Tabloid Bola Tutup dan Sandaran Baru Bisnis Kompas Gramedia Group

Oleh: Dea Chadiza Syafina - 19 Oktober 2018
Dibaca Normal 4 menit
Setelah ditopang 53 tahun oleh bisnis media, Kompas Gramedia Group mencari sandaran baru dari ceruk bisnis perhotelan dan logistik.
tirto.id - “Halo, BOLAMania, seperti kabar yang sudah beredar, kami memang akan pamitan. Sebagai pembaruan informasi, dua edisi terakhir akan terbit pada Jumat (19/10), yang akan membahas derbi Milano, dan edisi pamitan pada Jumat (26/10),” tulis Tabloid BOLA di akun resminya @TabloidBOLA pada Rabu (17/10) pukul 19.38 WIB. Cuitan yang disertai hashtag #TerimaKasihPembaca itu mendapat nyaris 500 tanggapan dan di retweet 2 ribuan kali oleh pada netizen.

Kalimat tersebut merupakan sambungan dari cuitan sebelumnya yang bertuliskan, “Sesuai sejarahnya, edisi pertama BOLA pada 1984 terbit pada hari Jumat, dan akan berakhir pada Jumat pula. Terbit 56 halaman dan full color” tulis akun @TabloidBOLA yang masih menyertainya dengan hashtag #TerimaKasihPembaca.

Jumat (26/10) pekan terakhir di Oktober nanti, akan menjadi hari terakhir Tabloid Bola terbit. Perubahan lanskap bisnis yang sekarang lebih mengarah pada digital, turut menjadi penyebab tabloid yang resmi terbit secara mandiri sejak 1 April 1988 ini berhenti edar. Media olahraga yang berada di bawah naungan Kompas Gramedia Group ini resmi memberangus edisi cetaknya dan akan mempertahankan edisi online melalui situs bolasport.com

“Melihat dari lanskap bisnis terjadi perubahan sebanyak 80-85 persen di pasar. Perubahan itu bukan hanya di Kompas Gramedia (KG), tapi di seluruh media di Indonesia. Dan yang paling kena adalah media yang sifatnya reguler seperti mingguan dan bulanan, dalam hal ini tabloid dan majalah,” tutur Rusdi Amral, Direktur Hubungan Masyarakat (Humas) KG Group kepada Tirto.

Kondisi pasar yang mengarah kepada digital saat informasi diperoleh secara gratis, oplah tabloid yang mengalami penurunan, serta disrupsi digital, membuat manajemen KG berbenah dan melakukan transformasi bisnis. Model bisnis berbau digital memang dipilih KG Group pasca memangkas berbagai produk edisi cetak. Berhentinya cetakan Tabloid Bola bukan kali pertama dilakukan perusahaan yang didirikan oleh wartawan senior Jacob Oetama ini.


Pada Oktober 2014, KG Group memutuskan tak lagi mencetak tabloid sepakbola Soccer lantaran kondisi bisnis yang sulit. Bulan yang sama tahun berikutnya, edisi harian Bola tak lagi terbit. Usianya baru 2 tahun lebih 4 bulan kala itu. Pada Januari 2016 merupakan edisi terakhir Girls setelah 11 tahun melayani pembaca. Menyusul berikutnya pada Desember 2016 ada Tabloid Sinyal, Majalah Kawanku dan juga CHIP yang berhenti beredar. Semuanya beralih ke online.

Selain itu, Tabloid Chip Foto Video, What Hifi, Auto Expert, dan Motor juga terbit untuk terakhir kalinya pada Desember 2016. Majalah anak muda Hai yang terbit pertama kali pada 1977, harus berhenti cetak pada Juni 2017. Setelah menemani pembaca selama 40 tahun namanya, Hai kemudian bersalin ke dunia digital melalui hai.grid.id

Konsekuensi dari transformasi model dan lanskap bisnis adalah mengerucutnya kebutuhan sumber daya manusia. Pemutusan hubungan kerja (PHK) membayang di depan mata. Meski begitu Rusdi memastikan bahwa hal tersebut menjadi pilihan terakhir perusahaan. Ia bilang, setelah media konvensional dinyatakan ditutup, hak-hak seluruh karyawan memang dilepaskan. Selanjutnya, mantan karyawan diberi kesempatan untuk bekerja ulang dengan cara melamar pekerjaan di unit-unit bisnis yang tersedia di KG Group.

“Tergantung passion masing-masing mau mencoba di unit bisnis yang mana. Kesempatan sama besar diberikan kepada seluruh teman-teman dari Tabloid Bola untuk melamar di unit-unit bisnis KG Group yang lain,” kata Rusdi.

Kalaupun skenario terburuk berupa PHK harus dijalankan, manajemen perusahaan memberikan pesangon dua kali lebih besar dibanding ketetapan pemerintah. Besaran itu, kata Rusdi, telah menjadi kebijakan perusahaan saat salah satu anak usahanya ditutup. Besaran upah tersebut diharapkan dapat menjadi bekal yang cukup besar bagi pekerja Tabloid Bola yang terkena PHK.

Infografik Senjakala Kompas Gramedia


Sandaran Baru KG Group

KG Group memang memiliki banyak unit bisnis. Berawal dari bisnis media yaitu terbitnya Majalah Intisari pada 17 Agustus 1963 dan disusul Harian Kompas pada 28 Juni 1965, KG Group lantas mengembangkan unit-unit usaha lainnya. Dimulai dari bisnis ritel dan penerbitan, berupa jaringan toko buku dan penerbitan buku Gramedia yang didirikan tahun 1970. Dari sebuah toko buku kecil berukuran 25 meter persegi di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat, berkembang menjadi 120 toko pada 2015.

Saat ini, bisnis ritel dan penerbitan KG Group tidak melulu hanya tentang buku dan toko buku, tetapi juga café dan produksi tas. Sektor bisnis berikutnya yang dirambah KG Group adalah perhotelan melalui anak usahanya Santika Indonesia Hotels and Resorts. Hotel Santika, Santika Premier, Amaris Hotel, The Anvaya, The Samaya dan The Kayana adalah brand hotel milik KG Group.

Pilar bisnis hospitality yang dimiliki KG Group dalam dua-tiga tahun belakangan memberikan kontribusi yang besar terhadap bisnis perseroan secara keseluruhan. Persentasenya, menurut Rusdi, bisa mencapai 30 persen. Kontribusi bisnis perhotelan perlahan tapi pasti mulai mengambil alih peranan bisnis media yang selama 53 jadi penopang utama keberadaan KG Group.

“Sampai sekarang bisnis media masih menguntungkan, tapi kontribusinya bukan lagi pertama terbesar terhadap keseluruhan perseroan. Dua-tiga tahun terakhir sudah tergantikan oleh bisnis perhotelan yang memang mengalami pertumbuhan dari 10 hotel menjadi sekarang lebih kurang 108 hotel,” rinci Rusdi.

Lini bisnis yang kemudian dikembangkan adalah sektor manufaktur yang memproduksi barang cetakan dan produk kemasan berupa kertas dan kemasan fleksibel lainnya. Di lini ini, KG Group memiliki anak usaha bernama Metaform dan Gramedia Printing Group. Sepanjang perjalanan 55 tahun sejak awal berdiri, KG juga menancapkan kuku di industri pertunjukan dan hiburan.

Melalui Dyandra Promosindo, KG mengepakkan sayap di bisnis event dan exhibition organizer. KG juga membangun Indonesia Convention Exhibition (ICE) di BSD, Serpong, Tangerang Selatan. Bangunan seluas 220 ribu meter persegi ini, sering dijadikan pusat pameran, konvensi maupun gelaran konser musik dalam maupun luar negeri.


Lini bisnis yang juga disasar KG Group adalah pendidikan dengan memiliki Universitas Multimedia Nusantara yang didirikan pada November 2006. Ada pula tempat kursus bahasa asing yang berada di bawah naungan KG Group bernama English Language Training International (ELTI).

“Lini bisnis terbaru adalah properti yang akan dikelola oleh anak usaha KG Group dengan nama Permata Medialand. Juga ada bisnis infrastruktur dan bisnis logistik yaitu KG Express & Logistic,” sebut Rusdi.

Sektor properti dikembangkan menjadi lini usaha baru karena KG memiliki banyak aset bangunan. Misalnya gedung Permata Land, Allianz, dan Menara Kompas. Aset bangunan ini bisa disewakan dan mendatangkan cuan bagi induk usaha. Meski belum signifikan, kata Rusdi, tapi prospek bisnis properti dan infrastruktur memiliki prospek masa depan cukup cerah.

Melalui anak usaha PT Transindo Karya Investama, KG Group bersama Astratel dan PT Bumi Serpong Damai (Sinarmas Group) membangun Tol Serpong-Balaraja sepanjang 30 km. Sebelumnya, konglomerasi ini juga berinvestasi di tol Cinere-Jagorawi sepanjang 14 km, melalui anak usaha PT Translingkar Kita Jaya.

“Aset kami di bidang properti baru tumbuh dan belum banyak seperti pemain-pemain lama. Pengaruh terhadap induk usaha juga belum signifikan. Bisnis ini masih dirintis, baru 1/8 dari keseluruhan lini bisnis yang dikembangkan KG Group,” sebut Rusdi.

Lini bisnis logistik termasuk pilar bisnis yang baru dan baru didesain model bisnisnya. Sektor bisnis ini baru soft launching tapi berpeluang jadi harapan baru di tengah era digital dan e-commerce. Layanan jasa pengiriman ini dioperasikan oleh Sirkulasi KG dengan lini layanan jasa kurir dan logistik. Bisnis ini menurut Rusdi, memanfaatkan jaringan distribusi yang memang sudah dimiliki oleh KG sejak pertama kali sebagai entitas bisnis media.


Jaringan distribusi dan sirkulasi koran yang memang sebelumnya telah dimiliki, menjadi cikal bakal pengembangan bisnis logistik. Meski keberadaan bisnis ini sebagian besar dimanfaatkan untuk kepentingan internal berupa pengiriman barang jadi, namun sudah ada klien eksternal yang dilayani oleh KG Express dan Logistic.

“Potensi bisnis logistik dan prospek ekonomi Indonesia ke depan masih menjanjikan. Lalu lintas barang juga masih terbuka peluang yang cukup besar. Pengembangan bisnis logistik adalah dalam rangka mengantisipasi potensi bisnis yang ada,” jelasnya.

Apa yang dilakukan oleh KG Group bagian dari upaya sebuah entitas bisnis menghadapi perubahan dengan melakukan perubahan platform dan mencari sandaran baru dengan melakukan diversifikasi usaha. Strategi diversifikasi bisnis menjadi cara penting dalam pengembangan usaha sebuah grup perusahaan. Dalam penerapannya, keragaman divestasi bisnis ini harus tetap mengukur kemampuan perusahaan.

“Jajaran manajerial tertinggi perusahaan harus mampu mengukur kekuatan dan kelemahan, melihat ancaman dan peluang, serta mempertimbangkan keragaman usaha yang cocok bagi perusahaan. Perluasan area bisnis harus dilakukan dengan visibilitas yang jelas,” tulis Ebrahim Chirani dan Mona Effatdoost dalam jurnal berjudul Diversification Strategy, A Way Toward the Competitive Advantage yang terbit tahun 2013 (PDF).

Sylvia Chan-Olmsted dalam jurnal ekonomi berjudul Diversification Strategy of Global Media Conglomerates: Examining Its Patterns and Determinants (PDF) menyebutkan, perusahaan media internasional terkemuka bisa menggabungkan strategi keragaman dalam diversifikasi bisnis. Keragaman produk, keterkaitan produk serta model bisnis diversifikasi, menjadi pertimbangan dalam mengembangkan bisnis agar tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Baca juga artikel terkait MEDIA CETAK atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Suhendra