tirto.id - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mengimbau jemaah haji Indonesia mulai menghemat tenaga menjelang fase puncak ibadah haji atau Armuzna. Imbauan itu disampaikan di tengah suhu panas di Makkah dan Madinah yang mencapai 42 derajat Celsius.
Juru Bicara Kemenhaj RI, Maria Assegaff, mengatakan jemaah perlu mempersiapkan kondisi fisik, mental, dan spiritual secara optimal menjelang puncak haji.
“Puncak haji memang membutuhkan kesiapan yang menyeluruh, tidak hanya pada kemampuan fisik saja, tetapi juga ketenangan mental, kesiapan spiritual, serta kedisiplinan dalam mengikuti seluruh arahan petugas,” kata Maria dalam update penyelenggaraan ibadah haji melalui konferensi pers yang ditayangkan di akun Youtube resmi Kementerian Haji dan Umrah, Senin (11/5/2026).
Dengan begitu, Maria meminta jemaah mulai membatasi aktivitas yang tidak mendesak agar stamina tetap terjaga saat memasuki fase Armuzna.
“Karena itu, kami meminta jemaah untuk mulai menghemat tenaga sejak dini. Jangan memaksakan diri kemudian melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak mendesak, terutama aktivitas di luar hotel pada siang hari,” ujarnya.
Ia mengatakan, suhu di Makkah dan Madinah pada hari ini, Senin (11/5/2026), berkisar antara 38 hingga 42 derajat Celsius. Kondisi cuaca tersebut dinilai berisiko mengganggu kesehatan jemaah apabila tidak diantisipasi dengan baik. Pemerintah juga meminta jemaah mengutamakan ibadah wajib dan tidak memaksakan aktivitas fisik berlebihan menjelang puncak haji.
“Utamakan ibadah wajib. Sekali lagi, utamakan ibadah wajib, perbanyak istirahat, makan tepat waktu, dan tentunya cukup minum air putih,” kata Maria.
Selain itu, jemaah diimbau selalu menggunakan alas kaki, membawa identitas diri, serta memakai pelindung seperti payung atau topi saat berada di luar ruangan.
“Kami juga mengimbau jemaah agar selalu menggunakan alas kaki, membawa identitas diri, mengenakan pelindung seperti payung atau topi saat berada di luar ruangan, serta segera beristirahat apabila tubuh sudah mulai terasa lelah,” ucapnya.
Maria juga mengingatkan jemaah lansia, penyandang disabilitas, dan jemaah dengan penyakit penyerta agar aktif berkoordinasi dengan petugas kesehatan apabila mengalami keluhan.
“Karena jangan ragu melapor apabila mengalami keluhan kesehatan, sebut saja seperti pusing, kemudian sesak napas, nyeri di dada, demam, batuk berat, atau kondisi tubuh lain yang sudah mulai terasa menurun,” ujar Maria.
Di samping itu, Maria menyebut Kemenhaj RI meminta Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) memperkuat pengawasan terhadap kesehatan, keselamatan, dan aktivitas jemaah menjelang fase puncak ibadah haji. Katanya, KBIHU memiliki kedekatan langsung dengan jemaah sehingga diharapkan tidak hanya berfokus pada pembinaan manasik dan ibadah.
“Karena itu, kami berharap bahwa KBIHU tidak hanya memberikan bimbingan manasik saja, memberikan bimbingan ibadah saja, tetapi juga ikut memperkuat orientasi kesehatan, keselamatan, ketertiban, dan kedisiplinan jemaah,” kata Maria
Ia mengatakan pendampingan KBIHU menjadi penting untuk memastikan jemaah memahami bahwa menjaga kondisi kesehatan merupakan bagian dari persiapan ibadah haji. Menurut dia, sinergi antara KBIHU dan petugas haji diperlukan agar pembinaan ibadah berjalan beriringan dengan edukasi kesehatan dan keselamatan jemaah.
“Kami mengajak seluruh KBIHU untuk terus bersinergi dengan petugas haji Indonesia di mana bimbingan ibadah, kemudian edukasi kesehatan, dan juga tentunya keselamatan jemaah harus berjalan seiring, terutama menjelang fase puncak haji ini,” kata Maria.
Hingga hari ke-21 operasional penyelenggaraan ibadah haji, pemerintah mencatat sebanyak 341 kloter dengan 132.057 jemaah dan 1.361 petugas telah diberangkatkan ke Arab Saudi. Sementara itu, sebanyak 240 kloter dengan 92.767 jemaah dan 960 petugas telah tiba di Makkah.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id





























