Shincheonji, Virus Corona, dan Maraknya Sekte Kepercayaan di Korsel

Orang-orang menonton layar TV yang menampilkan siaran langsung yang melaporkan tentang Lee Man-hee, seorang pemimpin Gereja Shincheonji Yesus, di Stasiun Kereta Api Seoul di Seoul, Korea Selatan, Senin, 2 Maret 2020. AP / Lee Jin-man
Oleh: Joan Aurelia - 15 Maret 2020
Dibaca Normal 4 menit
Korsel adalah salah satu negara yang mendapat sorotan lantaran jadi tempat munculnya berbagai aliran kepercayaan.
Lee Man-hee, pendiri aliran kepercayaan Shincheonji di Korea Selatan, akhirnya tampil di muka publik. Ia meminta maaf kepada seluruh warga Korsel karena tidak menaati imbauan pemerintah dalam mencegah penyebaran virus corona, hingga menyebabkan salah satu jemaatnya meninggal, sekaligus menjadi korban ke-31 di negara tersebut.

Perkumpulan Shincheonji kala itu diselenggarakan di Daegu dan dihadiri ratusan orang. Ironisnya, Lee melarang jemaatnya menggunakan masker, bahkan mewajibkan mereka tetap menghadiri perkumpulan meski sedang dalam kondisi sakit.

Jika sakitnya cukup parah, si pengikut wajib mengganti kehadirannya dengan menghadiri lebih banyak pertemuan berikutnya. Selain itu, mereka juga tetap diwajibkan untuk melakukan tugas evangelisasi ke berbagai daerah.

Menurut laporan CNN yang dipublikasikan pada 28 Februari 2020, sejak menemukan kasus nomor 31, pemerintah Korsel mengarantina setiap orang yang menghadiri perkumpulan besar Shincheonji. Juru bicara pemerintahan Korsel, Simon Kim menyatakan: “Sebagian besar korban virus Corona di Korsel adalah pengikut Shincheonji.”


Sekte Mesias Penuh Rahasia

Dalam wawancaranya dengan Matthew Bell dari PRI, Lee mengaku mendirikan sekte Shincheonji pada tahun 1984.

Pendirian sekte tersebut, bagi Lee, merupakan bagian dari tugasnya untuk mengakhiri perang dan menciptakan perdamaian dunia. Ia menolak menceritakan soal visi dan misi dari sekte Shincheonji, tapi dia amat yakin tidak ada satupun orang di dunia yang tidak tahu hal-hal tentang dirinya.

Publik Korsel memandang Shincheonji sebagai sekte yang tidak jelas. Sampai sekarang bahkan tidak ada informasi detail terkait aktivitas dan nilai-nilai yang disebarkan mereka. Adapun yang diketahui hanyalah para pengikut Shincheonji wajib mengikuti studi kitab suci satu dan ibadah massal yang masing-masing diselenggarakan seminggu dua kali.

Selain itu, para jemaat Shincheonji juga diminta untuk tetap merahasiakan lokasi pertemuan dari orang luar. “Kami merahasiakan aktivitas dan lokasi karena pengikut kami banyak yang dipersekusi,” ucap Lee Mi-son, seorang pengajar studi Kitab Suci Shincheonji.

Para pengikut Shincheonji biasanya menghindari kontak dengan keluarga, teman, atau kerabat, dan menghabiskan banyak waktu untuk berinteraksi dengan rekan sesama pengikut Shincheonji. Mereka juga percaya bahwa Lee adalah mesias kedua yang hadir di dunia dan tidak bisa mati. Sebagaimana yang dijelaskan Me-son:

“Hanya ada satu gembala yang mengikuti Yesus dan Allah dan menyebarluaskan kabar soal perkataan Yesus dan surga. Gembala itu adalah Lee,” kata Mi-son. Bell sempat menanyakan soal kematian tersebut kepada Lee, tapi ia menolak untuk menjawabnya.

Pemerintah Korsel memperkirakan, Shincheonji adalah aliran kepercayaan yang memiliki pengikut terbanyak di negara tersebut yakni sekitar 200 ribuan orang. Meskipun demikian, sampai sekarang belum ada publikasi resmi dari pengurus Shincheonji terkait jumlah pengikut aliran tersebut.

Menurut laporan DW yang terbit pada 2 Maret 2020, dari 599 kasus baru Corona yang terjadi di Korsel, 377 di antaranya terjadi di Daegu. Rata-rata korban awal yang berasal dari Daegu adalah penganut Shincheonji yang baru pulang dari Cina. Kepolisian Daegu sampai menugaskan 600 personel untuk mendatangi satu per satu rumah pengikut Shincheonji dan meminta mereka untuk mengisolasi diri.

Usai meminta maaf kepada publik Korsel, Lee diminta untuk menutup seluruh tempat yang pernah dijadikan ruang ibadah komunitas. Sebanyak 1100 gedung telah ditutup sekaligus dibersihkan menggunakan cairan disinfektan oleh pengurus Shincheonji yang bekerja sama dengan otoritas setempat. Akan tetapi, klaim mengenai 1100 gedung tersebut karena belum tentu benar, sebab data lokasi tempat ibadah aliran Shincheonji ini juga tidak valid.

Dalam sebuah wawancara dengan radio lokal Korsel, TBS, Gubernur Gyeonggi, Lee Jae-myung, menyatakan bahwa di Gyeonggi ada 239 lokasi yang biasa dijadikan tempat ibadah. Namun, setelah diperiksa oleh pemerintah setempat, jumlah lokasi yang benar hanyalah 100. Sisanya alamat fiktif.

Jae-myung akhirnya membentuk tim untuk memastikan jumlah korban corona yang berasal dari komunitas Shincheonji. Timnya bekerja sama dengan 210 anggota sekte tersebut untuk menelepon 33000 pengikut aliran kepercayaan lain guna menanyakan kondisi kesehatan mereka. Kolaborasi tersebut mesti dilakukan karena pengikut Shincheonji dilarang menjawab telepon dari orang lain di luar anggota Shincheonji.

Selagi para polisi bekerja, sebagian warga Korsel membuat petisi berisi permintaan kepada pemerintah Korsel untuk membubarkan Shincheonji. Sampai berita ini ditulis, petisi tersebut ditandatangani 200.000 orang.


Hadir sebagai Jalan Keluar

Kabar mengenai aliran kepercayaan baru memang kerap muncul di Korsel. South China Morning Post (SCMP) mencatat beberapa di antaranya seperti Unification Church--didirikan pada 1954 oleh Sun Myung Moon, Evangelical Baptist Church of Korea--didirikan Yoo Byung-eun pada April 2014, Manmin Central Church--didirikan Lee Jae-rock pada 1982, dan Jesus Morning Star (JMS)-- didirikan Jung Myung-suk.

Berbagai kisah kontroversial pun turut menaungi aliran-aliran kepercayaan tersebut. Pengikut Byung-eun, misalnya, pernah diperiksa terkait aksi bunuh diri massal yang terjadi pada 1987. Lalu Jae-rock juga pernah dipenjara selama 15 tahun karena memperkosa delapan pengikut perempuan. Para pengikut itu dipaksa untuk memenuhi perintah Jae-rock karena dia adalah Tuhan.

Mung-suk, pendiri JMS, pernah ditahan selama 10 tahun karena terbukti melakukan kekerasan seksual. Salah satunya dengan berkata kepada korban bahwa mereka akan masuk surga bila berhubungan seks dengan dirinya, pendiri aliran kepercayaan.

Lee, selaku pendiri Shincheonji, memang belum pernah dikabarkan melakukan penyimpangan berarti. Tetapi kabar soal para pengikut yang putus kontak dari keluarga dan orang-orang yang mereka kenal, membuat aliran kepercayaan ini terus dipandang sebelah mata.


David Lee, jurnalis SCMP, mewawancarai salah satu pengikut aliran kepercayaan yang enggan disebut namanya. Ia bercerita bahwa pengikut JMS melakukan kegiatan evangelisasi lewat menghadiri aktivitas yang diselenggarakan di pusat kebudayaan.

Awalnya si pengikut tidak tahu bahwa orang yang tengah mendekatinya adalah anggota JMS. Pasalnya si "perekrut" memosisikan diri sebagai teman dekat: senantiasa peduli dengan kondisi si pengikut dan selalu ada ketika dibutuhkan pada saat-saat sulit. Hal ini kemudian membuat si pengikut rela menjauh dari keluarga dan teman-temannya, sebelum akhirnya jadi bagian dari JMS.

“Sebagian besar waktuku, kuhabiskan bersama mereka. Nilaiku di kampus turun juga karena terlalu banyak beraktivitas bersama mereka. Aku kabur dari rumah saat ibuku tahu aku jadi bagian dari kelompok ini,” kata pengikut tersebut seperti yang dikutip SCMP.

Para pengikut Shincheonji juga memiliki cara perekrutan serupa. Kisah dari sejumlah pengikutnya pun mirip-mirip dengan pengikut JMS itu.



Profesor studi religi dari Seoul National University, Sung Hae-young, menyatakan bahwa orang-orang tertarik untuk mengikuti aliran kepercayaan tertentu karena mereka menawarkan kebersamaan. “Tawaran itu datang pada saat tingkat bunuh diri di Korsel tinggi dan orang-orang seperti kecanduan bekerja dan belajar,” kata Sung kepada SCMP.

Seiring waktu, kaum muda Korsel--yang jadi target aliran kepercayaan-- mengalami tekanan-tekanan yang cukup berat. Tingkat pengangguran di negara tersebut terus meningkat. Kaum pekerja juga tidak mendapatkan upah yang memadai.

Menurut data dari OECD, penghasilan tahunan pekerja Korsel hanya setengah dari rata-rata upah orang AS yang mencapai 60 ribuan dolar. Penghasilan tersebut tidak sebanding dengan kebutuhan yang semakin meningkat, salah satunya perihal sewa akomodasi.

Dalam tiga tahun terakhir, para milenial Korsel semakin sulit mencari pekerjaan yang bisa membuat mereka kaya. Perusahaan-perusahaan besar seperti Samsung, misalnya, lebih suka merekrut orang-orang yang masih punya relasi dengan para pejabat perusahaan.

Hal tersebut membuat kaum muda ini putus harapan dan pesimistis bisa mendapat pekerjaan yang bagus, wabilkhusus mampu memiliki tempat tinggal yang nyaman seperti orang tua mereka.

Selain itu kultur kompetitif yang ada di negara tersebut juga membuat orang-orang muda ini merasa tertekan. Oleh karena itu, "kehangatan" yang ditawarkan oleh para pengikut aliran kepercayaan, dianggap sebagai salah satu jalan keluar dari rasa tertekan tersebut.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight