Menuju konten utama

Kalau Sepak Bola Asia Mau Maju, Belajarlah dari Jepang

Jepang membuktikan kemajuan sepak bola lahir dari sistem yang konsisten. Asia dinilai perlu membangun fondasi serupa untuk bersaing di Piala Dunia.

Kalau Sepak Bola Asia Mau Maju, Belajarlah dari Jepang
Header Wansus Anton Sanjoyo. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Selama hampir satu abad penyelenggaraan Piala Dunia, hanya ada dua benua yang benar-benar berhasil menguasai panggung sepak bola dunia: Eropa dan Amerika Selatan. Dari Uruguay pada 1930 hingga Argentina pada 2022, seluruh trofi juara dunia selalu berpindah tangan di antara negara-negara dari dua kawasan tersebut. Sementara itu, Asia masih terus berusaha mengejar jarak yang tampaknya tak kunjung tertutup.

Padahal, jika melihat jumlah penduduk maupun antusiasme masyarakat terhadap sepak bola, Asia seharusnya memiliki modal yang sangat besar. Stadion-stadion di Jepang, Korea Selatan, Indonesia, hingga Tiongkok kerap dipenuhi puluhan ribu penonton. Liga-liga domestik di berbagai negara Asia juga memiliki basis penggemar yang tidak kalah fanatik dibandingkan kawasan lain. Namun, ketika berbicara soal prestasi di level tertinggi, hasilnya masih jauh dari harapan.

Hingga saat ini, pencapaian terbaik Asia di Piala Dunia masih dipegang oleh Korea Selatan yang berhasil mencapai semifinal pada edisi 2002. Selebihnya, perjalanan tim-tim Asia lebih sering berhenti di fase grup atau babak gugur awal. Jepang, yang saat ini dianggap sebagai negara dengan sistem sepak bola terbaik di Asia, bahkan belum pernah melangkah lebih jauh dari babak 16 besar meski telah tujuh kali beruntun tampil di Piala Dunia.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan yang terus berulang dari generasi ke generasi: mengapa Asia selalu tertinggal? Sebagian menyoroti kualitas kompetisi domestik yang belum merata. Sebagian lain menilai persoalannya terletak pada infrastruktur, pembinaan usia muda, nutrisi atlet, hingga minimnya pemain Asia yang mampu bertahan di liga-liga elite Eropa. Namun, jika ditarik lebih jauh ke belakang, persoalan yang dihadapi Asia tampaknya tidak hanya berkaitan dengan sepak bola itu sendiri.

Di Eropa, sepak bola tumbuh di atas fondasi masyarakat yang telah terbentuk selama ratusan tahun. Klub-klub sepak bola lahir dari komunitas, sekolah, lingkungan kerja, hingga organisasi masyarakat sipil. Sementara itu, Amerika Selatan berkembang melalui jalur yang berbeda. Kawasan ini mungkin tidak memiliki sistem yang serapi Eropa, tetapi mereka memiliki tradisi sepak bola yang begitu mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Di negara-negara seperti Brasil dan Argentina, sepak bola dimainkan di jalanan, lapangan tanah, hingga gang-gang permukiman sejak usia dini.

Asia menghadapi tantangan yang berbeda. Banyak negara di kawasan ini memiliki gairah yang besar terhadap sepak bola, tetapi belum memiliki jalur pengembangan yang mampu menghubungkan antusiasme masyarakat dengan sistem pembinaan yang berkelanjutan. Akibatnya, jutaan anak bermain sepak bola setiap hari, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mendapatkan akses menuju pembinaan yang terstruktur.

Dalam pandangan pengamat sepak bola Anton Sanjoyo, kesenjangan tersebut pada akhirnya berkaitan dengan kualitas sistem sosial yang menopang perkembangan sepak bola di masing-masing negara. Di Asia, hanya segelintir negara yang berhasil melakukan hal serupa.

Jepang menjadi contoh yang paling sering disebut. Pada dekade 1980-an, Samurai Biru menyadari bahwa mereka tidak bisa mengandalkan bakat semata untuk mengejar ketertinggalan dari Eropa dan Amerika Selatan. Mereka kemudian membangun sistem secara bertahap, mulai dari kompetisi sekolah, pengembangan pelatih, liga profesional, hingga pengiriman pemain ke luar negeri.

Hasilnya tidak datang dalam semalam. Jepang membutuhkan waktu puluhan tahun sebelum akhirnya tampil untuk pertama kali di Piala Dunia pada 1998. Namun sejak saat itu, mereka tidak pernah lagi absen. Dalam dua dekade terakhir, semakin banyak pemain Jepang yang mampu bersaing di Inggris, Jerman, Spanyol, Italia, maupun Prancis.

Piala Dunia 2026 kembali menjadi panggung untuk mengukur sejauh mana perkembangan tersebut berjalan. Dengan jumlah wakil Asia yang lebih banyak dibandingkan sebelumnya, harapan terhadap lahirnya kejutan baru kembali menguat.

Jepang datang dengan status sebagai tim Asia dengan peringkat FIFA tertinggi. Korea Selatan masih menjadi langganan Piala Dunia dengan pengalaman yang panjang. Sementara Uzbekistan muncul sebagai pendatang baru yang menarik perhatian setelah melakukan investasi besar dalam pembangunan sepak bola nasional.

Meski demikian, pertanyaan besarnya tetap sama: apakah bertambahnya jumlah peserta dari Asia akan otomatis membuat benua ini semakin dekat dengan trofi Piala Dunia? Atau justru persoalan utamanya tetap berada pada fondasi yang jauh lebih mendasar daripada sekadar jumlah wakil yang bertanding?

Pengamat sepak bola Anton Sanjoyo menilai jawaban atas pertanyaan tersebut tidak hanya dapat ditemukan di lapangan hijau, melainkan juga pada bagaimana suatu negara membangun sistem, budaya, dan visi jangka panjang dalam mengembangkan sepak bola.

Berikut adalah petikan wawancara Tirto dengan Anton Sanjoyo pada Senin (8/6/2026) lalu:

Dari tahun ke tahun, setiap Piala Dunia digelar, selalu dibicarakan sejauh mana peluang tim-tim dari Asia untuk bisa bersaing dengan tim-tim top dunia, terutama yang berasal dari Eropa dan Amerika Selatan. Termasuk tahun ini, banyak yang membicarakan bagaimana Jepang bisa melaju lebih jauh lagi, bahkan menembus rekor Korea Selatan yang mencapai semifinal pada Piala Dunia 2002. Menurut Anda, seperti apa peluang tim-tim Asia di Piala Dunia kali ini?

Waktu Korea Selatan menembus semifinal pada 2002 memang ada anomali. Mereka adalah tuan rumah, dan dalam sepak bola selalu ada faktor keberuntungan serta banyak faktor lain yang sangat kompleks.

Meski begitu, keberhasilan Korea Selatan mencapai semifinal tetap fenomenal. Namun bagi saya, itu tetap sebuah anomali karena setelah itu tidak ada lagi pencapaian tim Asia yang benar-benar mencengangkan.

Kalau kita bicara Asia secara umum, negara yang mampu bersaing dengan tim-tim Eropa dan Amerika Latin terutama adalah Korea Selatan dan Jepang.

Bagi saya, Jepang adalah contoh paling sempurna tentang bagaimana membangun sepak bola dari nol. Mereka mempelajari sistem yang kemudian dipadukan dengan nilai-nilai yang mereka miliki serta teknologi. Hasilnya, Jepang menjadi negara Asia yang tidak pernah absen dari Piala Dunia sejak 1998.

Kalau melihat progres saat ini, menurut saya Jepang adalah negara Asia yang paling maju dibandingkan negara-negara Asia lainnya, bahkan dibandingkan Korea Selatan. Selain itu, ada satu negara yang menarik untuk diamati, yaitu Uzbekistan.

Negara-negara Asia secara umum memang tertinggal dalam cara mengelola sumber daya manusia, terutama dalam sepak bola dan olahraga secara umum, jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa. Amerika Selatan berbeda. Mereka seolah-olah lahir sudah bisa bermain sepak bola. Kalau negara-negara Amerika Latin memiliki sistem sebaik Eropa, mereka tidak akan terbendung.

Timnas Indonesia lawan Jepang

Pesepak bola Timnas Jepang berpose sebelum melawan Timnas Indonesia dalam laga Grup C Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Jumat (15/11/2024). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/mrh/foc.

Kita bicara Brasil, Argentina, Uruguay, Paraguay, Peru. Kalau mereka memiliki sistem pengelolaan sumber daya manusia dan teknologi yang sama dengan Eropa, merekalah yang akan mendominasi sepak bola dunia, bukan Eropa yang sekarang berbagi dominasi dengan Amerika Selatan.

Khusus Jepang, mereka bisa semaju sekarang karena berhasil membuat sistem yang benar-benar sesuai dengan nilai-nilai sosial mereka. Nilai kerja keras, disiplin, dan berbagai nilai sosial lainnya. Nilai-nilai itulah yang membentuk pemain-pemain seperti Wataru Endo dan kawan-kawan saat ini.

Hal seperti ini belum berhasil dilakukan oleh negara Asia lain, termasuk Cina. Padahal kalau kita bicara olahraga secara umum, Cina sudah berada di level dunia. Mereka mampu bersaing dengan Amerika Serikat, Rusia, dan negara-negara Eropa Barat di Olimpiade. Hampir semua cabang olahraga mereka kuasai, kecuali sepak bola.

Salah satu penyebabnya adalah pengaruh judi yang masih sangat kuat dalam sepak bola di Cina. Mereka bisa maju di renang, atletik, dan hampir semua cabang Olimpiade, tetapi tidak di sepak bola. Faktor judi menjadi salah satu persoalan yang juga mereka akui sendiri.

Saya pernah berbincang dengan beberapa orang di Cina. Salah satu alasan mengapa Cina tidak bisa berkembang dalam sepak bola seperti cabang olahraga lainnya adalah karena persoalan tersebut.

Kalau kembali ke Asia, saya melihat Asia memang sulit bersaing dengan Eropa kecuali Jepang dan Korea Selatan. Secara umum Asia tidak memiliki sistem sosial yang sudah terbentuk selama ratusan tahun seperti yang dimiliki Eropa.

Sistem itu membuat masyarakat memiliki tujuan yang jelas dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, olahraga, hingga kehidupan sosial secara umum. Semua sistem tersebut telah dibangun selama ratusan tahun oleh masyarakat Eropa. Ketika sepak bola masuk ke tengah masyarakat mereka, sepak bola kemudian beradaptasi dengan sistem yang sudah ada.

Negara-negara besar seperti Prancis, Inggris, dan negara-negara Skandinavia memiliki sistem sosial yang sangat tua. Sistem itulah yang membuat mereka mampu menguasai dunia pada masa lalu.

Mereka menjajah banyak wilayah di dunia karena sistem kebangsaan mereka sangat solid. Sebagai bangsa dan negara, mereka memiliki fondasi yang kuat. Hal seperti ini tidak dimiliki oleh sebagian besar negara Asia.

Sejak tahun 1980-an, Jepang menjadi negara Asia pertama yang menyadari bagaimana membangun sepak bola secara serius. Mereka bahkan pernah belajar ke Indonesia mengenai pengelolaan kompetisi. Setelah itu, mereka membangun sistem yang akhirnya melahirkan pemain-pemain seperti Minamino, Wataru Endo, Kubo, dan lain-lain.

Para pemain tersebut dibentuk melalui sistem yang tertata rapi, mulai dari sepak bola amatir, sepak bola sekolah, hingga sepak bola profesional. Hasilnya baru mereka petik sekitar dua puluh tahun kemudian, dari tahun 1980-an hingga berhasil tampil di Piala Dunia 1998.

Mereka sangat serius menjalankan proses itu. Inilah yang tidak dimiliki banyak negara lain, terutama Indonesia. Kalau kita bicara sumber daya dan fasilitas, sebenarnya Indonesia dan Jepang pada era 1980-an atau 1990-an tidak jauh berbeda.

Namun sekarang Jepang jauh lebih maju. Padahal ketika kita sama-sama mulai mengenal sepak bola pada era 1960-an, Jepang bahkan belum bisa bermain sepak bola dengan baik. Itulah yang menurut saya menjadi pelajaran penting dari perkembangan negara-negara Asia.

Sekarang lihat Uzbekistan. Mengapa Uzbekistan menjadi sorotan? Karena mereka dipimpin oleh seorang presiden yang turun langsung membenahi sepak bola. Presiden mereka bahkan bersedia menjadi ketua IOC Uzbekistan agar sepak bola mendapat perhatian khusus. Namun yang menarik, dia tidak menjadikan sepak bola sebagai alat kampanye pribadi.

Karena itu, menurut saya Uzbekistan adalah salah satu negara yang harus diwaspadai oleh negara-negara Eropa, Afrika, maupun Amerika Latin. Mereka memiliki banyak hal yang dibutuhkan untuk menjadi penantang serius.

Secara umum, menurut saya negara-negara Asia masih tertinggal karena tidak memiliki sistem kemasyarakatan yang sama seperti Eropa. Mulai dari sistem hukum hingga nilai-nilai sosial. Eropa sebagai bangsa dan negara sudah memiliki fondasi yang dibangun selama ratusan tahun.

Sementara di Asia, negara yang benar-benar kuat dalam tradisi dan sistem hanya Jepang dan Korea Selatan. Negara-negara Asia lainnya, menurut saya, belum memiliki sistem yang cukup kuat untuk membangun bangsa yang maju, termasuk dalam sepak bola.

Timnas Senior Uzbekistan

Timnas Senior Uzbekistan. insatgram/uzbekistanfa

Kalau kita bicara kultur sepak bola di Asia, bagaimana menurut Anda? Apakah memang masih tertinggal dibanding Amerika Latin dan Eropa, atau justru Asia memiliki kegilaan yang sama terhadap sepak bola?

Kalau soal kegilaan terhadap sepak bola, menurut saya Asia, Eropa, Amerika Latin, dan Afrika sebenarnya hampir sama. Kalau kita bicara soal grassroot. Banyak orang salah memahami istilah grassroot. Grassroot sering diartikan sebagai pembinaan usia muda atau youth system. Padahal bukan itu.

Grassroot adalah sistem yang memungkinkan semua orang bisa bermain sepak bola di mana saja dan kapan saja. Mau bermain di jalanan, lapangan kecil, atau tempat apa pun. Yang penting masyarakat memiliki akses untuk bermain sepak bola tanpa hambatan dan tanpa campur tangan negara.

Kalau melihat dari sisi grassroot, sebenarnya hampir semua negara sama. Waktu saya masih di kampung di Bandung, saya bermain sepak bola di jalanan. Mungkin Anda juga mengalami hal yang sama.

Perbedaannya adalah, meskipun budaya bermain bola di jalanan sama, negara-negara Amerika Latin memiliki sistem yang memungkinkan pemain seperti Neymar atau Messi berkembang dari bakat jalanan menjadi pemain profesional kelas dunia.

Jalur itu sudah tersedia, meskipun banyak orang tidak menyadarinya. Misalnya di setiap kampung atau wilayah administratif setingkat kecamatan, hampir selalu ada klub sepak bola. Ada wadah yang menampung pemain-pemain muda.

Kita tidak memiliki sistem seperti itu. Misalnya Emiliano Martínez. Dia juga memulai kariernya dengan bermain di jalanan. Tetapi hanya sekitar seratus meter dari rumahnya, sudah ada klub sepak bola yang bisa menampung dan mengembangkan bakatnya.

Bukan klub besar, tetapi ada wadah yang tersedia. Model seperti itulah yang kemudian diadopsi oleh negara-negara Eropa. Ketika saya berada di Swedia, hampir setiap kecamatan atau wilayah komunitas memiliki fasilitas olahraga yang dibangun secara gotong royong. Hampir selalu ada lapangan sepak bola.

Bentuknya mungkin berbeda-beda, tetapi masyarakat di Eropa mengorganisasi dirinya sendiri untuk menampung bakat-bakat jalanan agar berkembang menjadi pemain yang lebih matang secara teknis.

Kalau di Indonesia mungkin bentuknya mirip sekolah sepak bola. Bedanya, di sana yang membentuk dan mengelolanya adalah komunitas. Misalnya ada kompetisi antarwilayah, antarlingkungan, atau antarkomunitas yang berlangsung terus-menerus setiap pekan atau setiap bulan.

Aktivitas sepak bolanya tidak pernah berhenti, kecuali ketika musim salju. Fenomena itu sebenarnya mirip dengan yang terjadi di Amerika Latin. Ketika pemain-pemain muda sudah masuk ke klub-klub kecil tersebut, mereka kemudian tersalurkan ke klub-klub yang lebih besar.

Jalur perpindahannya jelas. Misalnya Real Madrid. Banyak orang mengira klub binaan Real Madrid adalah akademi mewah dengan fasilitas luar biasa. Padahal banyak di antaranya hanyalah klub-klub kecil di sekitar Madrid dengan fasilitas yang sangat sederhana.

Tetapi klub-klub itu dibina secara berkelanjutan oleh Real Madrid. Mereka diberikan pelatih, peralatan, dan dukungan pengembangan. Kalau ada pemain yang sangat berbakat, pemain itu kemudian dibawa ke Valdebebas untuk mendapatkan pembinaan lebih lanjut.

Sistem seperti itu sudah berjalan sangat lama. Di Amerika Latin juga demikian. Metodenya mungkin berbeda, tetapi prinsipnya sama. Eropa kemudian mengadopsi banyak hal dari budaya sepak bola jalanan yang berkembang di Brasil dan negara-negara Amerika Latin lainnya.

Saya melihat di Prancis, misalnya, pola yang digunakan tidak jauh berbeda dengan negara-negara Eropa lainnya. Karena itulah Eropa menjadi sangat superior. Mereka memiliki sistem yang sudah mapan, lalu sistem itu dimasuki oleh sepak bola.

Amerika Latin berbeda. Mereka sudah memiliki bakat luar biasa, tetapi tidak selalu memiliki teknologi dan sistem sebaik Eropa. Namun karena kualitas bakatnya sangat tinggi, mereka tetap mampu bersaing di level tertinggi.

Asia berbeda. Asia tidak memiliki keduanya: tidak memiliki sistem yang semapan Eropa dan tidak memiliki sumber daya manusia berbakat secara alami seperti yang dimiliki Amerika Latin.

Afrika juga memiliki karakteristik yang berbeda lagi. Afrika memiliki banyak bakat luar biasa, tetapi mereka tidak memiliki sistem, teknologi, maupun nilai-nilai pendukung yang cukup kuat untuk mengembangkan bakat tersebut secara optimal.

Keuntungan Afrika adalah banyak negara mereka pernah menjadi koloni negara-negara Eropa. Akibatnya, pemain-pemain berbakat dari Afrika bisa masuk ke sistem pembinaan Prancis, Belanda, Portugal, dan negara-negara Eropa lainnya.

Mereka berkembang di dalam sistem Eropa, bahkan banyak yang kemudian memiliki kewarganegaraan ganda. Mereka bisa memilih membela negara Afrika atau negara Eropa.

Karena secara fisik dan genetik mereka memiliki keunggulan, lalu mendapatkan pendidikan sepak bola Eropa, akhirnya lahirlah pemain-pemain berkualitas tinggi.

Asia tidak memiliki keuntungan seperti itu. Pengecualian mulai terlihat pada Jepang. Sejak tahun 1990-an Jepang mulai mengirim pemain-pemainnya ke Eropa. Awalnya ke Bundesliga dan Belanda, bahkan banyak yang bermain di divisi-divisi bawah terlebih dahulu.

Tetapi proses itu terus berlanjut. Sekarang pemain-pemain Jepang sudah mampu bermain di Spanyol, Inggris, Jerman, dan liga-liga top Eropa lainnya.

Itulah sebabnya Jepang menjadi negara Asia yang paling maju saat ini. Menjelang Piala Dunia, mereka bahkan mampu mengalahkan banyak negara besar.

Mereka pernah mengalahkan Brasil, mengalahkan Inggris, dan menunjukkan kemampuan bersaing dengan negara-negara terbaik dunia.

Karena itu Jepang cukup layak disebut sebagai salah satu tim yang patut diperhitungkan pada Piala Dunia 2026. Kalau negara-negara Asia ingin berkembang, mereka harus belajar dari Jepang.

Memang tidak mudah meniru Jepang karena mereka memiliki karakter sosial yang sangat khas. Kedisiplinan, etos kerja, dan semangat Bushido sudah menjadi bagian dari budaya mereka selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Kalau negara-negara Asia lain ingin mengejar Jepang, mereka harus mengejar semangat dan cara berpikir yang melandasi keberhasilan Jepang tersebut. Thailand belum mampu melakukannya. Cina juga belum mampu.

Korea Selatan mungkin bisa, tetapi masih membutuhkan waktu. Saat ini kekuatan utama Asia tetap Jepang, Korea Selatan, dan Uzbekistan.

Uzbekistan juga memiliki sedikit keuntungan karena secara historis mereka memiliki kedekatan dengan kultur Eropa sebagai bagian dari bekas Uni Soviet.

Jadi kalau ditanya mengapa Asia tertinggal, menurut saya jawabannya ada pada fondasi kemasyarakatannya. Asia tidak memiliki sistem sosial seperti yang dimiliki Eropa.

Di sisi lain, Asia juga tidak memiliki keunggulan bakat alami seperti Amerika Latin dan sebagian negara Afrika. Karena itulah Asia masih tertinggal dalam perkembangan sepak bola dunia.

Brasil Vs Korea Selatan

Paik Seung-ho Korea Selatan, kanan, merayakan dengan rekan setimnya setelah mencetak gol pertama timnya selama pertandingan sepak bola babak 16 besar Piala Dunia antara Brasil dan Korea Selatan, di Stadion 974 di Doha, Qatar, Senin, 5 Desember 2022. (Foto AP/Darko Bandic)

Pada Piala Dunia kali ini, FIFA tampaknya telah berupaya membuat sepak bola lebih inklusif, misalnya dengan menambah jatah peserta dari Asia. Apakah langkah itu sudah cukup untuk membuat tim Asia berprestasi di Piala Dunia? Atau tetap diperlukan peran yang lebih besar dari pemerintah masing-masing negara Asia?

Kalau kita melihat statuta FIFA, sebenarnya peran pemerintah sangat besar. Saya cukup hafal bagian pembukaan statuta FIFA. Di sana ada penegasan bahwa setiap anggota FIFA yang mengelola kompetisi di bawah sebuah negara berdaulat harus bekerja sama dengan pemerintah yang sah di negara tersebut untuk memajukan sepak bola.

Artinya, FIFA memang meminta federasi sepak bola di setiap negara untuk bekerja sama dengan pemerintah. Setiap negara yang menjadi anggota FIFA telah meratifikasi statuta tersebut. Yang berbeda hanyalah bagaimana penerjemahannya dalam praktik di masing-masing negara.

Di Indonesia sebenarnya peran pemerintah sudah cukup besar, terutama sejak Erick Thohir masuk ke kepengurusan PSSI. Sebelumnya, ada anggapan bahwa keterlibatan pemerintah dalam sepak bola merupakan sesuatu yang tabu atau tidak boleh dilakukan.

Padahal bukan begitu. Pemerintah memang diminta oleh FIFA untuk ikut berperan dalam pengembangan sepak bola. Yang dilarang adalah intervensi terhadap hal-hal tertentu, misalnya menunjuk ketua umum federasi secara langsung.

Tetapi kerja sama antara pemerintah dan federasi justru dianjurkan oleh FIFA. Masalahnya, kalau kita melihat Indonesia secara umum, pemerintah tidak terlalu serius dalam pengembangan olahraga.

Kalau kita melihat berbagai kebijakan pada masa Jokowi, termasuk rapat terbatas tentang sepak bola dan berbagai program lainnya, menurut saya orientasinya bukan semata-mata untuk sepak bola, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan politik dan kekuasaan.

Ketika negara hanya berpura-pura memajukan sepak bola, hasilnya tentu tidak maksimal. Apa yang terjadi dalam tiga atau empat tahun terakhir sejak era Shin Tae-yong hingga sekarang, menurut saya merupakan bentuk campur tangan negara yang cukup kuat dalam apa yang saya sebut sebagai mobilisasi diaspora.

Program diaspora ini pada awalnya saya lihat juga berkaitan dengan upaya membangun citra pemerintahan. Kemudian diteruskan pada pemerintahan berikutnya. Partai-partai pendukung pemerintah di DPR pun ikut memberikan dukungan besar terhadap kebijakan mendatangkan pemain diaspora ke tim nasional.

Secara aturan, tentu tidak ada yang salah. Semua itu legal. Tetapi kalau kita melihat praktik di negara lain, hampir tidak ada negara yang membangun tim nasionalnya dengan mendatangkan diaspora dalam jumlah sebanyak yang dilakukan Indonesia.

Jepang pernah melakukannya, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Dalam rentang waktu puluhan tahun, jumlah pemain diaspora yang mereka gunakan hanya sekitar lima orang.

Indonesia berbeda. Saat ini jumlah pemain diaspora sangat banyak. Saya tidak sedang membicarakan kualitas tim nasional saat ini. Saya berbicara mengenai pendekatan pembangunan sepak bola.

Apakah tim nasional Indonesia saat ini lebih kuat? Ya, lebih kuat. Tetapi menurut saya pendekatan tersebut tidak bersifat jangka panjang karena fondasinya bukan pembinaan sumber daya manusia di dalam negeri.

Padahal itulah yang dilakukan Jepang. Saya pernah mengatakan kepada Erick Thohir bahwa akan jauh lebih baik jika Indonesia membina pemain-pemain lokal sampai mereka benar-benar layak bermain di Spanyol, Belanda, Jerman, atau negara-negara sepak bola maju lainnya.

Pendekatan seperti itu jauh lebih sehat dibandingkan terus bergantung pada pemain diaspora. Kalau program diaspora hanya digunakan untuk kepentingan politik atau pencitraan, maka tujuan pembangunan sepak bola tidak akan tercapai.

Inilah yang membuat situasinya menjadi dilematis. Di mana-mana sepak bola memang tidak pernah lepas dari politik. Tetapi menurut saya, di Indonesia politik sering kali justru mengganggu proses pembangunan sepak bola itu sendiri.

Dalam konteks program diaspora, peran negara menjadi tumpang tindih karena bercampur dengan kepentingan kekuasaan. Apakah pemain diaspora membawa dampak positif? Tentu saja. Mereka meningkatkan kualitas tim nasional.

Tetapi pertanyaannya adalah: sampai kapan strategi itu bisa dilakukan? Saat ini program diaspora masih terus berjalan. Pelatih-pelatih yang datang setelah Shin Tae-yong pun tetap memanfaatkannya, meskipun tidak selalu dengan intensitas yang sama.

FIFA memperbolehkan hal tersebut. Namun kalau kita berbicara tentang diaspora Indonesia di Belanda, misalnya, jumlah pemain yang memenuhi syarat akan semakin terbatas dari waktu ke waktu.

Aturan FIFA semakin ketat dan tidak semua generasi berikutnya akan memenuhi syarat untuk memperkuat Indonesia. Artinya, suatu saat sumber pemain diaspora itu akan berkurang.

Ketika hal itu terjadi, Indonesia tetap harus kembali pada pembinaan pemain di dalam negeri. Karena itu, menurut saya peran pemerintah memang penting dan memang diatur dalam statuta FIFA. Tetapi peran tersebut harus diarahkan untuk membangun sistem yang berkelanjutan, bukan hanya menghasilkan prestasi instan.

Baca juga artikel terkait OLAHRAGA atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Decode
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Alfitra Akbar