






tirto.id -
Tirto.id - Suara gemuruh papan jembatan darurat terdengar nyaring setiap kali kendaraan melintas bergantian. Di ujung jembatan, seorang pria berdiri sigap, mengarahkan pengendara agar melintas dengan aman.
Pria itu adalah Hendra, warga Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang. Hari itu, ia mendapat giliran menjaga arus lalu lintas di jembatan darurat yang menjadi satu-satunya penghubung antara Kecamatan Sekerak dan Kecamatan Bandar Pusaka.
Jembatan darurat Lubuk Sidup kini memegang peran vital. Ratusan pengendara melintasinya setiap hari, mulai dari anak sekolah hingga warga yang hendak bekerja. Sebelumnya, di lokasi tersebut berdiri jembatan beton. Namun, bangunan itu putus akibat banjir yang melanda pada akhir November 2025 lalu.
Kini, jembatan pengganti hanya terbuat dari papan dan cukup sempit, bahkan hanya bisa dilalui satu sepeda motor dalam satu waktu. Peran Hendra dan warga lain menjadi krusial untuk mengatur arus agar tidak terjadi benturan dari dua arah.
Sebelum berdiri di ujung jembatan ini, Hendra adalah seorang petani. Namun, lahan miliknya rusak diterjang banjir, memaksanya kehilangan sumber penghidupan.
Kini, pekerjaan menjaga jembatan menjadi pilihan yang tersisa. Ia bersama puluhan warga lain di Desa Lubuk Sidup yang senasib, mencoba bertahan dari kondisi pascabencana.
"Ya terpaksa, sudah tidak ada pekerjaan lain," kata Hendra sambil memantau pengendara yang melintas, Jumat (1/5/2026).
Untuk menyambung hidup, warga setempat bersepakat mengelola aktivitas tersebut secara bergiliran. Setiap hari, dua orang bertugas menjaga jembatan, memberi kesempatan bagi lebih banyak warga untuk memperoleh penghasilan.
Pengendara yang melintas biasanya memberikan upah seikhlasnya. Sebuah wadah disediakan di dekat jembatan untuk menampung uang tersebut, yang kemudian dibagi kepada petugas yang berjaga hari itu.
"Untuk pembayaran kami seikhlas hati. Tidak ada pemaksaan apalagi untuk anak sekolah memang tidak sama sekali," tambah Hendra.
"Biasanya warga yang melintas kasih seribu, dua ribu, kadang lima ribu. Engga tentu,"
Dalam satu kali giliran, Hendra bisa berjaga hingga 12 jam, sejak matahari terbit hingga terbenam. Selama itu pula, ia menghadapi berbagai situasi di lapangan.
Kondisi jembatan yang sempit dan panjang kerap membuat pengendara kesulitan melintas. Tak jarang, mereka panik di tengah jembatan dan berhenti mendadak.
Dalam situasi seperti itu, Hendra bersama rekannya harus sigap membantu mengevakuasi.
"Kami tanya sebelum naik jembatan ini kalau memang ragu kami suruh naik Getek (perahu)," kata Hendra.
Insiden pengendara terjatuh pun bukan hal yang jarang terjadi. Setiap hari, Hendra dan warga lain bukan hanya mengatur lalu lintas, tetapi juga memastikan keselamatan mereka yang melintas di atas jembatan darurat itu.
Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, peran yang mereka jalani menjadi lebih dari sekadar pekerjaan sementara, melainkan cara bertahan hidup di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.
FOTO & TEKS: FIRHAN FARABI
Masuk tirto.id




























