Menuju konten utama

Kenapa Orang Masih Percaya Dukun Pengganda Uang Menurut Psikolog

Penyebab masih banyak orang percaya dukun pengganda uang menurut psikolog dan bagaimana cara mencegahnya?

Kenapa Orang Masih Percaya Dukun Pengganda Uang Menurut Psikolog
Ilustrasi dukun. tirto.id/iStockphoto

tirto.id - Belum lama ini aksi pembunuhan yang dilakukan Slamet Tohari seorang dukun pengganda uang asal Banjarnegara, Jawa Tengah membuat gempar masyarakat.

Sebab, ada 12 orang yang diburuh oleh Slamet saat ritual penggandaan uang dilakukan. Pembunuhan tersebut dilakukan antara enam bulan hingga 24 bulan sebelum korban ditemukan.

Lantas mengapa hingga saat ini masih banyak orang yang percaya dengan praktik-praktik dukun penggandaan uang?

Psikolog Sosial UGM, Prof. Koentjoro angkat bicara soal fenomena dukun Slamet ini. Menurutnya, di tengah era modern saat ini masih banyak orang yang memercayai dukun dengan kemampuan luar biasa dapat mengubah hidup seseorang karena cara berpikir masyarakat Indonesia masih bersifat matrealistis.

“Kalau dari perspektif korban, masyarakat kita itu konsep berpikirnya sangat matrealistis,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Tirto.

Ditambah lagi saat ini di tengah kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, orang bisa dengan mudahnya melihat unggahan di dunia maya maupun medsia sosial yang memamerkan kemewahan hidup atau flexing. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang turut memicu orang memiliki keinginan untuk tampil seperti mereka yang memperlihatkan simbol-simbol kepemilikan material.

Lantas, guna mewujudkannya orang akan berusaha dengan berbagai cara, termasuk dengan jalan pintas menemui dukun.

Keontjoro menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia saat ini sudah mengalami perubahan. Apabila dulu menjalin relasi di komunitas yang didorong pada motif berafiliasi, berkumpul, serta bersahabat, tetapi sekarang ini mulai berubah pada motif kekuasaan maupun simbol-simbol status sosial kian menggejala. Memamerkan simbol status sosial agar bisa diakui dan dihormati.

“Bagi orang berpengaruh, berbakat, maupun terdidik yang jadi korban itu karena serakah, ingin mendapatkan kekayaan lebih. Mereka ingin diakui dan dihormati lewat memerkan simbol-simbol status sosial,” paparnya.

Faktor Penyebab Orang Mudah Percaya Dukun

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM ini menyampaikan ada dua faktor yang menyebabkan masyarakat mudah percaya dukun, yaitu,

1. Korban terkena hipnotis gendam atau magic.

2. Ada orang tertentu yang mampu memengaruhi, meyakinkan bahkan memikat para korban untuk memercayai iming-imingan yang disampaikan.

Keontjoro menambahkan dari sisi pelaku kriminalitas, pelaku melakukan penipuan berkedok dukun untuk mendapatkan uang dengan jalan pintas. Sementara untuk menghilangkan jejak kejahatan maka ia tak segan untuk membunuh korbannya.

“Biar tidak ditagih terus penggandaan uang yang dijanjikan, korban diajak melakukan ritual yang sebenarnya untuk menghabisi nyawa korban dan mereka percaya kalau itu bagian dari ritual,” tuturnya.

Lantas bagaimana cara agar masyarakat tidak terjebak penipuan termasuk berkedok dukun?

Koentjoro mengatakan perlunya pendidikan keluarga yang mengajarkan ketentraman dan kesejahteraan hidup bukan dari simbol status sosial. Namun memaknai kebahagiaan dengan selalu bersyukur kepada tuhan.

“Sebenarnya agak susah mencegahnya, selam amotif ingin diakui masih ada. Perlu belajar sufisme untuk melawan matrealisme sehingga disini pendidikan keluarga menjadi penting dalam mengajarkan kehidupan untuk senantias bersyukur pada tuhan,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan lainnya dari Nur Hidayah Perwitasari

tirto.id - Gaya hidup
Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Iswara N Raditya