Keponakan Sukarno Memimpin El Bahar, Koran yang Melawan Orde Baru

Oleh: Petrik Matanasi - 13 Oktober 2021
Dibaca Normal 2 menit
Selain sempat menolak "pembersihan" yang dikehendaki Angkatan Darat, Angkatan Laut juga melawan opini Orde Baru lewat koran El Bahar.
tirto.id - Saat masih sekolah di Hogere Burger School (HBS) Surabaya, Sukarno sering berkunjung ke rumah Sukarmini, kakak perempuannya yang menikah dengan Poegoeh Wardojo pada 1917. Kakak iparnya, sebagaimana disampaikan Sukarno dalam Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat (1966:47), enam tahun lebih tua dari dirinya dan bekerja di jawatan pekerjaan umum. Poegoeh Wardojo suka memberinya uang jika hendak pulang kembali ke tempat indekosnya.

Poegoeh dan Sukarmini memiliki empat anak. Raden Soejoso Poegoeh adalah anak kedua mereka yang lahir sekitar tahun 1919. Setelah dewasa, keponakan Sukarno itu masuk ke bagian administrasi Angkatan Laut. Kariernya terbilang lancar dan pernah menjadi sekretaris Angkatan Laut. Pangkat terakhirnya adalah komodor (setara laksamana pertama) di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. Ia sempat menjadi Ketua Komisi C di Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong.

Di penghujung kekuasaan Orde Lama, Angkatan Laut sangat loyal kepada Presiden Sukarno. Kala itu, angkatan ini dipimpin oleh Laksamana Moeljadi dengan nama jabatan Menteri Panglima Angkatan Laut (Menpangal). Sementara itu, sejak 1966 Angkatan Darat di bawah Letnan Jenderal Soeharto makin menguat. Namun, menurut Harold Crouch dalam Militer dan Politik di Indonesia (1986:266), Angkatan Laut enggan tunduk kepada kekuatan Soeharto. Apalagi saat itu Angkatan Laut diperkuat oleh pasukan pendarat Marinir yang bernama Korps Komando (KKO) yang dipimpin seorang Sukarnois bernama Hartono.


“Moeljadi menolak pembersihan sebanyak tuntutan Angkatan Darat,” tulis Harold Crouch.

Selain itu, meski terus ditekan Angkatan Darat, di Angkatan Laut juga kemudian hadir koran El Bahar untuk membangun opini di masyarakat. Dalam El Bahar edisi 26 April 1968 disebutkan bahwa pemimpin umum dan penanggung jawab surat kabar ini adalah Raden Soejoso Poegoeh. Dia dibantu oleh ES Koesoemadi, R Mochtar, dan Soetjipto. Redaksi diurus oleh Prajitno. Di dalamnya terdapat para staf ahli, yaitu Laksamana Muda Abdullah, Komodor Agoes Soebekti, Soedjarwo, Drs Didi Moenadi, dan Bambang Soegeng. Koran ini beralamat di Jalan Prapatan 38, Jakarta.

Koran ini berbeda pandangan dengan arus utama zaman itu yang cenderung anti-Sukarno dan mendukung kelahiran Orde Baru, seperti Harian KAMI dan Mahasiswa Indonesia.

El Bahar bukanlah bacaan favorit. Surat kabar ini tidak punya banyak kabar, sebab sebagian besar komentar-komentar yang pro Sukarno. Tapi justru sikap pro Sukarno itulah yang menyebabkan El Bahar menarik perhatian,” tulis jurnalis majalah Ekspres (19/07/1970).

El Bahar tidak sendirian. Sebab ada juga koran Srikandi, pimpinan Nyonya Supeni, yang disebut majalah Ekspres sebagai “bininya El Bahar”. Koran lain yang tak sejalan dengan Orde Baru dan sezaman dengan El Bahar adalah Nusantara. Ketiganya sama-sama dianggap kritis kepada pemerintahan daripada Soeharto. Berbeda dengan “laki-bini” El Bahar-Srikandi yang dicap kekiri-kirian, Nusantara justru dianggap kanan.

Pada tahun 1967, El Bahar sempat diberedel sebentar. Sementara Srikandi pernah digagat ke pengadilan karena dituduh menyiarkan berita bohong yang menyerang kehormatan Presiden daripada Soeharto. Kala itu, seperti disebut majalah Ekspres, rezim Orde Baru masih dikekang undang-undang pers yang melarang pemerintah memberedel koran yang dianggap lawan pemerintah. Sebagai koran anti-Orde Baru, El Bahar hidup antara 1966 hingga 1972.


Infografik El Bahar dan Keponakan Sukarno
Infografik El Bahar dan Keponakan Sukarno. tirto.id/Fuad


Seperti halnya El Bahar, Komodor Raden Soejoso Poegoeh juga sulit dijinakkan Orde Baru. Sampai akhirnya ia diangkat menjadi Atase Militer di India sebagaimana disebut Laksamana Sudomo dalam Laksamana Sudomo, Mengatasi Gelombang Kehidupan (1997:175) karya Julius Pour. Penggantinya selaku Sekretaris KASAL adalah Laksamana Pertama TNI Abdul Rachman.

Penugasan itu membuat Raden Soejoso Poegoeh kesulitan memimpin El Bahar, hingga akhirnya surat kabar itu tidak lagi mengganggu Orde Baru. Meski El Bahar sudah tidak eksis lagi, namun dia ternyata tetap dianggap berbahaya. Dalam Peristiwa Malari 1974, nama Poegoeh disebut-sebut terkait dengan kelompok Ramadi. Menurut Soemitro dalam Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari '74 (1998:208), Poegoeh dianggap hendak mengumpulkan orang untuk membangkitkan kembali Sukarnoisme sehingga dia ditahan sejak 11 Februari 1974.


“Saya dituduh ikut dan bahkan bicara-bicara sebelum Peristiwa 15 meletus,” kata Poegoeh kepada Tempo (15/05/1976).

Padahal, imbuhnya, “saya istirahat ke Blitar di rumah ibu saya—kakak Bung Karno—sejak bulan Oktober 1973.”

Saat itu, dia tak bersama istri dan anaknya yang ditinggalkan di Jakarta. Pada 10 Februari 1974, istrinya mengirim agar dia segera ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, dia dijemput petugas Kopkamtib dan ditempatkan di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo. Dalam tahanan, penyakit kencing manis dan kolestrolnya kambuh. Berat badannya turun dari 88 kg menjadi 60 kg.

Selama ditahan, Poegoeh lebih banyak membaca kitab suci dan buku-buku teologi. Pada 1976, statusnya berubah menjadi tahanan rumah. Dalam usia 56 tahun, saat kesehatannya semakin menurun, Poegoeh tetap diawasi Orde Baru. Setelah tutup usia, dia dimakamkan di Blitar, dekat makam Presiden Sukarno.

Baca juga artikel terkait ANGKATAN LAUT atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight