Kematian Tabloid Bola dan Legenda Sumohadi Marsis

Oleh: Irfan Teguh - 27 Oktober 2018
Dibaca Normal 4 menit
Kematian Bola membawa kenangan banyak orang akan Sumohadi Marsis, salah satu pendiri tabloid itu dan pengisi tetap rubrik "Catatan Ringan".
tirto.id - Setelah 34 tahun menyapa pembaca setianya, pada Jumat (26/10/2018) tabloid Bola menerbitkan edisi terakhir. Ia terpaksa pamit karena zaman tak bisa dilawan. Berakhirnya tabloid ini semakin menambah daftar panjang media cetak yang terbenam setelah melewati masa senja yang kian kehabisan napas.

Edisi terakhir Bola tidak hanya diburu pembaca setianya, tapi juga oleh mereka yang ingin terlibat dalam salam perpisahan media olahraga paling populer dalam lini kala sejarah pers nasional itu.

“Setelah menemani pembaca di tanah air dan menjadi pengawas sekaligus partner bagi pengambil kebijakan olahraga nasional sejak Maret 1984, Tabloid Bola milik Kompas Gramedia akhirnya harus menemui ujung perjalanan. Kami pamit,” tulis Weshley Hutagalung pada halaman pertama edisi pamitan tersebut.

Seperti sudah diketahui secara umum, berakhirnya tabloid ini karena perkembangan teknologi kian pesat sehingga mengubah cara manusia mendapatkan informasi. Semuanya berjalan serba cepat, termasuk arus informasi yang berparade setiap detik. Meninggalkan cara lama yang berjalan tertatih perlahan.

Maka di titik ini media tradisional yang bergerak di jalur cetak tak punya pilihan: mereka mesti segera beralih jalan, berjejak di liku daring, dan perpisahan dengan pembaca yang telah terbiasa dengan kertas pun tak bisa dihindari.

“Hantaman tingginya biaya produksi yang menyangkut harga kertas, percetakan, dan distribusi diikuti kemajuan teknologi seolah tak memberi waktu untuk media tradisional bertahan, berbenah mencari solusi,” imbuh Weshley.

Perjalanan Bola selama 34 tahun menuju tubir kematian dan akhirnya terkubur serta ditangisi banyak pembaca tak bisa dilepaskan dari peran Sumohadi Marsis, salah satu pendiri tabloid ini.

Bersama Ignatius Sunito, ia mendirikan Bola dan rajin menyapa pembaca lewat rubrik “Catatan Ringan”. Sesuai dengan namanya, rubrik ini hadir dengan secara ringan dan mengalir. Pada 1992, kumpulan tulisannya ini diterbitkan sebagai buku.

“Salah satu yang tak pernah saya tinggalkan membaca Bola adalah membaca tulisan Sumohadi Marsis. Namanya ‘Catatan Ringan’. Setiap pekan, selalu hadir dengan isu terbaru, segar. Tidak bertele-tele. Tidak menghakimi. Apalagi menghujat,” tulis Martin Sihombing dalam obituari untuk Sumohadi Marsis.

Sumohadi Marsis lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah pada 8 Juli 1944. Pada 1970 ia mengikuti kursus jurnalistik yang diselenggarakan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) dan menjadi lulusan terbaik. Setelah itu ia bergabung dengan Harian Kami.

Seperti ditulis A.R. Loebis dalam Mimbar Rakyat, mula-mula Sumohadi Marsis meliput bidang kesenian sehingga banyak kenal dengan sejumlah sastrawan, sutradara, penyanyi, dramawan, pakar musik, hingga para pimpinan Dewan Kesenian Jakarta.

Setelah dua tahun bekerja di Harian Kami, ia kemudian bergabung dengan Kompas, tepatnya pada 1 Juni 1972.

“Ketika ia mulai beralih meliput olahraga, ia mendapat tawaran bergabung bersama Kompas. Tawaran itu datang dari wartawan olahraga Kompas, Ignatius Sunito yang sehari-hari bersama Sumohadi memburu berita olahraga,” tulis A.R. Loebis.


Kejahatan Maradona

Sepanjang kariernya sebagai wartawan selama 30 tahun, Sumohadi Marsis telah melakukan peliputan di 30 negara. Ia mengabarkan pelbagai peristiwa kepada para pembaca di Indonesia, termasuk gelaran Piala Dunia 1986.

Piala Dunia yang digelar di Meksiko itu merupakan pengalaman pertamanya meliput kejuaraan sepakbola paling akbar di muka bumi. Dalam penugasan tersebut ia berkisah tentang cara kerja redaksi Bola dalam mengolah berita sebelum disajikan kepada pembaca.

Karena saat itu teknologi surel belum ada, ia mengirimkan berita ke Jakarta dengan menggunakan mesin faksimile dan teleks. Naskah yang ia kirim tentu ditulis dalam kertas, dan saat diterima di Jakarta redaksi menyunting ulang naskah tersebut sehingga pengerjaan tulisan tersebut dilakukan dua kali.

“Seingat saya, semua wartawan Indonesia menggunakan cara seperti itu. Tetapi ini tidak berlaku bagi beberapa wartawan, termasuk seorang jurnalis dari Singapura yang saat itu sudah menggunakan semacam sistem komputer,” tulisnya.

Piala Dunia 1986 mempunyai tengara yang sulit dilupakan para pecinta sepakbola di seluruh pelosok dunia, yakni “Gol Tangan Tuhan” yang diceploskan Diego Armando Maradona. Dalam pertandingan sepakbola sebenarnya banyak gol “haram” yang tercipta oleh tangan, tapi yang dilakukan Maradona tetap menjadi yang paling menghunjam lereng ingatan banyak orang.

Saat “Gol Tangan Tuhan” itu terjadi, yang membuat Inggris tersingkir di perempat final, Sumohadi Marsis berada di stadion dan tak menyangka gol tersebut dilakukan dengan tangan. Ia baru mengetahuinya saat melihat lewat televisi yang ada di dalam stadion.

“Sampai sekarang, saya berpikir, dia [Maradona] bukanlah bintang sepakbola yang baik. Dia melakukan kejahatan. Dia bukan pemain yang patut diteladani, karena menghalalkan semua cara,” tulisnya seperti dikutip BBC.

Pada Piala Dunia 1986, Maradona memang seolah-olah tak terbendung. Setelah menghempaskan Inggris di perempat final, Argentina selanjutnya mengalahkan Belgia dengan dua gol kemenangan diborong Maradona. Lalu di pertandingan puncak, meski kali ini ia tidak menyumbang gol, tapi berhasil membawa Argentina menjadi juara.


infografik sumohadi marsis

Menyapa Lewat Lenting Cerita

Rubrik “Catatan Ringan” yang sempat diampu Sumohadi Marsis selalu hadir setiap kali Bola terbit, termasuk di edisi terakhir yang menayangkan ulang tulisannya yang ditulis pada 5 Februari 1999.

Dalam “Catatan Ringan”, Sumohadi Marsis kerap menyampaikan gagasan yang diakhiri dengan simpulan bersahaja. Namun bukan berati tidak tajam. Uraiannya yang penuh cerita membuat pembaca disuguhi persoalan aktual dengan cara yang tidak kering.

Pelbagai kabar yang terus bergulir seiring waktu dan hangat diperbincangkan pembaca, seperti persoalan pemain asing dalam Galatama, tidak terpilihnya seorang pemain sepakbola ke dalam tim nasional, wacana pemilihan pemain sepakbola Indonesia terbaik sepanjang masa, juga tentang bagaimana sebuah tim sepakbola menjadi juara dan merayakannya, ditulis olehnya dalam rangkaian kalimat yang terang dan teratur.

Dalam Bola No. 279, edisi minggu kelima Juni 1989, ia mengkritisi cara pelatih timnas dalam memilih pemain yang salah satunya disandarkan pada cara pemain tersebut mencetak gol.

Dadang Kurnia namanya. Ia pemain Bandung Raya yang sering mencetak gol. Hanya saja, sejumlah golnya dihasilkan dari tendangan penalti. Karena itu, Dadang dianggap kurang mumpuni dan belum layak untuk masuk timnas.


Dalam uraiannya, dengan menyebut sejumlah contoh tentang begitu pentingnya gol lewat tendangan penalti, apalagi kemudian timnas Indonesia berhasil mengalahkan Hongkong dalam pertandingan pra Piala Asia yang dua gol di antaranya dicetak Herry Kiswanto lewat tendangan penalti, Sumohadi Marsis menghunjam pelatih timnas dengan cara halus.

Ia melontarkan pertanyaan sindiran, apakah kemenangan itu menjadi kurang afdol karena dua gol yang bersarang ke gawang Hongkong lewat penalti?

Lalu di pengujung catatannya ia menulis, “Mudah-mudahan mereka maklum apa arti dua eksekusi Herry Kiswanto di hari Minggu itu.”

Sementara tentang kebijakan PSSI yang membuat peraturan dengan meniadakan pemain asing pada Galatama, ia membandingkannya dengan situasi sepakbola di Eropa yang saat itu penuh dengan narasi kehebatan pemain asing di level klub.

Dalam “Catatan Ringan” Bola edisi No. 275, minggu pertama Juni 1989 itu, ia memberi contoh AC Milan yang diperkuat trio Belanda dan menjuarai Piala Champions. Juga Napoli yang diperkuat Maradona, Careca, dan Alemao yang berhasil menjadi juara Piala UEFA. Tak ketinggalan Barcelona yang diperkuat Gary Lineker dari Inggris yang menjuarai Piala Winner.

Kenyataan ini ia tarik ke kancah sepakbola nasional yang justru melarang klub untuk merekrut pemain asing. Ia tak menyangkal jika isu pemain asing dalam Galatama adalah lagu lama yang telah lama diperbincangkan.

“Ya, ini sebuah lagu lama. Tapi terpaksa saya putar lagi karena di Eropa ternyata ia masih tetap merdu,” tulisnya.

Pada Jumat di pengujung Oktober 2018, saat Bola akhirnya pamitan, kiranya “Catatan Ringan” adalah satu rubrik yang paling diingat pembaca setia tabloid ini dalam waktu-waktu yang telah tercecer di belakang.

Sumohadi Marsis meninggal dunia pada 24 Desember 2017, setahun sebelum media yang ia dirikan menyusul memungkasi kiprahnya.

Baca juga artikel terkait MEDIA CETAK atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight