Menuju konten utama

Kelas Menengah Terjepit: Bertahan atau Tersingkir?

Kelas menengah bukan sekadar kategori statistik, melainkan mesin utama ekonomi. Mereka adalah konsumen, pembayar pajak, sekaligus penggerak sektor riil.

Kelas Menengah Terjepit: Bertahan atau Tersingkir?
Kelas Menengah Terjepit: Bertahan atau Tersingkir? Tirto.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Fenomena menyusutnya kelas menengah kembali mengemuka setelah rilis riset Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026. Alih-alih sekadar fluktuasi statistik, temuan ini memperlihatkan gejala struktural yang lebih dalam: kelas menengah tidak hilang, tetapi mengalami tekanan hebat dari sisi pendapatan, biaya hidup, dan mobilitas sosial.

Data BPS (2024), menunjukkan jumlah kelas menengah turun dari sekitar 57,3 juta orang pada 2019 menjadi 47,2 juta pada 2024. Namun, ironisnya, kelompok ini tetap menjadi tulang punggung konsumsi domestik dengan kontribusi lebih dari 80 persen terhadap belanja rumah tangga nasional. Jadi, kelas menengah adalah fondasi ekonomi, tetapi kini mulai retak.

Kelas Menengah dalam Tekanan Struktural

Secara konseptual, kelas menengah sering dipahami sebagai kelompok dengan daya beli relatif stabil dan kemampuan mobilitas sosial ke atas. Namun, realitas terbaru menunjukkan pergeseran fungsi: dari consumer class menjadi coping class, kelas yang lebih sibuk bertahan daripada berkembang.

Ekonom Homi Kharas (2017) menegaskan bahwa kelas menengah global adalah motor konsumsi dan stabilitas ekonomi. Ketika kelompok ini melemah, dampaknya tidak hanya terasa pada rumah tangga, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Di Indonesia, tekanan terhadap kelas menengah bersumber dari kenaikan biaya hidup yang tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan riil. Laporan BPS (2024) menunjukkan bahwa inflasi pada sektor esensial, seperti perumahan, pendidikan, dan kesehatan, cenderung lebih tinggi dibandingkan inflasi umum. Maknanya daya beli riil kelas menengah terus tergerus.

Sementara itu, studi World Bank (2023) mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi risiko middle income trap, yakni kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melambat karena stagnasi produktivitas dan lemahnya mobilitas kelas menengah ke atas.

Pertumbuhan ekonomi Bali triwulan II-2025

Pedagang melayani warga yang berbelanja sayur di pasar tradisional di Denpasar, Bali, Selasa (5/8/2025). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/YU

Membaca Tren: Dari Stabil ke Rentan

Penurunan jumlah kelas menengah tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai “kemiskinan baru”. Sebaliknya, ini mencerminkan fenomena middle class squeeze, di mana sebagian kelompok turun ke kategori “aspiring middle class”, rentan secara ekonomi dan mudah terguncang oleh krisis.

Ekonom Branko Milanović (2016) menjelaskan dalam ekonomi berkembang, tekanan pada kelas menengah sering terjadi akibat ketimpangan struktural dan stagnasi upah. Ini terlihat, di mana pertumbuhan upah tidak mampu mengimbangi lonjakan biaya hidup, terutama di wilayah perkotaan.

Akibatnya, terjadi perubahan perilaku ekonomi: konsumsi menjadi lebih selektif dan berbasis kebutuhan, muncul tren rumah tangga dengan lebih dari satu sumber pendapatan, serta meningkatnya ketergantungan pada kredit. Fenomena ini menunjukkan bahwa kelas menengah sedang berada dalam defensive mode. Mereka masih berkontribusi besar terhadap ekonomi, tetapi dalam kondisi yang semakin rapuh.

Strategi Bertahan Kelas Menengah

Dalam situasi ini, kelas menengah dituntut untuk beradaptasi. Strategi yang muncul bukan lagi soal ekspansi gaya hidup, melainkan ketahanan ekonomi; Pertama, diversifikasi sumber pendapatan menjadi keniscayaan. Mengandalkan satu pekerjaan tidak lagi cukup di tengah ketidakpastian ekonomi.

Kedua, penguatan literasi keuangan menjadi penting, terutama dalam membangun dana darurat dan proteksi kesehatan. Ketiga, investasi pada peningkatan keterampilan, khususnya bidang digital, menjadi kunci untuk mempertahankan daya saing di pasar kerja.

Dalam perspektif manajemen strategi, ini dapat dipahami sebagai adaptive strategy, di mana individu menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan ekonomi yang semakin volatil.

Peran Negara

Namun, adaptasi individu tidak cukup tanpa intervensi kebijakan yang tepat. Pemerintah perlu melihat isu ini sebagai persoalan strategis, bukan sekadar sosial. Pertama, negara harus menurunkan biaya hidup struktural melalui reformasi sektor perumahan, pendidikan, dan kesehatan. Tanpa intervensi di sektor ini, kelas menengah akan terus terjebak dalam tekanan biaya.

Kedua, peningkatan pendapatan harus menjadi prioritas. Ini hanya bisa dicapai melalui transformasi ekonomi menuju sektor bernilai tambah tinggi. Seperti ditegaskan IMF (2022), negara berkembang perlu mendorong industrialisasi dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan upah.

Ketiga, mobilitas sosial harus diperkuat. Akses terhadap pendidikan berkualitas dan peluang kerja yang adil menjadi kunci agar kelas menengah tidak stagnan. Tanpa mobilitas, kelas menengah akan terjebak dalam siklus bertahan tanpa kemajuan.

Keempat, sistem perlindungan sosial perlu diperluas untuk mengantisipasi guncangan ekonomi. Pengalaman krisis menunjukkan bahwa kelas menengah sangat rentan jatuh ke bawah ketika terjadi shock ekonomi.

Menjaga Mesin Ekonomi Nasional

Kelas menengah bukan sekadar kategori statistik, melainkan mesin utama ekonomi Indonesia. Mereka adalah konsumen, pembayar pajak, sekaligus penggerak sektor riil. Ketika melemah, maka fondasi ekonomi nasional ikut terguncang.

Karena itu, kebijakan ekonomi tidak bisa hanya berfokus pada kelompok miskin atau investor besar. Diperlukan pendekatan yang lebih seimbang, pro-middle class growth strategy, yang memastikan kelas menengah tetap tumbuh dan berdaya.

Jika tidak, Indonesia berisiko kehilangan momentum menuju negara maju. Namun, jika berhasil diperkuat, maka mereka dapat menjadi motor utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Walhasil, pertanyaan yang harus dijawab bukan hanya apakah kelas menengah bisa bertahan, tetapi apakah negara mampu menciptakan ekosistem yang memungkinkan mereka berkembang. Karena di situlah masa depan ekonomi Indonesia dipertaruhkan.

Baca juga artikel terkait KELAS MENENGAH atau tulisan lainnya dari Dr. Faozan Amar, S.Ag., MM

tirto.id - Perspektif
Penulis: Dr. Faozan Amar, S.Ag., MM
Editor: Anggun P Situmorang