Menuju konten utama

Perjuangan Jemaah Haji Korban Bencana Aceh Pergi ke Tanah Suci

Berbagai kendala dihadapi jemaah haji asal Aceh akibat bencana akhir 2025. Tim Kemenhaj jemput bola agar para jemaah tetap bisa sampai ke Tanah Suci.

Perjuangan Jemaah Haji Korban Bencana Aceh Pergi ke Tanah Suci
Tim Koordinasi dan Pengendali Jemaah Haji Aceh pada PPIH Arab Saudi, Jamaluddin Affan Asyi, saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di Sektor 6 wilayah Jarwal, Makkah, Minggu malam (10/5/2026). Kredit foto: Abdul Aziz/MCH 2026

tirto.id - Jemaah haji asal Aceh akhirnya tiba di Tanah Suci. Dari total 14 kloter, hanya 1 kloter masuk fase gelombang satu, selebihnya masuk gelombang dua yang diterbangkan dari Tanah Air langsung ke Makkah melalui Bandar Undara Internasional King Abdulaziz, Jeddah.

Tim Koordinasi dan Pengendali Jemaah Haji Aceh pada PPIH Arab Saudi Jamaluddin Affan Asyi, menceritakan perjuangan pemerintah daerah dan Kemenhaj tetap memberangkatkan para korban banjir ini ke Tanah Suci. Sebagaimana diketahui, banjir besar melanda berbagai wilayah di Aceh pada 22-26 November 2025. Bencana yang disebut sebagai “tsunami kedua” itu menyebabkan kerusakan luas dan ribuan warga terdampak.

Pria yang akrab disapa Syekh Jamal itu mengatakan, dari 23 kabupaten/kota di Aceh, sebanyak 18 daerah terdampak cukup parah akibat banjir tersebut.

"18 kabupaten/kota itu terdampak bencana yang sangat luar biasa yang harta benda mereka itu habis semuanya, contohnya di Aceh Tamiang, ujar Syekh Jamal saat ditemui tim Media Center Haji (MCH), Minggu (10/5/2026) malam.

Syekh Jamal menyebut Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah dengan dampak terberat. "Di sana ada 150 jemaah haji pada saat pelunasan pertama, hanya baru satu orang [yang melakukan pelunasan],” kata pria yang sempat tinggal di Arab Saudi selama 10 tahun itu.

Menurut Syekh Jamal, kondisi tersebut membuat dia bersama tim Kemenhaj intens turun langsung ke lapangan guna membantu proses keberangkatan jemaah. Mereka melakukan berbagai upaya jemput bola, mulai dari pengurusan istitha’ah kesehatan hingga proses pelunasan biaya haji.

“Kami kemudian dengan tim dari Kemenhaj ditugaskan oleh Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur untuk menjemput bola, untuk merelokasi jemaah supaya bisa melakukan istitha'ah,” kata dia.

Tak hanya itu, Syekh Jamal menyampaikan berbagai kendala lain yang dihadapi pascabencana. Di Aceh Utara, misalnya, terdapat 18 paspor jemaah yang hanyut akibat banjir.

“Nah, hampir tiap hari kami berjibaku dengan pemerintah dan membuat laporan setiap hari termasuk ke Kemenhaj, ke Komisi VIII DPR RI, kemudian juga ke Gubernur Aceh dan Wakil Gubernur,” kata dia.

Selain itu, kata dia, sempat muncul isu kuota haji daerah terdampak bencana akan dialihkan ke provinsi lain. Namun, pemerintah daerah bersama PPIH terus bergerak agar kuota tersebut tetap dapat dipenuhi oleh jemaah asal Aceh.

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Syekh Jamal mengatakan, kuota haji Aceh justru menjadi salah satu yang paling cepat terpenuhi. “Malah melebihi target nasional,” kata dia.

Syekh Jamal menegaskan, koordinasi juga dilakukan dengan pihak perbankan agar proses pelunasan jemaah terdampak bencana dapat dipermudah.

Tak hanya itu, kerusakan infrastruktur akibat banjir turut menghambat proses input data kesehatan dan komunikasi. Banyak fasilitas rumah sakit dan jaringan elektronik yang rusak sehingga pelayanan harus dialihkan ke daerah lain yang infrastrukturnya masih berfungsi.

“Akhirnya kami alihkan ke daerah yang ada internetnya, kemudian yang ada komunikasi telepon dan sebagainya, karena semua infrastruktur elektronik hancur,” ujarnya.

Di balik seluruh tantangan tersebut, Syekh Jamal mengaku paling tersentuh melihat semangat para jemaah di Aceh Tamiang yang tetap berangkat haji meski kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat banjir.

“Mereka enggak ada apa-apa lagi, rumah sudah enggak ada, tapi mereka tetap berhaji,” ujar Syekh Jamal.

Namun demikian, Syekh Jamal merasa bersyukur tantangan dan cobaan yang dihadapi jemaah haji Aceh akhirnya teratasi, meski harus melalui proses yang melelahkan.

Dia juga merasa terharu karena jemaah haji asal Aceh secara bertahap sudah tiba dengan selamat di Makkah. Syekh Jamal berharap seluruh jemaah bisa melaksanakan ibadah haji dengan khidmat dan lancar.

Pada penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, Provinsi Aceh mendapatkan kuota 5.426 dengan 14 kloter masing-masing diisi 393 orang. Dari total 14 kloter tersebut, hanya 1 kloter yang berangkat pada gelombang 1, mayoritas masuk pemberangkatan di gelombang dua yang diterbangkan langsung ke Jeddah menuju Makkah.

Secara nasional, Kemenhaj melaporkan sebanyak 323 kloter dengan total 125.243 jemaah haji dan 1.289 petugas haji telah diberangkatkan ke Arab Saudi hingga Minggu (10/5/2026). Dari jumlah tersebut, sebanyak 204 kloter dengan 78.946 jemaah dan 816 petugas kini telah berada di Makkah setelah bergerak dari Madinah.

Baca juga artikel terkait PPIH atau tulisan lainnya dari Abdul Aziz

tirto.id - Flash News
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Hendra Friana