Yang Perlu Terus Diingat Warga: Abai Jarak Sama Saja Cari Mati

Penumpang duduk di bangku yang telah diberi stiker panduan jarak antarpenumpang di rangkaian gerbong kereta MRT, Jakarta, Jumat (20/3/2020). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.
Reporter: Felix Nathaniel - 27 Maret 2020
Dibaca Normal 4 menit
Pemerintah bermasalah, tapi masyarakat yang tak punya kesadaran diri semakin meningkatkan kerawanan penyebaran virus Corona.
Hingga awal Maret, pemerintah Indonesia menganggap remeh virus Corona atau Covid-19. Padahal virus yang dinamai sesuai tahun kemunculannya itu sudah membuat banyak negara, termasuk di Asia Timur dan Tenggara berada dalam status darurat. Indonesia justru sedikit lebih 'beruntung' karena termasuk yang paling belakangan terdampak virus Corona.

Tapi keberuntungan itu tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Indonesia. Ketika muncul informasi bahwa virus Corona bisa menyebar lewat sentuhan fisik, pemerintah tetap abai dan justru membuka lebar-lebar pintu pariwisata. Pemerintah tidak melarang dengan ketat penerbangan dari luar negeri dan sebaliknya.

Banyak warga juga menganggap enteng kehadiran Corona dan pergi berjalan-jalan. Kalau sehat, kata Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, lakukan kegiatan seperti biasa dan menikmatinya, termasuk keluar rumah.

Terawan juga mengimbau masyarakat tidak perlu takut pada virus Corona. Baginya, penyakit flu lebih menyeramkan dari ancaman virus Corona.

“Padahal flu batuk pilek yang biasa terjadi pada kita itu angka kematiannya lebih tinggi daripada yang ini, Corona. Tapi kenapa ini bisa hebohnya luar biasa?” ucap Terawan, Senin (2/3/2020).

Satu yang dilupakan Terawan: virus Corona bisa menyebar dengan mudah apabila masyarakat justru berkumpul dan melakukan kontak fisik. Bedanya dengan flu, Corona belum ada vaksinnya. Dengan angka kematian yang semakin banyak, siapa yang tahu di kemudian hari Corona bisa menjadi penyakit yang lebih mematikan daripada flu atau yang lainnya.

Dengan pernyataan-pernyataan pemerintah, utamanya Terawan, masyarakat juga masih tak menganggap Corona sebagai sesuatu yang serius.

Jalanan ramai dan aktivitas sekolah serta perkantoran berjalan seperti biasa. Hasilnya sampai sekarang, sudah ada ratusan orang terpapar virus Corona, meski belum genap satu bulan sejak pasien pertama ditemukan.

Aturan Tak Ketat

Sejumlah negara sudah menerapkan lockdown dalam beberapa tingkatan, misalnya menutup akses keluar-masuk negara, atau akses keluar-masuk kota yang warganya banyak terjangkit Corona.

Italia sendiri menerapkan keduanya. Warga diimbau untuk di rumah dan tidak pergi ke luar jika tidak mendesak. Mereka yang melanggar bisa dikenakan hukuman tiga bulan penjara atau denda sebanyak 230 dolar atau sekitar Rp3.000.000. Aturan ini menunjukan bagaimana Italia akhirnya bertindak serius merespon terhadap penyebaran Corona.

Perancis juga menerapkan aturan serupa dengan ancaman denda secara bertahap. Awalnya denda hanya 35 euro atau sekitar Rp646.000. Demi mendisiplinkan warganya, Perancis menaikkan denda sampai 135 euro atau Rp2.160.000. Jika masih banyak pelanggar, maka denda diproyeksikan akan naik hingga Rp6.000.000.

Warga hanya boleh keluar untuk membeli makanan. Mereka dilarang melakukan pekerjaan yang benar-benar genting dan tidak bisa dilakukan dari rumah, atau untuk urusan keluarga yang mendesak. Boleh saja keluar untuk sekadar berolahraga atau menghibur diri, tapi syaratnya harus sendirian. Hukuman penjara dan denda ini juga menjadi ancaman di Malaysia.

Sedangkan di Indonesia, Presiden Joko Widodo menegaskan tidak akan menerapkan aturan lockdown. Dia juga melarang kepala daerah di Indonesia mengambil keputusan tersebut. Ketika Gubernur DKI Anies Baswedan menerapkan kebijakan membatasi angkutan umum demi mengusahakan warganya bekerja dari rumah, Jokowi segera menganulir upaya tersebut. Alasannya tepat: kerumunan dan antrean yang terjadi karena banyak warga ingin menumpang transportasi umum justru jadi daerah rawan penyebaran virus Corona.

Di sisi lain, PT MRT Jakarta dan TransJakarta sebagai penyedia layanan transportasi publik mengambil langkah membatasi jam operasional. Kereta terakhir MRT hanya sampai jam 20.00, sedangkan TransJakarta hanya boleh mengangkut 30 penumpang dalam satu bus besar. Antrean masih terjadi meski tak sepanjang sebelumnya.

Tanpa lockdown, warga masih bisa ke luar rumah dengan bebas. Pemda DKI misalnya, hanya bisa mengeluarkan imbauan yang intinya menyatakan perusahaan bisa menghentikan aktivitas sementara waktu atau memberikan keringanan bagi karyawan untuk bekerja dari rumah. Namun, tidak ada hukuman bagi perusahaan yang menolak melakukan hal itu.

Bekasi yang juga terdampak Corona pun kesulitan mengatur warganya agar tidak bepergian. Setidaknya, pada tahun 2017 setiap hari ada 500 ribu kendaraan pribadi dari Bekasi yang pergi ke Jakarta, daerah yang sekarang memiliki terdampak Corona paling banyak. Sekarang, ada 60 persen warga Bekasi yang mencari nafkah di Jakarta.

Pemerintah Kota Bekasi tidak bisa begitu saja menerapkan lockdown. Namun, upaya Membatasi warga pergi ke daerah terdampak, Jakarta, juga terlihat setengah hati. Pemerintah Kota Bekasi justru menunggu ada penambahan korban secara masif di Jakarta ketimbang melakukan pencegahan dini.

“Kita tunggu DKI dulu, jika DKI alami peningkatan yang luar biasa, maka saya mengimbau meminta kepada pekerja saja [untuk tidak ke Jakarta],” kata Wali Kota Bekas, Rachmat Effendy seperti dilansir Kompas (19/3/2020).

Sampai sekarang pemerintah tidak menyediakan kompensasi yang layak bagi mereka yang mungkin terdampak kerugian apabila menerapkan kerja dari rumah. Pedagang atau pekerja lepas dan kontrak bisa jadi tak mendapat bayaran selama kerja dari rumah. Mau tak mau, mereka harus masuk kerja.




Perlu Kesadaran Diri

Setelah sekolah diliburkan dan sejumlah perusahaan mengizinkan karyawan kerja dari rumah, beberapa orang justru memanfaatkan untuk liburan dan pergi ke tempat umum sehingga menimbulkan keramaian.

Bupati Bogor Iwan Setiawan tidak mau menutup kawasan Puncak, Cisarua, Bogor. Alasannya, banyak pedagang dan pengurus tempat wisata yang menggantungkan hidupnya pada tempat wisata di sana. Keengganan pemerintah kota tidak bisa diganggu gugat, apalagi Jokowi tidak menerapkan lockdown. Namun, kesadaran diri masyarakat justru diperlukan di tengah imbauan pemerintah terkait kerja dari rumah.

Banyak warga juga masih nekat pergi ke tempat terbuka dengan alasan mengikuti kegiatan keagamaan. Salah satu contohnya adalah acara tabligh akbar dengan tema Ijitima Dunia 2020 di Gowa, Sulawesi Selatan. Kendati acara itu dibatalkan pemerintah, tetapi kewaspadaan masyarakat yang minim terhadap virus Corona terlihat jelas.

“Kita lebih takut Tuhan,” tutur salah satu panitia pelaksana Mustari Bahranuddin kepada Reuters, Rabu (18/3/2020).

Sedangkan kegiataan keagamaan penahbisan Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat Pr juga tetap berjalan di Nusa Tenggara Timur, Kupang pada hari Kamis (19/3/2020). Di tengah pandemi virus Corona, umat Katolik berkumpul dan melakukan upacara dengan jarak antarsatu orang tak sampai satu meter. Pihak gereja mengklaim tidak perlu khawatir berlebihan karena belum ada umat gereja yang tertular. Pihak gereja juga menyatakan sudah melakukan pencegahan penularan virus sesuai langkah-langkah yang dianjurkan pemerintah.

Dalam beberapa celotehan di media sosial maupun tatap muka, sejumlah orang menolak tidak beraktivitas di luar karena Corona dan memakai narasi bahwa “hidup mati di tangan Tuhan”. Bagi mereka, di mana pun dan kapan pun mereka bisa saja meninggal.

Dewan Keamanan Masjid Bandung menjadi salah satu korban aksi protes warga dengan pola pikir semacam ini. Masjid telah mengeluarkan maklumat meniadakan salat Jumat agar warga tidak rawan terkena Corona di masjid. Tapi, warga malah merusak banner maklumat karena dianggap membatasi hubungan manusia dengan Tuhan.

Di beberapa daerah, seperti tempat hiburan malam di Kemang, banyak warga yang juga memilih tetap berpesta. Suasana jalanan di Jakarta juga masih agak ramai sampai beberapa hari lalu. Salah satu unggahan dari Permadi Arya menunjukkan bagaimana banyaknya pedagang yang tetap berjualan secara terbuka dan berdekatan tanpa masker dan sarung tangan. Warga dalam video mengaku tidak takut akan virus Corona dan tak menghiraukan imbauan Anies agar bekerja dari rumah.

Uniknya, orang-orang yang tahu bahaya virus Corona, seperti Permadi misalnya, juga tidak mengingatkan agar warga tersebut mematuhi imbauan. Mereka justru mempolitisasi pernyataan warga yang tidak takut pada virus Corona dan akhirnya meremehkan potensi penularan. Bukan tidak mungkin orang-orang yang tidak tahu tentang pencegahan Corona akan makin banyak dan tetap beraktivitas di luar. Yang dilupakan Permadi: kepanikan berlebihan tidak sama dengan tidak mewaspadai penyebaran virus Corona.

Mantan Jenderal TNI (purn) Gatot Nurmantyo bahkan mengimbau masyarakat untuk tetap salat di masjid kendati situasi itu menciptakan kerawanan. Dia bahkan menyebarkan hoaks bahwa di masyarakat di China--negeri asal-usul pandemi ini--justru menggiatkan salat.

Padahal, meskipun terlihat sehat, orang bisa saja menjadi pengantar virus Corona. Inilah yang berbahaya dan perlu diingat masyarakat agar tidak bertemu tatap muka dahulu dengan siapapun.

Sebelum Indonesia, Korea Selatan pernah kecolongan. Pemerintah sebenarnya sudah tanggap terhadap masalah Corona karena Negeri Ginseng itu pernah menjadi korban penyebaran virus MERS pada 2015. Namun, tindakan pemerintah akhirnya sia-sia karena sejumlah warga yang membandel.

Gereja Shincheonji menerapkan aturan di mana sakit tidak boleh membatasi kegiatan ibadah. Jika masih kuat, umat tetap harus datang. Kalau tidak, maka dia harus datang di hari berikutnya. Alhasil, umat yang tengah sakit memaksakan diri ikut ibadah dan banyak umat Shincheonji yang terpapar Corona. Pemimpin gereja Lee Man-hee akhirnya meminta maaf kepada publik. Dia juga terancam terkena pasal pembunuhan karena tidak kooperatif dengan usaha pemerintah membatasi aktivitas publik.

Gereja di kawasan Gyeonggi, Korea Selatan, juga sama saja. Mereka tetap memaksakan ibadah secara tatap muka. Mereka bahkan menyemprot mulut jemaah dengan air garam agar terbebas dari virus. Upaya itu justru jadi bumerang.

Botol berisi air garam itu tidak diganti dan disemprot dengan disinfektan. Walhasil, botol yang tersentuh oleh jemaah terjangkit COVID-19 menjadi sarana penyebaran virus. Dari kebaktian itu, Korea Selatan mendapat 46 pasien baru virus Corona.

Para dokter mengorbankan diri untuk menyembuhkan pasien Corona dengan risiko tertular. Sayangnya, banyak pihak yang punya kesempatan untuk tidak tertular justru menyia-nyiakannya.

Baca juga artikel terkait WABAH VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Editor: Windu Jusuf
DarkLight