau menyebutkan total sumbangannya, namun sumbangan dari jamaah di tiap masjid diperkirakan mencapai $100 atau Rp1,48 juta. Imam tersebut tidak menjelaskan latar belakang ide pendirian kembali patung Lenin di Shahritus.

Ragam pendapat bermunculan di jagad maya. BBC News melaporkan ada pihak yang meragukan status imam sebab berlaku serupa penyembah berhala. Uang dalam jumlah besar itu dikatakan lebih baik dipakai untuk membantu orang miskin.

Lainnya tidak secara eksplisit menyatakan dukungan, namun membandingkan standar hidup di Tajikistan yang kini lebih buruk ketimbang di era Soviet berkuasa.

Tanpa Lenin, kata mereka, tingkat buta huruf di seluruh Asia Tengah akan tetap tinggi. Ada juga berpendapat bahwa Lenin adalah bagian dari sejarah negara, terlepas dari baik-buruk tindakannya di masa lampau. Tajikistan, imbuh si komentator, minimal mesti mengakui fakta itu.


Infografik Lenin di Tajikistan


Lenin Lebih Toleran Terhadap Islam, Stalin?


Pendirian patung Lenin di Shahritus tak cuma mengundang pro dan kontra di rimba media sosial Tajikistan. Perkembangan Islam dan komunisme Soviet dalam sejarah Tajikistan secara khusus dan Asia Tengah secara umum juga kembali dibahas.

Alexey Malashenk dalam The Fight for Influence: Russia in Central Asia (2013) menerangkan bahwa Uni Soviet terdiri dari 15 republik sosialis di mana enam di antaranya mayoritas muslim. Keenam wilayah tersebut, yang kini telah merdeka, adalah Azerbaijan, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan.

Islam telah menjadi bagian dalam identitas warga Asia Tengah sejak kedatangannya pada abad ke-8 sebagai hasil dari penaklukan. Mayoritasnya Sunni dan mengikuti mazhab Hanafi. Dibandingkan penganut agama lain, sejak 1980-an populasi mereka di tiap negara rata-rata 80 persen atau lebih, demikian catat Encylopaedia Iranica.

Analisis panjang Dave Crouch di kanal International Socialism bertajuk The Bolsheviks and Islam mengungkap Kekaisaran Rusia punya dua wajah kepada komunitas muslim selama berkuasa selama hampir 200 tahun.


Ada periode ketika mereka bersikap moderat kepada muslim di Asia Tengah. Ada pula masa di mana mereka menjadi otoritas yang kurang ramah. Masing-masing tergantung kebijakan para kaisar dan pandangan mereka terkait Islam itu sendiri.

Revolusi Bolshevik yang dipimpin Lenin berhasil menggulingkan kekaisaran pada Oktober 1917. Saat Lenin berkuasa sebagai pemimpin Republik Sosialis Federasi Soviet Rusia dan perdana menteri Uni Soviet, negara bersifat tidak religius, tapi juga bukan anti-agama.

Komunitas-komunitas agama, termasuk Islam, diberi kebebasan menjalankan praktiknya. Mereka yang menganggap diri sebagai revolusioner juga diberi kesempatan untuk ikut dalam perjuangan Bolshevik di ranah militer.

Ada satu tokoh komunis muslim asal komunitas Tatar yang disegani Lenin, bernama Mirsaid Sultar-Galiev. Mengutip penulis buku The Resurgence of Central Asia, Islam or Nationalism Ahmed Rashid dalam artikelnya untuk Dawn, Galiev populer di kalangan muslim yang tinggal di Soviet, terutama di wilayah Asia Tengah.


Galiev mengadvokasi pendirian partai komunis muslim. Ia yang bilang pada Lenin bahwa di Asia perjuangan nasionalis mesti menggantikan perjuangan kelas sebab semua muslim yang dikolonialisasi adalah proletar yang direpresi orang Eropa.

Meski Lenin tidak menyetujui pandangan tersebut, tapi ia mentolerirnya. Namun, tak demikian Joseph Stalin. Galiev dipandang berbahaya, dan saat Lenin jatuh sakit pada 1923, ia dituduh berkhianat oleh Stalin. Usai Stalin benar-benar berkuasa, Galiev ditangkap dan ditembak mati pada Januari 1940.

Apa yang dialami Galiev mewakili apa yang dirasakan komunitas muslim di Asia Tengah sejak pemerintahan Stalin. Berbeda dengan Lenin, Stalin membentuk negara yang anti-agama dengan tangan besi.

Represi dijalankan dengan kekuatan penuh, dan membuat kebencian kepada Moskow menumpuk makin tebal tiap tahunnya. Kondisi serupa masih bertahan di era pasca-Stalin. Meski tidak sekejam Stalin, represi terhadap minoritas terlanjur melembaga dalam sistem kenegaraan Soviet.


Di masa pemerintahan Mikhail Gorbachev, sikap negara agak melunak. Dampaknya adalah menjamurnya masjid, literasi agama meluas, sekolah Islam makin banyak, dan lahirlah kebangkitan Islam pada era 1980-an. Islam makin menarik sebagai alternatif sekaligus solusi dari problem politik dan ekonomi yang dialami Soviet jelang keruntuhannya.

Usai merdeka, Tajikistan dan negara-negara Asia Tengah tidak langsung stabil. Ada beberapa yang mengalami konflik sipil berkepanjangan, jatuh ke dalam kediktatoran (lagi), hingga pelan-pelan mempraktikkan demokrasi. Islam, tentu saja, dipraktikkan secara luas baik dalam kultur maupun struktur.

Meski Soviet dulu dianggap sebagai belenggu, ideologi kiri termasuk komunisme tidak mati di Asia Tengah. Partai-partai berhaluan Marxisme, varian-variannya, termasuk simpatisan di berbagai lembaga swadaya masyarakat tetap ada.

Mereka vokal terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, termasuk saat ada patung Lenin yang dirobohkan. Mereka juga menyesalkan perobohan bangunan-bangunan bekas Soviet lain di ruang publik. Alasannya kerap serupa dengan yang diungkapkan elite Tajikistan di Kota Shahritus sebelum 2016: menghormati peninggalan sejarah.

Baca juga artikel terkait KOMUNISME atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Suhendra