Menuju konten utama

Kemenkes-Novo Nordisk Kampanyekan Risiko Bahaya Perlemakan Hati

Obesitas menjadi salah satu pendorong utama penyakit perlemakan hati. Sebab, obesitas bisa memicu penumpukan lemak di berbagai organ, termasuk hati.

Kemenkes-Novo Nordisk Kampanyekan Risiko Bahaya Perlemakan Hati
(kiri ke kanan) dr. Siti Nadia Tarmizi (Kemenkes RI), Prof. Dr. dr. Rino Alvani Ganni,Sp.PD-KGEH, dr. Dicky Levenus Tahapary,Sp.PD-KEMD, PhD, dr. Riyanny Meisha Tarliman (Novo Nordisk) dalam acara diskusi Global Fatty Liver Day 2026 di Jakarta. Foto: Ryandro Prayoga Daromi/Tirto.id.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Penyakit perlemakan hati atau fatty liver disease merupakan salah satu kondisi kesehatan yang sering tidak disadari karena dapat berkembang tanpa gejala di tahap awal. Melalui momentum Global Fatty Liver Day 2026, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Novo Nordisk Indonesia menegaskan pentingnya edukasi, deteksi dini, serta pengelolaan faktor risiko, terutama obesitas, untuk membantu mencegah progresi penyakit perlemakan hati.

Tahun ini, Global Fatty Liver Day membawa tema "Act Now", sebuah seruan global yang menekankan urgensi untuk mengambil tindakan nyata guna mendiagnosis dan mengelola perlemakan hati lebih awal, mengingat kondisi ini sering kali bersifat reversibel jika ditangani tepat pada waktunya. Global Fatty Liver Day diprakarsai oleh Global Liver Institute dan diperingati setiap tahun pada Kamis kedua bulan Juni untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyakit perlemakan hati, salah satu isu kesehatan hati yang masih kerap terabaikan.

Fatty liver disease terjadi ketika terdapat penumpukan lemak berlebih di hati. Pada kondisi yang berkaitan dengan gangguan metabolik, penyakit ini dikenal sebagai Metabolic Dysfunction Associated Steatotic Liver Disease atau MASLD (penyakit hati berlemak terkait gangguan metabolik).

Obesitas merupakan salah satu pendorong utama kondisi ini karena dapat menyebabkan gangguan metabolik dan penumpukan lemak di berbagai organ, termasuk hati. Karena itu, obesitas harus menjadi perhatian agar tidak menyebabkan atau memperberat MASLD.

Di sebagian pasien, MASLD bisa berkembang menjadi Metabolic Dysfunction-Associated Steatohepatitis atau MASH (bentuk lebih berat dengan peradangan/kerusakan sel hati), yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko fibrosis, sirosis, hingga kanker hati.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa usia di atas 18 tahun mencapai 23,4%, sementara obesitas sentral pada penduduk usia ≥15 tahun mencapai 36,8%. Angka ini menunjukkan pentingnya perhatian bersama terhadap obesitas sebagai salah satu faktor hulu berbagai penyakit kronis, termasuk perlemakan hati.

Berangkat dari kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Novo Nordisk Indonesia mengadakan sesi diskusi edukatif dalam rangka Global Fatty Liver Day 2026 untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai hubungan antara obesitas dan penyakit hati berlemak yang tingkat kesadarannya masih relatif rendah di Indonesia.

“Fatty liver merupakan salah satu kondisi kesehatan yang perlu mendapat perhatian lebih karena sering kali berkembang secara diam-diam tanpa gejala yang jelas. Salah satu pemicu utama di balik kondisi ini adalah obesitas, yang kini menjadi tantangan kesehatan serius di tanah air. Seiring meningkatnya prevalensi obesitas di Indonesia, risiko terjadinya fatty liver dan berbagai penyakit kronis lainnya juga semakin tinggi. Obesitas bahkan dikenal sebagai ‘mother of all chronic diseases’ karena dapat menjadi pemicu berbagai komplikasi kesehatan. Oleh karena itu, kami mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap faktor-faktor risiko yang dimiliki dan melakukan deteksi dini guna menjaga kesehatan hati. Act now sebelum kondisi berkembang lebih jauh,” ujar dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur PTM Kementerian Kesehatan RI.

Dalam sesi diskusi tersebut, Prof. Rino Alvani Gani, Sp.PD-KGEH, dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RS Cipto Mangunkusumo, menjelaskan bahwa MASLD umumnya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga banyak kasus tidak terdeteksi sejak dini.

“Penyakit perlemakan hati perlu dipahami sebagai suatu spektrum. Pada tahap awal, kondisi ini dapat berupa penumpukan lemak di hati. Namun, apabila faktor risikonya tidak dikelola dengan tepat, sebagian pasien dapat mengalami progresi menjadi MASH, yaitu bentuk yang lebih berat karena sudah melibatkan peradangan dan kerusakan sel hati.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko fibrosis, sirosis, hingga kanker hati. MASLD juga perlu dilihat sebagai bagian dari risiko kardiometabolik yang lebih luas, karena penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan MASLD. Karena itu, deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko secara menyeluruh menjadi sangat penting,” jelas Prof. Rino.

Ia menambahkan bahwa individu yang hidup dengan obesitas, obesitas sentral, diabetes tipe 2, maupun hasil pemeriksaan fungsi hati yang tidak normal perlu mewaspadai kondisi ini dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk melakukan penilaian risiko serta deteksi dini kesehatan hati.

Di Indonesia, tata laksana perlemakan hati perlu dilakukan berdasarkan penilaian dokter dan kondisi masing-masing pasien. Pengelolaan faktor risiko, termasuk berat badan dan gangguan metabolik, menjadi bagian penting dari upaya menurunkan risiko progresi penyakit. Karena obesitas merupakan salah satu faktor hulu yang berperan dalam MASLD, pengelolaan berat badan menjadi bagian penting dalam pendekatan pencegahan dan tata laksana risiko metabolik.

Dalam konteks tersebut, dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, metabolik, dan diabetes, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RS Cipto Mangunkusumo, menekankan bahwa obesitas perlu dipahami sebagai kondisi medis kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif.

"Obesitas merupakan kondisi medis yang kompleks dan tidak dapat disederhanakan sebagai persoalan kemauan semata. Kelebihan lemak tubuh, terutama lemak viseral, dapat memicu resistensi insulin, inflamasi, dan gangguan metabolik yang berdampak pada berbagai organ, termasuk hati, jantung, dan pembuluh darah. Karena itu, tujuan tata laksana obesitas bukan hanya menurunkan angka berat badan, tetapi juga mendukung quality weight loss dan kesehatan metabolik jangka panjang," jelas dr. Dicky.

"Ketika terapi farmakologi dipertimbangkan, termasuk terapi berbasis GLP-1, pemilihan terapi perlu dilakukan berdasarkan kondisi pasien dan bukti klinis yang relevan. Tidak semua terapi berbasis GLP-1 memiliki profil dan bukti yang sama; karena itu, manfaat terhadap jantung dan pembuluh darah pada populasi pasien yang sesuai perlu menjadi salah satu pertimbangan dalam diskusi antara pasien dan dokter," lanjutnya.

Menanggapi hal tersebut, dr. Riyanny Meisha Tarliman, Associate Director, Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, menegaskan komitmen Novo Nordisk Indonesia dalam mendukung penanganan obesitas sebagai penyakit kronis yang berkaitan dengan berbagai komplikasi metabolik. Melalui inovasi terapi berbasis GLP-1 RA untuk manajemen berat badan, edukasi, serta inisiatif peningkatan kesadaran seperti situs NovoCare.id, Novo Nordisk berupaya membantu masyarakat memahami obesitas dan mengambil langkah awal untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

“Selama lebih dari 20 tahun hadir di Indonesia, Novo Nordisk terus berkomitmen mendorong perubahan bermakna dalam penanganan penyakit kronis dan metabolik. Kami percaya obesitas perlu dipahami sebagai penyakit kronis yang dapat dikelola secara medis. Melalui inovasi GLP-1 RA untuk manajemen berat badan serta edukasi melalui situs NovoCare.id, kami berharap semakin banyak masyarakat dapat memahami risiko obesitas, termasuk kaitannya dengan perlemakan hati, dan mengambil langkah proaktif untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,” ujar dr. Riyanny.

Melalui momentum Global Fatty Liver Day 2026, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Novo Nordisk Indonesia berharap semakin banyak masyarakat memahami bahwa penyakit perlemakan hati dapat berkaitan erat dengan obesitas dan gangguan metabolik. Dengan mengenali risiko sejak dini, melakukan deteksi dini, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, masyarakat dapat mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kesehatan hati, kesehatan metabolik, serta kualitas hidup jangka panjang.

Penulis: Tim Media Servis