tirto.id - Amerika Serikat (AS) dan Israel kompak menyerang Iran mulai Sabtu (28/2/2026). Serangan di Teheran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei itu dilakukan di tengah proses negosiasi diplomatik tentang nuklir yang sedang berlangsung. Mengapa AS menyerah meski perundingan masih berjalan?
Serangan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu itu dilakukan dalam waktu dua hari pasca berakhirnya negosiasi tak langsung Teheran-Washington terkait program nuklir di Jenewa, Swiss pada Kamis (26/2). Itu adalah pertemuan ketiga dan semula pertemuan keempat telah dijadwalkan di Wina, Austria, pada pekan ini.
Namun, perundingan berminggu-minggu itu menjadi sia-sia setelah Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu memilih menyerang Iran pada hari terakhir Februari 2026. AS merilis operasi Epic Fury dan melancarkan serangan udara ke berbagai lokasi di Iran, termasuk di sekitar kediaman pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Alasan Amerika Serikat Serang Iran melalui Operasi Epic Fury
Beberapa saat setelah berita meledaknya sejumlah kawasan di Teheran mengemuka, Trump merilis sebuah video berdurasi 8 menit. Isi video tersebut adalah penjelasannya terkait serangan yang baru saja ia lakukan untuk menghancurkan militer Iran dan membunuh para pemimpin Teheran.
Seturut Reuters, ada sejumlah alasan yang digunakan Trump sebagai legitimasi serangan yang ia lakukan bersama Netanyahu. Hal utama dan yang pertama disebut Trump adalah soal nuklir.
Trump mengklaim dalam videonya bahwa Iran sudah tinggal sejengkal lagi memiliki senjata nuklir. Berulang kali dalam video itu, ia menyebut bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Pada Juni 2025 lalu, AS dan Israel sebenarnya telah menggempur fasilitas nuklir Iran dalam Perang 12 Hari. Trump mengklaim serangan itu berhasil menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Namun, Teheran disebut Trump berusaha membangun kembali fasilitas itu.
“Bayangkan saja betapa beraninya rezim ini jika mereka memiliki dan benar-benar dipersenjatai dengan senjata nuklir sebagai sarana untuk menyampaikan pesan mereka,” kata Trump dalam video itu.
Keengganan Iran untuk menghentikan ambisi mereka akan pengayaan kadar uranium disebut Trump sebagai alasan utama penyerangan.
Meskipun, Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi menjelaskan pada Jumat (27/2) kepada CBS, bahwa Iran sebenarnya telah bersedia menghentikan upaya pengayaan uranium. Badr al-Busaini juga menyebut bahwa Iran telah bersedia mengencerkan cadangan uranium ke tingkat paling rendah untuk energi, serta verifikasi penuh badan nuklir internasional (IAEA)
Akan tetapi, walaupun Iran telah menyetujui tuntutan AS terkait penghentian pengayaan uranium pada Kamis, Trump masih menggempur Teheran pada Sabtu. Trump menjelaskan dalam video berdurasi delapan menit bahwa serangan mematikan di Iran juga dilandasi alasan lain.
Alasan lain itu, sebut Trump, adalah kemajuan industri produksi rudal Iran. Trump menyebut bahwa kemajuan Iran dalam memproduksi rudal adalah ancaman bagi AS.
Trump mengklaim bahwa rudal jarak jauh Iran sudah bisa mencapai wilayah "teman baik dan sekutu kami di Eropa" dan "segera mencapai Amerika" dalam waktu dekat. Trump tak menyertakan pembuktian lebih lanjut atas klaim ini.
Presiden AS dari Partai Republik itu juga menyinggung tentang permusuhan Iran dan AS pasca Revolusi 1979. Trump menyitir sejumlah serangan Iran, termasuk serangan Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979 dan serangan proksi Iran terhadap Marinir AS di Beirut pada 1983.
Trump juga menyebut bahwa dukungan Iran kepada Hamas dalam serangan 7 Oktober 2023 adalah bentuk ancaman bagi AS, "pangkalan di luar negeri", dan sekutu mereka.
Tak hanya itu, Trump juga menyebut alasan yang sebelumnya sempat disinggung dalam pernyataan publiknya, yakni kekerasan eksesif Iran terhadap pengunjuk rasa sepanjang Desember hingga Januari lalu.
Trump sebelumnya aktif mendorong pengunjuk rasa untuk mengambil alih pemerintahan Iran, menjanjikan bantuan kepada mereka, dan melancarkan ancaman pada Teheran jika melakukan eksekusi terhadap ribuan orang yang ditangkap.
Pernyataan Trump terkait kematian ribuan pengunjuk rasa itu sempat menghilang dari pernyataan publik Presiden AS itu. Hingga kini kembali diucapkan. Trump menyebut serangan pada Sabtu adalah bagian dari hukuman atas tindak kekerasan aparat Iran terhadap pengunjuk rasa.
Alasan terakhir yang diungkapkan Trump dalam video berdurasi 8 menit itu adalah penggulingan rezim Republik Islam Iran. Secara eksplisit, Trump menyebut pemerintahannya berupaya untuk menggulingkan pemerintahan yang berjarak lebih dari 10.000 km dari mereka itu.
Dalam video penjelasan legitimasi serangan AS, Trump mendorong rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan.
"Setelah [serangan] selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan jadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk beberapa generasi," kata Trump kepada rakyat Iran.
Trump Beri Ultimatum 10 Hari di Tengah Perundingan Nuklir
Sekitar sepekan sebelum melancarkan serangan, Trump sempat mengultimatum Iran bahwa kesepakatan nuklir harus disepakati dalam waktu 10-15 hari atau "hal-hal buruk" akan terjadi.
"Anda akan mengetahuinya dalam waktu ke depan, mungkin 10 hari," kata Trump, dikutip dari Times of Israel.
Pernyataan itu kembali disampaikan Trump ketika menanggapi wartawan di pintu pesawat Air Force One pada hari yang sama. Trump menyebut waktu 10 hingga 15 hari.
"Saya kira itu waktu yang cukup, 10-15 hari, cukup, maksimal,” katanya. "Kita akan mendapatkan kesepakatan, atau mereka akan mengalami nasib sial," tambah Trump.
Pernyataan itu diucapkan Trump pada Kamis, 19 Februari 2026 atau 8 hari sebelum AS melancarkan serangan ke Teheran.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id




























