tirto.id - Pemprov Jawa Barat dan PT Kereta Api Indonesia menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang optimalisasi penyelenggaraan dan pengembangan perkeretaapian di Jawa Barat.
Pakta yang diteken oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin tersebut merupakan langkah lanjutan dari komitmen bersama pada 10 Oktober 2025 untuk memperkuat pengembangan perkeretaapian dan konektivitas antarmoda di seluruh Jawa Barat.
Ruang lingkup kerja sama mencakup penguatan identitas layanan kereta api, penataan kawasan stasiun, serta penyusunan kajian strategis untuk mendorong percepatan pembangunan ekosistem transportasi berbasis rel.
Dedi Mulyadi menuturkan, salah satu layanan yang tengah disiapkan ke depan adalah pengembangan Kereta Kilat Pajajaran, yang akan melayani rute Gambir-Kota Bandung serta Kota Bandung-Banjar.
"Waktu tempuh relatif sangat cepat yaitu Gambir-Kota Bandung satu setengah jam dan bisa dibikin 1 jam kalau mau, kalau mau. Kan belum tahu kemudian. Kemudian dari kota Bandung Garut Tasik sampai Banjar dengan waktu tempuh 2 jam," ujar Dedi, dikutip dari akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71, Selasa (2/12/2025).
Selain Kereta Kilat Pajajaran, kajian juga akan dilakukan pada pengembangan kereta pariwisata Jakarta-Bogor-Sukabumi-Cianjur bernama Jaka Lalana. Ada pula kajian mengenai pengembangan lokomotif atau gerbong khusus untuk mengangkut hasil pertanian dan perdagangan dari Jakarta-Cirebon dan Jakarta-Banjar; kereta rel listrik Padalarang-Cicalengka; serta optimalisasi jalur KRL Nambo-Citayam.
"Untuk itu doakanlah agar kami bisa mendapat uang untuk memenuhi seluruh cita-cita yang besar ini semoga Pemda Jawa Barat berjodoh dengan PT KAI," tuturnya.
Sementara itu, dalam keterangan resminya, Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa kolaborasi ini selaras dengan agenda transformasi KAI dan prioritas pembangunan Jawa Barat yang berorientasi pada pemerataan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas layanan publik.
“Kereta api adalah fondasi konektivitas Jawa Barat. Melalui kerja sama ini, kami ingin menghadirkan layanan yang semakin relevan bagi masyarakat, memperkuat pariwisata, mempermudah mobilitas pelaku usaha, dan mendorong transportasi yang berkelanjutan,” ujar Bobby.
Selain layanan, penataan kawasan stasiun juga menjadi agenda prioritas. Pada tahap pertama, penataan difokuskan di Stasiun Bandung dan Stasiun Kiaracondong sebagai simpul mobilitas utama di Bandung Raya. Tahap berikutnya akan diterapkan di stasiun-stasiun lain sesuai kebutuhan dan prioritas bersama.
Saat ini, di Jawa Barat terdapat kurang lebih 98 stasiun aktif yang menjadi simpul mobilitas masyarakat serta pintu masuk kegiatan ekonomi daerah. Dengan jaringan yang tersebar luas tersebut, pengembangan stasiun dan layanan kereta api memiliki potensi besar dalam meningkatkan konektivitas perkotaan hingga perdesaan, membuka akses destinasi wisata, serta memperlancar distribusi logistik dan rantai pasok hasil pertanian dan UMKM lokal.
Perbaikan ekosistem transportasi berbasis rel di Jawa Barat berpotensi menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di sekitar simpul-simpul stasiun.
“Penataan kawasan stasiun dengan menata ruang agar lebih ramah pejalan kaki, terintegrasi dengan angkutan umum, dan memberi ruang yang lebih baik bagi UMKM. Stasiun harus mencerminkan wajah Jawa Barat yang modern, nyaman, dan inklusif,” lanjut Bobby.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id
































