tirto.id - Warga Norwegia sangat bangga dengan Erling Haaland. Bagaimana tidak? Dia bersama timnya mampu membawa Norwegia melaju ke perempat final Piala Dunia setelah absen hampir tiga dekade. Haaland bahkan menjadi salah satu top scorer bersama Lionel Messi dan Kylian Mbappé. Viking Row tiba-tiba menjadi fenomena global yang dikenal di mana-mana.
Tidak berlebihan jika dikatakan sepak bola Norwegia sedang berada di puncak kejayaannya.

Tapi, Haaland bukan satu-satunya yang dibanggakan oleh warga Norwegia. Ada hal lain yang juga sangat mereka banggakan meski tidak familiar bagi orang kebanyakan. Namanya Oil Fund.
Oil Fund adalah dana kekayaan negara yang dikenal sebagai sovereign wealth fund (SWF) milik pemerintah Norwegia. Nama resminya adalah Government Pension Fund Global (GPFG). Dikenal dengan nama Oil Fund karena dana awalnya berasal dari hasil penjualan minyak dan gas.
Oil Fund adalah SWF terbesar di dunia dengan dana kelola 2,2 triliun Dolar AS. Sebagai konteks, angka itu hampir sepuluh kali lipat nilai APBN Indonesia. SWF Abu Dhabi yang terkenal itu pun nilainya “hanya” setengah dari Oil Fund.
Bermula dari minyak
Pada tahun 1969, perusahaan Phillips Petroleum menemukan cadangan minyak raksasa di ladang Ekofisk di Laut Utara. Penemuan itu mengubah sejarah Norwegia. Negara yang sebelumnya lebih dikenal sebagai bangsa pelaut, nelayan, dan perkapalan itu mendadak menjadi salah satu produsen minyak dan gas terbesar di Eropa.
Namun, pemerintah Norwegia sadar bahwa minyak bukan sumber daya yang tidak ada habisnya. Cepat atau lambat, cadangannya akan menipis lalu habis.
Mereka juga belajar dari pengalaman banyak negara yang mengalami kutukan sumber daya alam. Kekayaan minyak sering kali berujung pada pemborosan anggaran, ketergantungan terhadap komoditas, bahkan korupsi.

Karena itu, Norwegia mengambil keputusan yang boleh dibilang tidak lazim saat itu. Alih-alih menghabiskan seluruh pendapatan minyak untuk membiayai pengeluaran pemerintah, mereka menyisihkan sebagian besarnya ke dalam dana investasi. Dana itulah yang kemudian berkembang menjadi Oil Fund.
Dana itu dikelola oleh manajer investasi profesional yang menginvestasikannya di seluruh dunia. Bukan investasi langsung, melainkan investasi portofolio. Mereka membeli saham perusahaan terbuka dan obligasi pemerintah di banyak negara, mayoritas (53%) di Amerika Serikat.
Hasilnya, dana terus bertumbuh. Dari sekitar setengah triliun USD yang disuntikkan secara bertahap selama tiga dekade, nilainya sekarang mencapai 2,2 triliun Dolar AS. Imbal hasilnya sudah multibagger empat kali lipat lebih.
Rata-rata imbal hasil investasinya 6,6 persen per tahun. Jika mempertimbangkan inflasi, angkanya 4,3 persen. Sekilas terkesan kecil, tapi mengingat dananya super besar, angka itu sangat signifikan.
Sebagian kecil dana Oil Fund digunakan untuk membiayai APBN Norwegia, dengan ketentuan jumlahnya tidak boleh melebihi imbal hasil riilnya. Saat ini angkanya dipatok 3 persen. Dengan begitu, masih terbuka ruang bagi Oil Fund untuk terus tumbuh tanpa tergerus oleh APBN. Meski hanya 3 persen, tapi dana dari Oil Fund mencakup 27 persen APBN Norwegia tahun 2026.
Artinya, seperempat lebih anggaran pemerintah pusat Norwegia dibiayai dari “pendapatan pasif” hasil investasi. Ini membuat situasi fiskal Norwegia unik dan menjadinya salah satu negara dengan kondisi fiskal yang paling sehat di dunia. Negara lain yang mirip adalah Singapura, pemilik Temasek, yang pendapatan investasinya mencapai seperlima pendapatan negara.
Kunci sukses SWF Norwegia
Keberhasilan Oil Fund tidak hanya ditopang oleh keberuntungan karena Norwegia menemukan minyak. Banyak negara lain juga memiliki minyak. Yang membedakan adalah cara mereka mengelolanya.
Kunci pertama dan paling penting adalah orientasi jangka panjang. Sejak awal, pemerintah Norwegia sadar bahwa minyak bukan hanya milik generasi sekarang. Minyak akan habis, sementara negara harus tetap berjalan. Karena itu, pendapatan minyak tidak langsung dihabiskan. Sebagian besar diubah menjadi aset keuangan yang dapat terus memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
Kedua, pengelolaan yang profesional. Oil Fund berada di bawah Kementerian Keuangan Norwegia, tetapi pengelolaan investasinya diserahkan kepada Norges Bank Investment Management, unit khusus di bawah bank sentral Norwegia. Pemerintah menetapkan mandat dan aturan mainnya. Sementara keputusan investasi sehari-hari dilakukan oleh para profesional.
Pembagian peran ini penting. Politik tidak ikut menentukan saham perusahaan mana yang harus dibeli atau dijual. Keputusan investasi dibuat berdasarkan perhitungan risiko dan potensi keuntungan, bukan kepentingan politik jangka pendek.
Ketiga, diversifikasi. Dana Oil Fund tidak ditanamkan di satu negara, satu sektor, atau beberapa perusahaan saja. Investasinya tersebar di ribuan perusahaan dan puluhan negara, termasuk Indonesia. Sebagian besar ditempatkan di saham dan obligasi. Dengan cara ini, kerugian di satu tempat dapat ditutup oleh keuntungan di tempat lain.
Oil Fund juga tidak berinvestasi di dalam negeri. Seluruh dananya ditempatkan di luar Norwegia. Tujuannya agar pendapatan minyak yang sangat besar tidak membuat ekonomi domestik terlalu panas, memicu inflasi, dan melemahkan daya saing sektor lain.
Keempat, transparansi. Masyarakat dapat melihat nilai dana, hasil investasi, biaya pengelolaan, hingga daftar perusahaan yang sahamnya dimiliki Oil Fund. Laporannya diterbitkan secara berkala dan dapat diakses oleh siapa saja.
Transparansi membuat masyarakat tahu ke mana uang negara mereka pergi. Ini juga membuat pengelola dana tidak mudah mengambil keputusan secara sembunyi-sembunyi. Kepercayaan publik pun terjaga.
Kelima, disiplin dalam menggunakan dana. Pemerintah tidak bebas mengambil uang dari Oil Fund sesuka hati. Ada pedoman fiskal yang membatasi penggunaan dana dalam jangka panjang sekitar 3 persen dari nilai Oil Fund.
Aturan itu tidak sepenuhnya kaku. Saat terjadi krisis, pemerintah bisa menggunakan dana lebih besar. Namun, dalam kondisi normal, penggunaannya justru dijaga di bawah 3 persen. Dengan begitu, dana pokok tetap aman dan Oil Fund masih memiliki ruang untuk terus tumbuh.
Keenam, konsistensi.Oil Fund tidak dibangun dalam satu atau dua periode pemerintahan. Dana ini sudah tumbuh selama tiga dekade dan melewati banyak pergantian pemerintahan. Siapa pun yang berkuasa tetap menjalankan kerangka yang sama.
Referensi bagi Indonesia

Jika Norwegia memiliki Oil Fund, Indonesia kini memiliki Danantara. Meski konsep, sumber dana, dan mandatnya berbeda, keduanya memiliki kesamaan sebagai instrumen investasi negara yang diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang. Karena itu, pengalaman Norwegia menjadi salah satu referensi yang menarik untuk dicermati.
Pengalaman Norwegia menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah SWF tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset yang dikelola, tetapi juga oleh visi jangka panjang, tata kelola yang profesional, diversifikasi investasi, transparansi, kedisiplinan dalam penggunaan dana, serta konsistensi menjalankan aturan.
Shohib Masykur adalah konsuler untuk KBRI Oslo di bidang Penerangan Sosial dan Budaya.
Masuk tirto.id
































