Seakurat Apa Film Contagion "Memprediksi" Wabah Virus Corona?

Trailer Film Contagion. Screnshoot/youtube/Movieclips Trailer.
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 9 Februari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Hollywood boleh memproduksi segudang film tentang wabah penyakit. Tapi mengapa Contagion dianggap yang paling akurat?
Segerombol kelelawar terbang saat pohon palem yang mereka tinggali diterjang traktor. Seekor di antaranya hinggap di pucuk pohon pisang. Ia kelaparan, lalu menggondol buah yang masih mentah untuk disantap sambil bergelantungan di plafon sebuah peternakan babi.

Sebagian ada yang jatuh ke lantai, dan langsung dimakan seekor babi muda. Keesokan harinya si babi dijual ke sebuah restoran kasino di Makau, Cina bagian Selatan.

Kepala koki sedang membersihkan mulut si babi saat ia diajak berfoto oleh turis Amerika Serikat, Beth Emhoff (Gwyneth Paltrow). Koki menyanggupinya tanpa terlebih dahulu mencuci tangan, padahal Beth menggenggam erat tangannya selama sesi foto.

Yang tidak mereka ketahui: kelelawar di awal cerita membawa virus mematikan yang menyebar melalui sentuhan bernama Meningoencephalitis Virus One (MEV-1). Beth meninggal tak lama setelah pulang ke di Mineapolis. Beberapa hari kemudian korban lain mulai berjatuhan.

Rangkaian adegan tersebut adalah penutup film Contagion (2011) sekaligus menjelaskan asal-usul wabah yang—menurut penulis skenario Scott Z. Burns—membunuh lebih dari 26 juta orang.

Angka di atas tentu saja hasil dramatisasi ala Hollywood. Namun, orang-orang dilaporkan menontonnya kembali karena terpengaruh mewabahnya virus Corona jenis baru sejak akhir tahun 2019. Namanya 2019-nCoV.

Hingga tulisan ini dibuat (6 Februari 2020) 2019-nCoV telah menginfeksi 24.000 orang dan membunuh 490 di antaranya. Korban terbanyak berasal dari Cina—negeri asal virus—dan total sudah menyebar di 27 negara.


Sementara itu IndieWire melaporkan pada akhir Januari hingga awal Februari 2020 penyewaan film Contagion di iTunes melesak ke posisi 10 besar di berbagai negara. Film juga ditayangkan ulang di berbagai saluran televisi kabel.

Hollywood punya rekam jejak panjang dalam produksi film bertemakan wabah penyakit. Namun, saat yang lain mengandalkan elemen drama, Contagion bersetia pada akurasi ilmiah tentang bagaimana dunia yang serba terkoneksi merespon kemunculan virus berbahaya.

Pujian datang dari komunitas ilmuwan tak lama setelah film dirilis. Dan dengan alasan yang sama, publik menganggap film seakan “memprediksi” wabah 2019-nCoV.

Kemiripannya tidak hanya perihal Cina sebagai negara asal virus. Misalnya dugaan bahwa virus pertama kali berasal dari kelelawar. Tim peneliti 2019-nCoV menelusuri kemungkinan virus berasal dari pasar di Wuhan yang menjual makanan laut dan hewan liar (termasuk kelelawar).

Kemudian soal alur penyebaran. Awalnya tim peneliti virus MEV-1 dan 2019-nCoV menduga penyebaran terjadi melalui binatang. Saat pasien bertambah dari golongan yang tidak mengonsumsi atau kontak langsung dengan binatang, kesimpulan berubah menjadi penyebaran antar manusia.

Situasinya mirip dengan penyebaran dua wabah penyakit yang juga berasal dari virus Corona: SARS (Severe Acute Respiratory Syndrom) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrom).

Keduanya pernah menginfeksi ribuan orang dari beberapa negara serta membunuh 1.600-an di antaranya. Menurut sutradara Steven Soderbergh karakteristik inilah yang menginspirasi tema Contagion.


Soderbergh menambahkan pada perkembangannya film tidak menjiplak utuh SARS atau MERS. Ia dan Burns justru menciptakan wabah penyakit baru, yakni kombinasi antara influenza dan virus Nipah yang menyebabkan peradangan pada otak dan penyakit pernapasan.

PBS kemudian menjalankan fact check terkait skenario film melalui wawancara bersama Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).

Hasilnya menyatakan kombinasi influenza dan virus Nipah mustahil terjadi di dunia nyata. Kombinasi itu ditengarai demi meningkatkan level teror penyakit sebab penularannya bahkan bisa terjadi tanpa kontak fisik langsung.

Meski demikian, virus Nipah adalah wabah penyakit sungguhan yang membunuh 105 orang di Malaysia pada 1999 dan 66 orang di India pada 2001 dan 2018.

Namanya merujuk pada desa Sungai Nipah di Malaysia. Jika di Malaysia dan Singapura penularan terjadi melalui kontak manusia dengan babi, di Bangladesh dan India penularan terjadi melalui konsumsi buah yang terkontaminasi air kencing atau ludah kelelawar.

CDC menyatakan perbedaan antara virus 2019-nCoV dan virus Nipah ialah virus Nipah tidak disebarkan antar manusia, sehingga kemungkinan untuk menjadi wabah skala global tergolong kecil. Persamaannya: hingga detik ini ilmuwan belum menemukan baik obat maupun vaksinnya.

PBS kemudian menguji perbandingan respons antara otoritas kesehatan dan pemerintahan dalam film dan kenyataan. Hasilnya kembali menunjukkan akurasi kerja Soderbergh dan kawan-kawan.


Misalnya, Contagion memberikan sorotan cukup besar pada Dr. Erin Mears (Kate Winslet) yang ditugaskan melacak kontak fisik pasien berikut aktivitas apa saja yang dilakukan pasca-terinfeksi.

“Prosedur padat karya yang dalam beberapa kasus rawan memunculkan pelanggaran privasi,” kata CDC. Tetapi proses tersebut tetap wajib dilaksanakan untuk mengukur seberapa masif penyebaran virus yang pada akhirnya memudahkan agenda pencegahan maupun penanggulangan.



CDC menambahkan prosedur yang sama sering dipakai selama penyelidikan epidemologi sungguhan. Skalanya luas: mulai dari penyakit menular seksual hingga penyakit yang ditularkan melalui makanan (pernah dilakukan pada awal tahun 2011 untuk melacak asal-usul wabah E.coli di Eropa).

Satu hal yang kurang akurat dari Contagion adalah penemuan vaksin virus yang dikembangkan dalam kurun waktu empat bulan.

CDC menggarisbawahi pengembangan vaksin untuk virus baru tidak mungkin secepat itu. “Vaksin flu saja, yang dikembangkan tiap tahun, membutuhkan waktu empat hingga enam bulan. Untuk ancaman baru, pembuatan vaksin amannya bisa lebih dari itu.”


Belum ada kepastian mengenai apa motivasi dari warga dunia yang menonton ulang Contagion. Sebagian ada yang memandang wabah penyakit serupa trending topic. Asal tidak jadi korban, orang membutuhkan eskapisme dalam bentuk produk budaya populer.

Ryan Gilbey dalam kolomnya untuk Guardian menengarai orang-orang memperlakukan Contagion dan segala akurasi ilmiahnya sebagai panduan tentang bagaimana menghadapi wabah penyakit jika benar-benar terjadi di sekitar mereka (how to).

“Atau setidaknya what to,” imbuhnya, yang berarti Contagion bisa dijadikan rujukan mengenai apa saja yang mesti atau diharapkan akan dilakukan oleh pemerintahan dan otoritas kesehatan saat virus mulai mewabah.

Penutup tulisan Gilbey terbaca seperti pengingat: industri perfilman memang dari dulu rajin mengkapitalisasi ketakutan primordial umat manusia. Tidak terkecuali dalam bentuk film yang digadang-gadang akurat secara ilmiah.

“Wabah penyakit di seluruh dunia adalah berita buruk bagi umat manusia, tapi semacam kabar baik bagi siapa saja yang bekerja di (berikut adalah film-film fiksi ilmiah bertemakan wabah penyakit) The Cassandra Crossing atau The Andromeda Strain, Carriers atau Contracted, dan yang agennya punya visi ke depan mengenai karier selebnya.”

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight