Menuju konten utama

Membaca Penyebaran Agresif Virus Corona

Virus Corona sudah menginfeksi 17 negara tetangga, namun Indonesia belum sampai pada tahap penanganan responsif.

Membaca Penyebaran Agresif Virus Corona
Seorang perawat menunjukan fasilitas pendukung ruangan isolasi untuk mengantisipasi virus corona di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP), Dr.M.Djamil, Padang, Sumatera Barat, Selasa (28/1/2020). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/aww.

tirto.id - Kendati sempat tersiar kabar virus Corona berasal dari Pasar Seafood Huanan, Wuhan, namun hingga saat ini belum ada bukti shahih sumber virus baru Corona ini.

Sebuah laporan ilmiah dari The Lancet yang ditulis sejumlah ilmuwan Tiongkok dari beberapa institusi memaparkan dalam kasus pertama virus Corona, pasien sakit pada 1 Desember 2019 dan tidak terhubung sama sekali dengan pasar seafood Huanan. “Tidak ada temuan hubungan antara kasus pertama dan kasus berikutnya,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.

Peneliti Tiongkok mengambil sampel dari 41 kasus pertama virus Corona dan 13 di antaranya tidak pernah melakukan kontak langsung dengan pasar Huanan. “Itu angka yang besar, 13, tanpa keterkaitan,” ujar Daniel Lucey, spesialis penyakit menular dari Georgetown University seperti dikutip sciencemag.org.

Lucey memperkirakan pasien pertama yang terinfeksi kemungkinan terjadi pada November 2019, jika tidak bisa lebih awal lagi, mengingat ada masa inkubasi antara waktu terinfeksi dengan penunjukkan gejala penyakit.

Jika demikian, virus itu sudah tersebar diam-diam di masyarkat Wuhan sebelum secara spesifik masuk ke Pasar Huanan dan menyebarkannya kembali.

“Tiongkok harus menyadari bahwa epidemi ini tidak bersumber dari Pasar Seafood Huanan, Wuhan,” ujar Lucey.

Indonesia Belum Sampai Tahap Responsif

Kendati ekskalasi virus Corona cukup cepat, namun pemerintah Indonesia masih belum menetapkan status darurat untuk wabah ini. Dokter Mariya Mubarika, Staf Khusus Menteri bidang SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan menyatakan saat ini Indonesia masih dalam fase preventif dan deteksi.

“Sehingga belum bisa bertindak responsif. Untuk penanggulangan wabah itu kan, ada regulasinya. Harus jelas kita berada di fase apa. Ada fase prevent, detect dan respond,” ujar dr. Mariya saat dihubungi reporter Tirto, Selasa (29/1/2020).

Mariya merujuk pada Inpres Nomor 4 tahun 2019 tentang penanganan wabah dan pandemik global dan International Health Regulation tahun 2005.

Dalam fase pencegahan (prevent), negara membentuk sebuah regulasi, undang-undang atau kebijakan apapun yang dapat mendukung implementasi tata kelola globah penanganan wabah. Misalnya saja di Indonesia saat ini sudah ada UU tentang wabah penyakit menular dan UU Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Sehingga nantinya sebuah negara diharapkan siap dalam menghadapi wabah baik secara proseduran dan finansial.

Kedua adalah fase deteksi (detect). Negara harus mendeteksi setidaknya tiga gejala utama yang mengindikasikan potensi kedaruratan kesehatan masyarakat berdasarkan standar internasional. Hal ini dilakukan dengan analisis rutin dan pelaporan data pengawasan secara berkala.

Ketiga, fase responsif (respond). Fase ini baru akan dilakukan jika suatu negara sudah terdampak sebuah wabah.

Hingga saat ini, kata Mariya, belum ada bukti bahwa Wuhan Coronavirus sudah masuk ke Indonesia. “Jadi kita masih di tahap prevent dan detect,” ujar Mariya.

Sehingga menurut Mariya, tak bisa disamakan penanganan di Indonesia dengan negara yang sudah terdampak virus Corona. Selain nantinya tidak sesuai prosedur, penanganan yang tidak sesuai dengan tahapannya tersebut akan menimbulkan kepanikan di masyarakat. “Jangan overreacting lah istilahnya, di sisi lain kami tetap waspada bukan meremehkan.”

Ia juga mengungkapkan kendati penyebaran virus Corona baru ini termasuk cepat namun case fatality rate atau tingkat kematiannya masih tergolong rendah. Per Selasa (28/1/2020), jumlah kematian akibat virus Corona di Tiongkok mencapai 106 jiwa.

Perkembangan terkini, mengutip New York Times, jumlah yang terdeteksi positif 2019-nCoV di Tiongkok sebanyak 4.515 jiwa dari angka sebelumnya 2.835 pada Senin (27/1/2020). Artinya, tingkat kematian masih sebesar 2,3 persen.

“Itupun yang meninggal biasanya sudah memiliki riwayat penyakit sebelumnya. Sehingga imunitasnya rendah,” kata Mariya.

Sementara itu, Thailand sudah melaporkan 14 kasus infeksi; Hong Kong dengan delapan kasus; Amerika Serikat, Taiwan, Australia dan Macau masing-masing lima kasus; Singapura, Korea Selatan dan Malaysia masing-masing dilaporkan empat kasus; Jepang dengan tujuh kasus; Perancis memiliki tiga kasus; Kanada dan Vietnam masing-masing dua kasus; serta Nepal, Kamboja dan Jerman yang sudah dilaporkan terdapat satu kasus. Belum ada temuan kasus meninggal dunia di luar Tiongkok.

Hampir seluruh negara-negara tersebut merupakan negara tetangga Indonesia. Jika dilihat dari angka pertumbuhan penyebarannya dalam sehari, maka ekskalasi penyebaran virus ini mencapai 60 persen.

Ekskalasi Penyebaran Luar Biasa

Dikutip dari ANTARA, faktor yang turut berkontribusi meluasnya wabah ini adalah soal waktu. Wabah ini, kata Deputi Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular China (CCDCP) Feng Zijian dalam salah satu wawancara khusus yang disiarkan CCTV, Senin (27-1-2020) malam, bermula pada awal Desember atau sebulan sebelum kepadatan arus mudik liburan Imlek, saat orang-orang di satu wilayah yang terinfeksi melakukan perjalanan ke berbagai penjuru sehingga mempercepat penyebaran penyakit itu.

Oleh sebab itu, lanjut dia, salah satu strategi untuk memudahkan pengendalian wabah tersebut adalah dengan memperpanjang masa libur Imlek.

Sebelumnya, pemerintah RRT menetapkan masa libur kerja Imlek pada tanggal 24—30 Januari 2020, kemudian dengan banyaknya korban yang terinfeksi virus 2019-nCoV itu, liburan kerja diperpanjang hingga 2 Februari 2020.

Sementara itu, liburan sekolah yang bertepatan dengan libur semester akhir yang seharusnya berakhir pada pertengahan Februari 2020, kemudian diperpanjang hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Lebih lanjut Feng mengatakan bahwa penularan antarmanusia lebih kuat sehingga jumlah kasus meningkat drastis, khususnya di Wuhan, Provinsi Hubei di wilayah tengah RRT.

Menurut Feng pola penularan antarmanusia nyaris sama dengan SARS yang mulai mewabah di RRT pada tahun 2002, yang berarti satu pasien rata-rata bisa menulari dua sampai tiga orang.

Ia menegaskan bahwa semua orang dari segala usia sangat rentan terkena gejala wabah yang disebabkan oleh virus yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disebut dengan 2019-nCoV itu.

Bahkan, dalam penelitian menunjukkan bahwa gejala wabah tersebut lebih kecil menimpa anak-anak ketimbang orang usia dewasa.

"Selama ini belum ada kasus kondisi kritis pada anak-anak," kata Feng menambahkan.

Lalu dia mengemukakan waktu ideal bagi orang yang baru pulang dari Provinsi Hubei, lokasi kota Wuhan, adalah selama 14 hari untuk menjalani karantina.

Waktu 14 hari adalah masa karantina yang dibutuhkan bagi orang yang baru bepergian dari Provinsi Hubei sebelum melakukan aktivitas sehari-hari di tempat umum. Bagi mereka yang berasal dari daerah lain, kata Feng, cukuplah hanya mengenakan masker di tempat kerja, rutin mengukur suhu tubuh dengan termometer, dan memeriksakan diri pada saat-saat yang tepat.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan lainnya dari Restu Diantina Putri

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Restu Diantina Putri