Jangan Egois, APD Medis Bukan OOTD Buat Jalan-jalan

Ilustrasi Alat Pelindung Diri. FOTO/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 3 April 2020
Dibaca Normal 3 menit
Banyak profesi yang rentan tertular COVID-19 membutuhkan APD untuk perlindungan diri. Mirisnya selain menimbun, masyarakat justru menggunakannya untuk aktivitas harian.
Saat tenaga kesehatan dan profesi lain sulit mendapat Alat Perlindungan Diri (APD), kita bisa lihat pemandangan lazim masyarakat menggunakan APD di mal, pasar, bahkan rumah.

Belakangan linimasa media sosial menangkap hawa ketakutan berlebih dari masyarakat akan wabah COVID-19. Sebuah gambar yang beredar merekam aktivitas dua orang memakai APD lengkap tengah berdiri di depan toko kelontong. Sementara satu gambar lainnya memperlihatkan seorang perempuan menenteng dompet besar, berdiri di depan etalase ikan dan daging.

Mereka sama-sama memakai baju hazmat, masker bedah, dan tak lupa sarung tangan lateks (handscoon) sebagai perlengkapan berbelanja hari itu. Faktanya fenomena memproteksi diri dengan APD tak Cuma dilakukan masyarakat awam, tapi juga anggota DPR RI dan selebritas.

Setelah plesiran dari Eropa, Krisdayanti dengan santainya memperlihatkan aktivitas mengganti seprai menggunakan handscoon. Kemudian selebgram Dinda Shafay juga memakai alat pelindung yang sama di sejumlah kegiatan harian, termasuk belanja. Lucunya seolah berpikir bahwa handscoon adalah produk anti kuman, mereka santai memegang wajah dengan handscoon bekas beraktivitas.

Di sisi lain, para tenaga kesehatan harus berjibaku dengan kelangkaan APD di tempat berkumpulnya pasien COVID-19. Lihat saja potret viral tentang dua orang tenaga medis menggunakan pelindung jas hujan tipis berwarna merah. Bagian wajah dan betis ke bawah bahkan tidak tertutup pelindung.

“Sebagai rumah sakit rujukan COVID-19, kami sedang mengalami keterbatasan APD,” begitu bunyi pengumuman yang disebar bersama potret kedua tenaga kesehatan tersebut.


Masih banyak gambar dan rekaman dengan kondisi dan nasib serupa para tenaga medis. Padahal setiap hari mereka melakukan kontak dengan pasien dan sangat berisiko tertular bila tidak menggunakan APD standar. Personal Protective Equipment (PPE) alias APD merupakan alat yang dirancang untuk melindungi pemakai dari cedera atau penyebaran infeksi atau penyakit.

Menurut Food and Drug Administration (FDA), APD medis terdiri dari baju yang melindungi tubuh (hazmat), pelindung kepala, sarung tangan, pelindung wajah, kacamata (goggles), dan masker/respirator. APD berfungsi untuk menghalangi transmisi kontaminan dari darah, cairan tubuh, atau sekresi pernapasan ke kulit, mulut, hidung, atau mata (selaput lendir).

Profesi-profesi yang bersentuhan dengan orang banyak, pasien, atau media transmisi virus, idealnya menggunakan APD untuk melindungi diri. Sementara masyarakat biasa cukup melakukan tindakan pencegahan dengan menjaga jarak, tidak keluar rumah, menjaga pola hidup sehat, dan rajin mencuci tangan.

Mereka yang Bekerja di Gerbang Negara

Riki Rachman Permana, 29 tahun, dinyatakan positif SARS-CoV-2 usai dua kali memeriksakan diri ke dokter dan didiagnosis radang tenggorokan. Pegawai keimigrasian Bandara Soekarno Hatta ini sehari-hari bekerja di bagian paspor diplomatik. Transmisi virus COVID-19 yang ia dapat diduga berasal dari aktivitas pemeriksaan paspor.

“Intensitas bersinggungan dengan orang asing. Jadi besar kemungkinan memang di bandara,” katanya kepada Tirto beberapa waktu lalu.

Ia mulai merasa sakit pada 2-8 Maret dengan gejala umum seperti meriang, demam, dan radang. Hasil cek darah tidak menunjukkan ada gejala yang aneh. Tapi setelah dokter melakukan anamnesis lebih dalam, Riki diminta melakukan rontgen dan ternyata paru-paru kirinya sudah terinfeksi. Tanggal 14 Maret, ia resmi ditetapkan positif COVID-19.

“Padahal kami sudah berusaha memakai masker dan sarung tangan lateks,” ujarnya.


Pekerjaan Riki termasuk salah satu profesi yang juga berisiko tinggi terpapar virus. Bayangkan, sebagai penjaga gerbang negara, setiap hari ia harus berhadapan dengan ratusan orang beserta paspornya di pemeriksaan imigrasi--yang mungkin sudah terkontaminasi droplet.

Saat pertama kali kasus COVID-19 diumumkan, keimigrasian Indonesia sudah berusaha melengkapi anggotanya dengan APD masker dan handscoon. Namun Riki mengamini dalam kondisi sekarang kedua barang tersebut sangat sulit dicari di pasaran.

Kantornya cukup kewalahan mencari stok masker dan sarung tangan karena langka. Jika pun ada, harganya melambung tinggi. Bahkan penuturan dari petugas imigrasi lain mereka menghemat penggunaan handscoon dan masker sebisa mungkin. Beberapa malah terpaksa menggunakannya lebih dari sekali pakai.

Padahal menurut FDA, sebelum dibuang, sebagian besar APD dirancang hanya sekali pakai dan oleh satu orang. Apalagi APD sudah terpapar material berbahaya selama penggunaan, misalnya cairan tubuh dari orang yang terinfeksi. Mencuci atau menggunakan APD lebih dari sekali akan mengubah kapabilitas pelindung dan bisa tidak lagi efektif.

Penggunaan APD oleh masyarakat umum hanya akan membuat persediaan pelindung semakin sedikit bagi tenaga medis dan profesi berisiko lain. Apalagi ketika APD digunakan tidak sesuai standar dan dibuang dengan benar, bukannya terlindungi, malah membikin virus menempel dan jadi media transmisi.

“Banyak profesi betul-betul berisiko, termasuk kami yang ada di perlintasan karena bersinggungan dengan orang keluar dan masuk Indonesia.”

Gerakan Sosial Bikin APD

Pukul tujuh malam sebuah pesan masuk ke telepon pintarnya. Seorang rekan mengabarkan kondisi terakhir sebuah rumah sakit kawasan Cibubur sambil mengirim potret miris para tenaga kesehatan (nakes). Dengan jas hujan tipis seharga sepuluh ribu rupiah mereka berjuang melawan wabah COVID-19. Sebagian lain hanya memakai plastik putih yang menutupi setengah badan.

“Jas hujan ini sekarang juga mulai langka, harganya naik jadi Rp50 ribu,” begitu pesan di seberang kembali menyambung obrolan.


Hatinya sakit melihat potret menyedihkan itu. Otaknya memutar cara untuk membantu mengurai kelangkaan APD, terutama hazmat. Kemudian ia memutuskan membuat hazmat tanpa menerima bayaran.

“Setelah buka Twitter ada yang cari jasa jahit baju hazmat, dan kebetulan saya punya tiga tukang jahit,” kata Reta Riana kepada Tirto.

Reta kemudian membeli bahan parasut untuk membuat contoh hazmat. Hasilnya kembali ia unggah di semua media sosial. Setelah itu banyak pihak menghubunginya, memberikan donasi Rupiah untuk dijahitkan baju hazmat. Reta menargetkan dalam seminggu ke depan ia akan menyelesaikan seribu hazmat untuk disebar di berbagai rumah sakit kisaran Jakarta, Bandung, dan Semarang.

“Saya tidak ambil ongkos jahit, uang donasi semuanya dibelikan bahan.”



Reta tak sendirian berjuang, gerakan sosial untuk membantu tenaga kesehatan memiliki alat pelindung standar sudah meluas. Banyak perusahaan konveksi ikut membantu membuat hazmat, termasuk desainer Anne Avantie. Linimasa Twitter juga ramai kampanye #100jutamaskerchallenge bagi para penjahit untuk membikin masker kain.

Masker dari bahan katun dua lapis yang disisipi tisu di tengah dianggap bisa menyaring kuman hingga 70 persen. Setidaknya cukup digunakan orang sehat untuk melakukan aktivitas harian. Kampanye #100jutamaskerchallenge pun dilakukan untuk menormalisasi harga pasar sehingga masker standar bisa kembali tersedia untuk kepentingan medis.

Hingga tulisan ini dibuat, aksi-aksi tersebut terus meluas, bahkan sampai kepada pembuatan alat pelindung muka pengganti goggles. Apapun wujudnya, Aksi sosial pemenuhan APD saat ini sama-sama didasari kesadaran melawan penimbun dan menyiasati kegagapan pemerintah menyediakan alat perang bagi serdadu medisnya.

=====

Informasi seputar COVID-19 bisa Anda baca pada tautan berikut:

1. Ciri-Ciri Corona & Gejala COVID-19, Apa Beda dari Flu & Pneumonia?
2. Gejala Coronavirus Selain Demam dan Batuk: Tak Mampu Mencium Bau
3. Pentingnya Jaga Jarak di Tengah Pandemi COVID-19
4. 8 Cara Mencegah Penularan Virus Corona pada Lansia
5. Cara Deteksi Dini Risiko Covid-19 Secara Online
6. Update Corona Indonesia: Daftar Laboratorium Pemeriksaan COVID-19

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight