Satu Negara, Dua Presiden Megalomania: Turkmenistan

Infografik Gurbanguly Berdymukhamedov
Presiden Turkmenistan Gurbanguly Berdimuhamedov mendengarkan pernyataan pembukaan Sekretaris Negara AS John Kerry (sebelum pertemuan) di depan Istana Presiden Oguzkhan di Ashgabat, 3 November 2015. Berdimuhamedov memenangkan pemilihan kembali dengan hampir 100 persen suara. REUTERS/BRENDAN SMIALOWSKI
Oleh: Eddward S Kennedy - 9 Agustus 2018
Dibaca Normal 6 menit
Presiden baru mereka, setidaknya, tidak sediktator pendahulunya.
tirto.id - Turkmenistan adalah negara yang unik. Baru mendeklarasikan kemerdekaan pada 27 Oktober 1991 setelah lepas dari Uni Soviet, tapi mereka sudah memiliki dua presiden yang karakternya nyaris serupa: sama-sama megalomania.

Presiden pertama mereka bernama Saparmurat Atayevich Niyazov. Ia pertama kali mengambil kekuasaan sebagai Sekretaris Pertama Partai Komunis Turkmenistan sejak 1985. Namun baru sejak masa transisi Turkmenistan (dari Republik Soviet menuju negara yang sepenuhnya berkedaulatan), Niyazov baru benar-benar menjadi presiden hingga kelak 15 tahun lamanya.

Pria kelahiran 19 Februari 1940 tersebut adalah seorang megalomania dengan serangkaian tindak-tanduk yang kerap melampaui batas normal. Selayaknya megalomania kebanyakan, Niyazov juga memerintah dengan tangan besi. Pihak oposisi dibungkam, lawan politik dipenjarakan. Terkait media, Niyazov pernah membangun sebuah gedung yang dinamakan House of Free Creativity sebagai bentuk dukungannya terhadap kebebasan pers. Namun dengan satu catatan: media tersebut harus pro pemerintah.

Yang terburuk dari Niyazov adalah sikap megalomanianya mewujud dalam berbagai bentuk. Contoh lain, ia memiliki sebutan untuk dirinya sendiri: Serdar Saparmurat Turkmenbashi atau Turkmenbashi yang Agung. Nama tersebut berarti: “Pemimpin Bangsa Turkmen”. Niyazov juga menamakan sekolah, bandara, pelabuhan, kota, hingga meteor dengan namanya.

Untuk mengekalkan segala hasrat narsisistiknya, foto-foto dan beberapa patung Niyazov juga turut dipasang di seluruh negeri. Salah satunya adalah patung emas raksasa di Ashgabat setinggi 4,5 meter yang dapat berputar menghadap matahari. Sementara patung lain berbentuk seorang ibu tengah menggendong bayi sambil menunggangi banteng mengamuk. Itu patung Niyazov dan ibunya.

Mendaku diri sebagai pemimpin agung dan memiliki patung emas rupanya belum cukup bagi Niyazov, maka dari itu, ia pun menempuh keabsurdan lain: menetapkan hari libur yang dinamakan Hari Melon. Setiap Hari Melon ini tiba, Turkmenistan akan mengadakan pesta besar-besaran, melibatkan seluruh rakyat dari hulu hingga hilir. Apa yang dimaksud Hari Melon tersebut? Tidak ada, selain karena Niyazov adalah penggemar buah melon, maka ia pun kemudian menciptakan hari libur untuk buah kesayangannya itu.

Niyazov juga mengganti nama-nama bulan dan hari dengan alasan yang sama sekali tidak memiliki urgensi apapun. Bulan Januari (Yanwar dalam bahasa Turkmen), misalnya, ia ganti menjadi Turkmenbashi, yang mana merupakan gelar Niyazov. Sementara bulan April ia tukar dengan nama Gurbansoltan. Nama ini ditakik dari nama mendiang ibunya, Gurbansoltan Eje. Nama ibunya tersebut pun juga dijadikan Niyazov sebagai pengganti sebutan roti.

Jika Adolf Hitler membuat Mein Kampf atau Mao Zedong memiliki “Kitab Merah”, maka sebagai diktator anyaran Niyazov juga tak mau kalah. Ia pun turut menciptakan sebuah “buku panduan” untuk rakyat Turkmenistan: Ruhnama.

Buku Ruhnama tak ubahnya kitab suci. Jika Anda membacanya lebih dari dua kali, surga adalah jaminannya. Setidaknya itulah yang dikatakan Niyazov. Karena ia ingin agar seluruh rakyatnya masuk surga, maka buku ini wajib dihafalkan oleh mereka. Untuk mempermudah penghafalannya, Ruhnama dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, bahkan untuk lulus tes mengemudi dan syarat wawancara kerja pun buku ini wajib disertakan.

Terlalu banyak hal yang pernah menjadi contoh kegilaan Niryazov. Pada tahun 2004, ia pernah melarang para pria menumbuhkan rambut panjang dan janggut. Sementara pada tahun berikutnya, ia melarang konser dengan menggunakan lip sync karena dianggap dapat berefek negatif kepada perkembangan musik Turkmenistan. Ia juga pernah melarang para pembaca berita wanita di televisi untuk mengenakan make-up karena Niyazov percaya: wanita Turkmenistan secara natural sudah terlahir cantik.

Menjelang masa jabatannya usai, November 2006, Niyazov mengatakan kepada publik bahwa ia menderita penyakit jantung. Tapi ia tampak baik-baik saja, bahkan sempat pula meresmikan sebuah taman ria. Namun pada 21 Desember 2006, Niyazov meninggal dunia. Kepergian Niyazov mestinya memunculkan harapan hidup yang lebih baik bagi rakyat Turkmenistan. Sayangnya, harapan hanyalah harapan. Sebab sosok pengganti Niyazov memiliki kegilaan yang tak jauh berbeda dengan dirinya.

Inilah presiden kedua Turkmenistan: Gurbanguly Berdymukhammedov.

Presiden Seribu Talenta

Di Indonesia, pernah ada seorang presiden kerap diolok-olok karena dianggap terlalu mementingkan pencitraan. Namun, semenyebalkan apapun sang presiden tersebut, semua yang dilakukannya tidak ada seujung kuku pun di hadapan Gurbanguly Berdymukhammedov.

Pada tahun 2013, pemerintah Turkmenistan pernah mengadakan lomba pacuan kuda tingkat nasional. Sebagai penggemar sejati olahraga tersebut, Berdymukhammedov pun turut serta. Ia membuktikan kepiawaiannya menunggangi kuda dengan terus memimpin jalannya lomba. Hingga tiba-tiba kuda yang ditungganginya tersebut terjatuh, Berdymukhammedov pun terpelanting ke depan dengan keras.

Banyak penonton yang merekam kejadian tersebut. Berdymukhammedov tampaknya tidak menyukainya. Maka dari itu, ia pun memerintahkan seluruh aparat untuk memeriksa telepon selular setiap orang yang berpergian keluar Turkmenistan untuk memastikan rekaman tersebut tidak bocor ke publik. Tentu saja cara itu tidak berguna. Video terjatuhnya Berdymukhammedov tersebut sudah terlanjur tersebar ke internet. Salah satunya dapat dilihat di laman Youtube milik Associated Press.

Namun demikian, Berdymukhammedov sesungguhnya memang presiden yang multitalenta. Selain piawai menunggangi (dan mengikuti balapan) kuda, ia juga seorang musisi, penyanyi, sekaligus komposer yang berbakat. Dalam sebuah video yang ditayangkan Chronicles of Turkmenistan, misalnya, tampak Berdymukhammedov bersama cucunya, Kerimguly, tengah menyanyikan sebuah lagu yang dibuat oleh si cucu.

Mengenakan kemeja dan topi berwarna merah menyala serta celana biru donker, Berdymukhammedov yang tampak begitu swag mulanya memainkan gitar ketika intro lagu dimulai. Setelah memasuki verse, ia beralih ke synthesizer untuk memunculkan beat-beat amboi yang membuat siapa saja ingin berdendang. Namun klimaks sesungguhnya adalah: Berdymukhammedov rupanya juga nge-rap di lagu tersebut. Ia menggunakan bahasa lokal, sementara cucunya berbahasa Inggris.

“Here’s a bowl of flowers and trees, here’s a music of mountains and sea, beautiful sights of rivers and sky, all other beauties in Turkmenistan.” Ketika mengucapkan kata “Turkmenistan”, Berdymukhammedov pun turut mengacungkan tangannya ke udara, membuat penampilan rapper kawakan sekelas Notorious B.I.G. tampak seperti seorang amatir belaka.

Musik memang sudah menjadi bagian dari hidup Berdymukhammedov sejak usianya masih muda. Ada beragam alat musik yang ia kuasai dan kerap ia tontonkan ketika ia menjadi presiden. Pada 2016, ia juga tampil bersama kedua cucunya dalam sebuah video klip menyanyikan lagu karyanya sendiri: Kalbymda Sen. Dalam video tersebut, Berdymukhammedov mengenakan kemeja Hawai sambil memainkan piano, sementara salah seorang cucunya menjadi disk jockey.

Bahkan ketika penetrasi musik EDM belum seheboh sekarang, Berdymukhammedov sudah lebih dulu tampil sebagai DJ dalam sebuah acara stasiun televisi nasional pada 2014 lalu. Bukan tak mungkin sang cucu belajar menjadi DJ dari kakeknya sendiri. Ia juga turut menghibur ratusan pekerja pabrik energi pada tahun 2017 melalui penampilan solonya.

Namun musik hanyalah satu dari segudang talenta Berdymukhammedov. Sebagai seorang pemimpin, ia tentunya juga harus memiliki kemampuan andal selayaknya prajurit perang. Maka ketika melakukan inspeksi militer pada Agustus 2017, Berdymukhammedov pun menunjukkan itu semua kepada dunia.

Dengan memakai seragam militer lengkap dan kacamata hitam, di hadapan para tentara Turkmenistan, Berdymukhammedov memamerkan keahliannya dalam membidik menggunakan senapan mesin, senapan laras panjang, menembak akurat dengan pistol tangan, hingga atraksi lempar pisau. Semua dilakukan Berdymukhammedov dengan sempurna dan tepat sasaran. Para tentara tersebut pun dibuatnya takjub.

Penampilan Berdymukhammedov mengingatkan orang kepada Arnold Schwarzenegger dalam film Commando. Sementara keahliannya bak kombatan ulung membuat Rambo yang kesohor itu seperti lelucon. Tak berlebihan rasanya jika menganggap Berdymukhammedov sebagai presiden multitalenta. Untuk itulah, sebagaimana presiden terdahulu, ia pun juga dibuatkan sebuah patung emas di Ashgabat. Meski itu adalah permintaan Berdymukhammedov pribadi.

Salah satu efek yang ditimbulkan dari aneka sikap Berdimuhammedov adalah rakyat Turkmenistan memiliki beberapa lelucon terkait dirinya. Salah satu seperti ini:

Ajudan: “Ada yang dapat saya bantu, Bapak Presiden?”
Gurbanguly Berdymuhamedov: “Tidak, saya hanya menunggu telepon masuk.”
Ajudan: “Um…. mungkin Anda harus meletakkan gagang telepon tersebut terlebih dahulu.”
Gurbanguly Berdymuhamedov: “Tidak akan! Terakhir kali telepon berdering, saya benar-benar lengah. Kali ini saya akan siap!”

Dapat dibayangkan bagaimana bahagianya menjadi rakyat Turkmenistan karena memiliki presiden multitalenta seperti beliau.



Keterbukaan dan Represi Berdymukhammedov

Kendati kedua presiden ini memiliki perangai nyaris sama, Niyazov dan Berdymukhamedov memiliki perbedaan konkret di berbagai kebijakan. Beberapa hal yang pernah dibuat Niyazov bahkan juga dirombak oleh presiden kedua.

Berdymukhamedov lahir pada 29 Juni 1957 di desa Babaarap yang terletak di Ashgabat. Dalam dokumen berjudul Berdimuhamedov and Turkemnistan’s Ruling Family yang dirilis kedutaan Amerika dan sempat dilansir Guardian pada 2 Desember 2010 silam, Berdymukhamedov disebut merupakan anak laki-laki satu-satunya dari delapan bersaudara. Ayahnya, Myalikguly Berdimuhamedov, merupakan mantan perwira senior Kementerian Dalam Negeri divisi detasemen pengawasan penjara. Dia pensiun sebagai Kolonel Pasukan Internal.

Masih dalam dokumen tersebut, Berdymukhamedov juga disebut memiliki dua keluarga yang berbeda. Dengan seorang perempuan Turkmen, ia memiliki dua anak perempuan dan seorang putra. Sementara dengan perempuan Rusia yang konon bernama Marina, ia memiliki seorang putri berusia 14 tahun. Marina dikabarkan telah tinggal di London sejak 2007.

Pada tahun 1979, Berdymukhamedov lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi Institut Kedokteran Negara Turkmen dan kemudian menyelesaikan PhD dalam Ilmu Kedokteran di Moskow dan mulai bekerja sebagai dokter gigi pada tahun 1980. Tahun 1995, ia diangkat menjadi Kepala Pusat Kedokteran Gigi di Departemen Kesehatan Turkmenistan dan didapuk sebagai profesor dan dekan Fakultas Kedokteran Gigi dari Institut Kedokteran Negara Bagian Turkmen. Berdymukhammedov pun juga pernah menjadi dokter gigi pribadi Niyazov selama bertahun-tahun.

Ketika Niyazov meninggal dan Berdymukhamedov menggantikannya pada 14 Februari 2007, berbagai kontroversi merebak. Berdasarkan konstitusi Turkmenistan, jika presiden meninggal mendadak maka posisinya harus diberikan kepada Ketua Badan Kekuasaan Perwakilan Tertinggi, yang pada masa itu dijabat oleh Halk Maslahaty. Beberapa media internasional memunculkan desas-desus terpilihnya Berdymukhamedov dikarenakan ia adalah putra tidak sah Niyazov.

Berdymukhamedov sendiri tidak memerintah dengan tangan besi sebagaimana Niyazov. Kebijakannya yang pertama ketika ia terpilih menjadi presiden Turkmenistan adalah dengan memasukkan kembali pelajaran bahasa asing dalam kurikulum sekolah, menambah jam sekolah, dan juga menambah pasokan internet agar dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.

Di ranah pemerintahan, Berdymukhamedov juga membersihkan orang-orang Niyazov dan mengganti mereka dengan nama-nama baru. Kini tercatat hanya tinggal dua anggota kabinet Niyazov yang masih dipertahankan: Menteri Luar Negeri, Rashid Meredov dan Wakil Perdana Menteri Kedua, Tachberdy Tagiyev, yang juga bertanggung jawab untuk sektor minyak dan gas.

Pada Maret 2007, Berdymukhamedov juga memensiunkan sekitar 100.000 pekerja lanjut usia, menambah uang pensiun hingga satu juta manat (mata uang Turkmenistan), serta membebaskan ribuan tahanan politik yang dahulu menentang pemerintahan Niyazov. Segala hal ini tentunya tidak pernah terjadi dalam masa pemerintahan Niyazov. Di sektor ekonomi, Berdymukhamedov juga melakukan reformasi dengan memanfaatkan penjualan gas alam ke negara lain, terutama Rusia. Ia juga membangun banyak resort dan fasilitas lain di Turkmenistan untuk menggenjot sektor pariwisata.

Berbagai bentuk keterbukaan memang menjadi gol politik Berdymukhamedov sejak ia terpilih sebagai presiden. Kendati demikian, berbagai sikap represif masih kerap dilakukan pemerintah Turkmenistan hingga mereka dianggap sebagai negara kedua paling terisolir setelah Korea Utara. Chary Ishaniyazov dari Radio Free Europe, menulis:

“Turkmenistan tetap menjadi salah satu negara paling represif di dunia, dan hak insani manusia masih menjadi dianggap sebagai ancaman. Mereka yang tidak setuju - apakah lawan politik, jurnalis independen, atau aktivis sipil - akan dijadikan dibungkam bersama dengan anggota keluarga mereka. Praktik keagamaan masih menjadi hal yang pelik di sini.”

Ia menambahkan:

“Turkmenistan masih menjalankan sistem satu partai: Partai Demokratik Turkmenistan, yang merupakan suksesor dari Partai Komunis. Itulah satu-satunya partai di negara ini. Masih tidak mungkin secara hukum untuk membentuk dan mendaftarkan partai politik, atau bahkan organisasi nonpemerintah. Kendati amandemen konstitusi memberi warga hak untuk mendirikan partai politik dan organisasi publik yang kegiatannya tidak melanggar ketentuan lain dari konstitusi.”

Sementara terkait kontrol ketat media, Berdymukhamedov juga masih bermasalah. Masih dalam artikel yang sama, Ishaniyazov menyebut: “Tidak ada media yang independen di Turkmenistan: seluruh media cetak dan elektronik berada di bawah kontrol ketat. Penyensoran pun adalah hal legal yang kerap dilakukan. Media-media internasional pun banyak yang diblokir dan membuat orang takut mengaksesnya.”

Pada 2015, seorang jurnalis bernama Saparmamed Nepeskuliev pernah ditangkap oleh aparat keamanan Turkmenistan setelah membuat laporan mengenai keadaan ekonomi dan permasalahan HAM di negara tersebut. Hingga kini, belum jelas bagaimana Nepeskuliev. Ia seperti hilang ditelan bumi dan masih dipertanyakan keberadaannya.

Baca juga artikel terkait DIKTATOR atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Politik)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight