tirto.id - Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan Survei Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (SKJHI). Program ini sudah berjalan sejak 2010, dan mencerminkan tren tingkat kepuasan jemaah setiap tahun.
Tahun ini, Indonesia mendapat 203.320 kuota jemaah haji reguler. Dari jumlah itu, sebanyak 14.400 jemaah akan dipilih sebagai responden.
Anggota tim SKJHI sekaligus Humas, Budi Santoso, menjelaskan bahwa survei ini bertujuan mengevaluasi layanan haji serta menggali pengalaman langsung dari jemaah.
“Ada dua tujuan utama: mengetahui tingkat kepuasan melalui Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI), serta memperoleh masukan untuk peningkatan layanan,” ujarnya di Kantor Daker Madinah, Selasa (20/5/2025).
Doktor Statistik lulusan IPB ini merinci, indikator yang dinilai meliputi pelayanan petugas, layanan ibadah, transportasi (dari bandara ke hotel dan hotel ke Masjidil Haram), akomodasi (hotel di Madinah, Makkah, dan tenda di Arafah/Mina), layanan luar negeri, layanan kesehatan, serta layanan bagi lansia dan penyandang disabilitas.
Pengolahan data dilakukan oleh penanggung jawab data menggunakan aplikasi khusus. Analisis dilakukan di Jakarta, mencakup data kuantitatif dan kualitatif, termasuk fenomena lapangan yang disampaikan langsung oleh jemaah.
IKJHI menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun. Pada 2024, indeks mencapai 88,20. Hasil survei ini dimanfaatkan oleh Kemenag, Bappenas, dan instansi terkait dalam peningkatan layanan haji. Publikasi hasil dilakukan bersama antara BPS dan Kemenag.
Kuesioner SKJHI disusun berdasarkan masukan dari pemangku kepentingan, termasuk jemaah dan Kemenag. Tahun ini, telah ditambahkan pertanyaan khusus terkait layanan bagi lansia dan penyandang disabilitas.
“Sebelum musim haji, kami rapat dengan Kemenag untuk meninjau dan memperbarui pertanyaan berdasarkan masukan tahun sebelumnya dan kebijakan terbaru,” pungkas Budi.
Penulis: Fahreza Rizky
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































