tirto.id - Ialah Mimin. Perempuan berusia 40 tahun ini cekatan mengangkut sampah dari sejumlah rumah. Warga sudah tahu betul apa yang harus dilakukan ketika suara derit roda yang membawa ember-ember kosong, didorong Mimin, mendekati kediaman mereka.
"Tukar ember. Itu kami ngambilin dari warga. Kami udah punya titik ember, disiapin ember, jadi warga nanti buang ke situ gitu. Warga buang sendiri ke situ, jadi kami tinggal ngambil," jelasnya saat ditemui kontributor Tirto, Selasa (7/7/2026).
Perempuan yang sudah bergabung dengan Jasmine Integrated Farming sejak awal berdiri tersebut kini rutin mengangkut sampah setiap hari. Mimin juga menjadi bagian dari program Gaslah (Petugas dan Pengolah Sampah) Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung.
"Sesudah mengangkut sampah, ya dibawa ke sini. Ke Jasmin, terus diolah setiap hari Sabtu. Dikompos. Bikin kompos dari sampah," cerita Mimin.
"Kalau dari warga sendiri, ya, ada yang mau, ada yang nggak gitu kan. 'Kita udah bayar emang sampah, ngapain harus milah, ngapain harus ngumpulin,' gitu," ujarnya menambahkan.

Jasmine Integrated Farming merupakan kawasan pertanian terpadu di RW 19 Antapani Tengah, Bandung, yang dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) RW 19 Antapani Tengah. Sejak 2019, inisiatif warga ini mengolah sampah secara mandiri melalui budidaya maggot dan bank sampah menjadi pupuk serta pakan untuk mendukung ketahanan pangan perkotaan melalui budidaya tanaman, perikanan, dan peternakan.
Di samping mengubah sampah menjadi kompos, kawasan Jasmine juga mengolah limbah rumah tangga melalui budidaya maggot. Salah satu pegiatnya adalah Enen. Perempuan berusia 57 tahun ini sejak pagi sudah berada di sebuah bangunan yang dinamakan Rumah Bibit.
Kegiatan pertamanya ialah memberi makan maggot dengan sampah basah. "Mencoba peduli [masalah] sampah. Apalagi setelah dengar-dengar ada kejadian di [TPA] Sarimukti meledak. Ya Allah itu dosa kita, orang yang membuang sampah ke sana," ucapnya.
Sekalipun masih dalam skala kecil, ia berharap sampah rumah tangga bisa selesai dari hulu. "Jadi, ya, pengen aja gitu. Ikut mengelola sampah agar jangan seperti itu lagi," jelas perempuan berusia 57 tahun tersebut.
Ia lantas berpesan kepada siapa pun yang hendak mulai peduli terhadap lingkungan. Baginya, setiap hal yang mereka lakukan di Jasmine merupakan upaya merawat masa depan. Semua ini tak lebih dari usaha mewariskan kebaikan.
“Sayangi bumi dengan sepenuh hati. Jangan ada keterpaksaan. Jangan ada ingin imbalan. Itu Allah yang memilih. Allah yang ngasih imbalan buat kita. Yang utamanya, kita kelola sampah untuk menyayangi bumi,” pesan Enen.
“Nanti kalau bumi sudah bagus, sudah nggak ada sampah, anak cucu kita yang menikmati. Kalau sampahnya tidak terkelola, nanti gimana anak cucu kita? Kan dunia masih panjang,” tegasnya.

Dari Tekad Jadi Lahan Memikat
Kawasan pengolahan sampah dan pertanian modern Jasmine Integrated Farming lahir dari dua keresahan: fasilitas umum yang terbengkalai dan limbah rumah tangga. Kelompok Swadaya Masyarakat di RW 19, Kecamatan Antapani Tengah, Kota Bandung, pun sepakat membenahi lahan "tak bertuan" tersebut.
"Dulu tahun 2019 saya melihat bahwa ini [lahan], jangankan malam, siang aja orang takut lewat sini tuh. Karena kondisi lahannya dengan pohon-pohon yang gede-gede, tinggi-tinggi," ungkap Ketua KSM JIF, Doddi Iryana, kepada kontributor tirto saat ditemui di lokasi baru-baru ini.
"Kami sepakat, warga masyarakat dan RT, 'Ayo kita gotong royong untuk membersihkan lahan ini, untuk dijadikan nanti lahan produktif,'" sambungnya.
Tujuh tahun berlalu dan tekad yang lahir dari kata "sepakat" itu mewujud menjadi lahan sesuai harapan: produktif, indah, dan terawat. Mereka tak hanya membersihkan kawasan yang semula dianggap angker, tetapi juga menumbuhkannya.
Saat memasuki kawasan Jasmine, saya disambut beragam jenis tanaman. Mulai dari sayur-mayur seperti terong, pakcoy, dan cabai, hingga buah-buahan seperti stroberi, markisa, dan pepaya. Selain itu, terdapat pula peternakan ayam dan lebah madu.
"Ketahanan pangan. Mereka bebas ambil ini. Tapi lama-kelamaan, mereka sepertinya nggak enak kalau cuma ngambil, jadi minimal bantu berkegiatan dulu di sini," ucap Doddi.
Selain ketahanan pangan, Jasmine Integrated Farming memadukan pertanian perkotaan (urban farming) dengan pengolahan sampah. Perpaduan ini mengantarkan kegiatan warga Antapani Tengah meraih penghargaan utama Program Kampung Iklim (ProKlim) dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Mereka mengolah sampah organik melalui metode maggotisasi dan komposting. Sementara untuk sampah anorganik, hasil pemilahan warga diangkut dan langsung dikirim ke bank sampah.
Terdapat beberapa metode pengolahan untuk sampah organik maupun anorganik. Doddi memperkirakan limbah rumah tangga yang dapat diolah setiap minggu mencapai ribuan ton.
Namun, untuk sampai ke titik ini, Doddi bersama pengurus Jasmine Integrated Farming sempat menghadapi serangkaian penolakan yang panjang dan melelahkan. Mereka bahkan pernah mendapat kecaman dari warga sekitar.
"Kami selama 10 hari edukasi dengan warga sambil memberikan ember ke satu rumah untuk memilah sampah. Ternyata hampir 90% itu awalnya menolak," ucapnya.
"Malah saya dicaci, saya dimaki-maki, malah dibilang RW sampah. Lalu ada yang mengancam sampai saya disantet. Karena apa? Masyarakat merasa sudah bayar ke pemerintah, kenapa lagi?" lanjut Doddi.
Padahal saat itu, menurutnya, Bandung tengah dilanda krisis pengolahan sampah. Limbah rumah tangga banyak yang tak tertangani dari hulu. Kondisi tersebut kemudian diperparah beberapa tahun berikutnya ketika TPA Sarimukti meledak.

Secara perlahan mereka terus bergerak. Mereka tidak terlalu memedulikan berbagai penolakan. Muncul pula gagasan mengolah sampah melalui komposting agar hasilnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
"Mengumpulkan [sampah] organik sebulan, dua bulan waktu itu. Setahun, ternyata sampai 2021 itu terkumpul 50% lah warga mengikuti, mau," ujarnya.
"Singkat cerita, ya sampai sekarang. Itu sudah hampir 8 tahun, ya? Dari 2019 ini kita berjalan, masyarakat mengerti, sadar, perlunya bagaimana memilah sampah," terang Doddi.
Perjalanan itu sangat terasa bagi para pengurus Jasmine. Pada masa awal berdiri, mereka memulainya tanpa bantuan pemerintah sama sekali. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak terlalu bergantung kepada pemerintah. Mulailah dari diri sendiri.
“Melihat masalah sampah di Bandung, kerja sama aja lah. Ya walaupun kita sudah merasa masyarakat sudah bayar, tapi harus tetap peduli. Enggak bisa cuma mengandalkan pemerintah,” ucap Doddi.
“Dulu sampah di sini memang sangat krusial. RW yang paling banyak warganya, paling luas. Timbulan sampah rata-rata seminggu lebih dari 1 ton. Pemerintah pada awalnya belum ada bantuannya dari Pemkot maupun DLH. Kalau sekarang alhamdulillah bantuannya sudah ada,” paparnya.
Saat berkeliling di lahan seluas kurang lebih 1.000 meter persegi itu, salah satu warga, Zaenimar, tampak telaten menyirami satu per satu tanaman di Jasmine. Perempuan paruh baya ini mengaku kegiatan tersebut sudah menjadi rutinitas sehari-hari.
"Ah, ini mah bantu-bantu. Ini ada pakcoy, seledri, bawang daun, bawang merah, dan padi merah. Jadi, ah lumayanlah, enggak usah segala dibeli," ucap perempuan berusia 69 tahun itu.

Bukan tanpa alasan, ia berharap dapat menularkan kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari. Seperti yang diungkapkan Enen, ia juga berharap kawasan asri ini kelak dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
"Iya ini, kan, nanti yang merasakan anak dan cucu," harapnya.
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id






























